
elaksana Tugas (Plt) Kepala Kanwil Kemenhaj Sumbar M. Rifki saat diwawancarai di Kota Padang, Senin (2/3/2026). (Foto: Antara/Muhammad Zulfikar)
D'On, PADANG — Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran menimbulkan kekhawatiran baru bagi ribuan jemaah umrah asal Sumatera Barat. Sedikitnya 2.500 orang jemaah tercatat masih berada di Arab Saudi, dan berpotensi terdampak jika situasi keamanan dan penerbangan internasional terganggu.
Pelaksana Tugas Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Sumatera Barat, M. Rifki, mengungkapkan bahwa seluruh jemaah dalam kondisi aman dan masih berada di bawah tanggungan biro perjalanan masing-masing.
“Untuk saat ini, kondisi jemaah aman. Akomodasi dan konsumsi mereka masih dijamin sesuai paket yang diambil,” ujarnya saat ditemui di kompleks Asrama Haji Padang, Senin (2/3/2026).
Ribuan Jemaah Terbagi dalam Dua Skema Keberangkatan
Rifki menjelaskan, dari total 2.500 jemaah tersebut, sekitar 1.000 orang merupakan jemaah reguler yang diberangkatkan secara bertahap setiap pekan. Sementara 1.500 lainnya adalah jemaah yang memilih paket khusus Ramadhan selama 45 hari penuh.
Jemaah reguler dijadwalkan kembali ke Indonesia pada 5 Maret 2026. Adapun jemaah paket penuh Ramadhan direncanakan pulang pada 23 Maret 2026.
Hingga kini, belum ada pemberitahuan resmi dari maskapai maupun otoritas penerbangan terkait pembatalan atau penundaan jadwal. Namun, pihaknya mengakui situasi dapat berubah sewaktu-waktu seiring eskalasi konflik.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pimpinan travel umrah. Sampai hari ini belum ada pembatalan. Tetapi dengan kondisi geopolitik yang terus berkembang, tentu ada potensi dampak terhadap jadwal penerbangan,” jelas Rifki.
Antisipasi Jika Jalur Udara Terganggu
Konflik bersenjata yang melibatkan kekuatan besar dunia berpotensi memengaruhi jalur udara internasional, khususnya rute-rute yang melintasi kawasan Timur Tengah. Jika eskalasi meningkat, pembatasan wilayah udara atau pengalihan rute penerbangan bukan hal yang mustahil.
Meski demikian, Rifki menegaskan bahwa perlindungan terhadap jemaah menjadi prioritas. Jika terjadi kendala kepulangan, penanganan akan dikoordinasikan antara Kantor Urusan Haji di Arab Saudi dan perwakilan pemerintah Indonesia di sana.
“Apabila ada jemaah yang tertahan atau mengalami hambatan, Kementerian Haji dan Umrah di Arab Saudi melalui Kantor Urusan Haji akan turun tangan. Konsulat Jenderal Republik Indonesia juga siap memberikan perlindungan,” tegasnya.
Kekhawatiran Menjelang Musim Haji
Situasi ini bukan hanya berdampak pada umrah Ramadhan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran menjelang musim haji yang tinggal beberapa bulan lagi. Sumatera Barat dikenal sebagai salah satu daerah dengan jumlah calon jemaah haji yang besar setiap tahunnya.
Jika konflik berkepanjangan dan memicu instabilitas regional, bukan tidak mungkin persiapan dan pelaksanaan ibadah haji ikut terdampak, baik dari sisi transportasi, keamanan, maupun kebijakan kuota.
“Kami tentu berharap situasi politik dan keamanan di kawasan tersebut segera membaik. Yang kami khawatirkan bukan hanya umrah saat ini, tetapi juga persiapan haji dalam waktu dekat,” kata Rifki.
Imbauan untuk Jemaah dan Keluarga
Pemerintah daerah mengimbau keluarga jemaah di Sumatera Barat untuk tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi. Komunikasi antara jemaah dan keluarga diharapkan tetap berjalan, sembari menunggu perkembangan resmi dari otoritas terkait.
Sementara itu, jemaah yang berada di Tanah Suci diminta meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan petugas, dan tidak melakukan aktivitas di luar agenda ibadah tanpa koordinasi dengan pembimbing.
Di tengah ketidakpastian global, harapan terbesar kini tertuju pada stabilitas kawasan Timur Tengah agar ribuan tamu Allah dari Ranah Minang dapat kembali ke tanah air dengan selamat dan tepat waktu.
(Mond)
#Umroh #KemenagSumbar