D'On, Amerika Serikat - Pernyataan mengejutkan kembali dilontarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, hanya dua hari setelah operasi militer gabungan AS–Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam percakapan telepon dengan jurnalis senior Jonathan Karl dari ABC News, Trump secara terang-terangan mengisyaratkan motif pribadinya di balik operasi tersebut.
“Saya berhasil mengalahkannya sebelum dia mengalahkan saya. Mereka mencoba dua kali. Nah, saya menghabisinya duluan,” ujar Trump, mengacu pada dugaan rencana Iran pada 2024 untuk membunuhnya.
Pernyataan itu mempertegas bahwa keputusan menyerang bukan semata kalkulasi geopolitik, melainkan juga dilandasi ancaman langsung terhadap dirinya. Trump menyinggung laporan intelijen AS yang menyebut adanya rencana pembunuhan terhadap dirinya yang diduga dirancang oleh pihak Iran.
“Semua Kandidat Sudah Mati”
Jonathan Karl mengungkapkan, dalam percakapan tersebut ia sempat menanyakan siapa yang akan mengambil alih kepemimpinan Iran pasca tewasnya Khamenei. Jawaban Trump dinilai mencengangkan.
“Dia mengatakan serangan itu sangat sukses sehingga menyingkirkan sebagian besar kandidat,” kata Karl dalam video yang diunggah di platform X.
“Dia memberi tahu saya bahwa itu bukan siapa pun yang kami pikirkan, karena mereka semua sudah mati.”
Ucapan itu memperlihatkan skala operasi yang disebut Trump sebagai “sangat sukses” namun sekaligus berpotensi memperdalam kekosongan kekuasaan dan ketidakstabilan di Iran.
“Ini Perang”
Saat ditanya soal tiga korban jiwa dari pihak Amerika dalam operasi tersebut, Trump menjawab dingin, “Ini perang, dan pasti ada korban jiwa dalam perang.”
Pernyataan tersebut memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan yang menilai respons itu minim empati. Namun bagi pendukungnya, Trump dinilai konsisten dengan doktrin keamanan kerasnya: menyerang sebelum diserang.
Eskalasi Berbahaya
Serangan yang menewaskan Khamenei menandai babak baru konflik terbuka antara Washington dan Teheran. Jika sebelumnya ketegangan berlangsung dalam bentuk sanksi, perang proksi, dan operasi bayangan, kini situasi telah berubah menjadi konfrontasi langsung tingkat tinggi.
Pengamat menilai, pengakuan Trump tentang motif pribadi bisa memperumit posisi diplomatik AS di mata dunia. Jika benar serangan itu didorong faktor balas dendam atau pencegahan personal, maka implikasinya bukan hanya militer, tetapi juga hukum internasional dan legitimasi politik global.
Di tengah ketidakpastian suksesi di Teheran dan ancaman balasan dari faksi-faksi keras Iran, dunia kini menahan napas. Pernyataan Trump yang frontal bukan hanya mempertegas sikapnya tetapi juga mengirim sinyal bahwa konflik ini jauh dari kata selesai.
(TN)
#Internasional #DonaldTrump #AmerikaSerikat
