
Jejak Pengabdian Aipda Laode Moane: Ketika Seragam Polisi Menjadi Simbol Kepercayaan Masyarakat
D'On, PALU, SULAWESI TENGAH — Tidak semua polisi dikenang karena pangkat atau jabatan yang pernah disandang. Sebagian justru hidup dalam ingatan masyarakat karena ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang mereka tunjukkan saat menjalankan tugas.
Di Kepulauan Banggai, nama Aipda Laode Moane, S.H. menjadi salah satu sosok yang masih sering diperbincangkan warga. Bukan semata karena kemampuannya mengungkap kasus kriminal, melainkan karena pendekatan humanis yang membuat masyarakat merasa dekat dengan aparat penegak hukum.
Bagi sebagian warga, ia bukan hanya polisi yang bertugas menjaga keamanan. Ia adalah tempat mengadu ketika persoalan datang, penengah saat konflik terjadi, dan sosok yang hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
Meniti Jalan Pengabdian dari Banggai
Perjalanan karier Aipda Laode Moane dibangun melalui proses panjang di bidang Reserse Kriminal. Berbagai pengalaman lapangan membentuk karakter dan profesionalismenya dalam menangani beragam persoalan hukum yang dihadapi masyarakat.
Salah satu fase penting dalam pengabdiannya terjadi saat ia dipercaya menjabat sebagai Panit 1 Reserse Kriminal (Reskrim) Polsek Banggai, Polres Banggai Kepulauan. Posisi tersebut menuntut ketelitian, ketegasan, sekaligus kemampuan memahami dinamika sosial masyarakat setempat.
Dalam berbagai penanganan perkara, ia dikenal mengedepankan prinsip profesionalisme tanpa mengabaikan sisi kemanusiaan. Baginya, penegakan hukum tidak hanya soal mencari siapa yang salah, tetapi juga memastikan keadilan dapat dirasakan oleh seluruh pihak.
Prestasi yang Diakui Institusi
Dedikasi yang ditunjukkan Aipda Laode Moane tidak luput dari perhatian institusi.
Melalui Surat Keputusan Kapolres Banggai Kepulauan Nomor KEP/14/III/2021 tanggal 22 Maret 2021, ia menjadi salah satu dari enam personel yang menerima penghargaan atas keberhasilan dalam pengungkapan kasus peredaran narkotika.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kapolres Banggai Kepulauan saat itu, AKBP Reja A. Simanjuntak, S.H., S.I.K., M.H., dalam sebuah apel resmi.
Bagi sebagian orang, penghargaan mungkin hanya selembar piagam. Namun bagi seorang anggota Polri, penghargaan merupakan bentuk pengakuan atas kerja keras, loyalitas, dan tanggung jawab yang dijalankan di tengah berbagai risiko tugas.
Ketika Rumah Menjadi Tempat Mengadu
Yang membuat sosok Aipda Laode Moane berbeda bukan hanya catatan prestasinya.
Di tengah kesibukan sebagai anggota kepolisian, ia dikenal sebagai pribadi yang terbuka terhadap masyarakat. Tidak sedikit warga yang memilih datang langsung ke rumahnya untuk berkonsultasi atau menyampaikan keluhan.
Hubungan yang terbangun itu lahir bukan karena formalitas, melainkan karena kepercayaan.
"Tingkat kepercayaan masyarakat tumbuh karena kami selalu berusaha menjawab setiap keluhan dengan penuh rasa tanggung jawab, mengedepankan musyawarah dan pendekatan persuasif berdasarkan aturan hukum serta nilai-nilai kemanusiaan lokal," ujarnya.
Prinsip tersebut bukan sekadar ucapan.
Masyarakat masih mengingat salah satu peristiwa ketika ia membantu korban perkelahian dengan memberikan bantuan biaya dari kantong pribadinya. Ia juga berupaya mempertemukan pihak-pihak yang berselisih agar konflik tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Ketika sebagian warga ingin memberikan balasan atas bantuan tersebut, ia memilih menolaknya.
Sikap sederhana namun tulus itu meninggalkan kesan mendalam dan memperkuat hubungan emosional antara aparat kepolisian dan masyarakat.
Kepercayaan yang Terus Berlanjut
Pengalaman dan rekam jejak pengabdian yang dimiliki Aipda Laode Moane kembali mendapat pengakuan melalui Surat Perintah Kapolda Sulawesi Tengah Nomor Sprin/759/V/KEP./2025.
Dalam surat tersebut, ia mendapat penugasan Bawah Kendali Operasi (BKO) di Polres Banggai Kepulauan.
Bagi kalangan kepolisian, penugasan semacam itu bukan sekadar perpindahan tugas. Penugasan diberikan kepada personel yang dinilai memiliki kompetensi, pengalaman, serta kemampuan untuk mendukung pelaksanaan tugas di wilayah yang membutuhkan.
Kepercayaan yang terus diberikan menunjukkan bahwa dedikasi dan profesionalisme yang telah dibangun selama bertahun-tahun masih menjadi modal penting dalam pengabdiannya.
Wajah Humanis Bhayangkara
Di tengah tantangan tugas kepolisian yang semakin kompleks, masyarakat membutuhkan sosok aparat yang tidak hanya tegas dalam penegakan hukum, tetapi juga mampu hadir sebagai pelayan dan pelindung yang memahami kebutuhan warga.
Aipda Laode Moane menunjukkan bahwa kedua hal tersebut dapat berjalan beriringan.
Kariernya membuktikan bahwa keberhasilan seorang polisi tidak hanya diukur dari jumlah kasus yang berhasil diungkap, melainkan juga dari seberapa besar kepercayaan yang mampu ia bangun di tengah masyarakat.
Di balik seragam yang dikenakannya, tersimpan komitmen untuk terus mengabdi dengan menjunjung profesionalitas, integritas, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sebuah pengabdian yang mungkin tidak selalu menjadi sorotan, tetapi meninggalkan jejak yang nyata di hati masyarakat.
Karena pada akhirnya, kepercayaan adalah penghargaan tertinggi yang dapat diraih oleh seorang Bhayangkara.
(*)
#Polri