Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dari Jeruji ke Kursi Kabinet: Kebangkitan Jumhur Hidayat di Panggung Kekuasaan Prabowo Subianto

29 April 2026 | April 29, 2026 WIB Last Updated 2026-04-29T04:50:40Z

Dari Jeruji ke Kursi Kabinet: Kebangkitan Jumhur Hidayat di Panggung Kekuasaan Prabowo Subianto



D'On, JAKARTA Politik Indonesia kembali menghadirkan kisah yang tak biasa. Sosok yang dulu dikenal sebagai pengkritik keras pemerintah, bahkan sempat merasakan dinginnya jeruji tahanan, kini justru berdiri di jantung kekuasaan. Dialah Jumhur Hidayat, yang resmi dipercaya menjadi menteri dalam kabinet Presiden Prabowo Subianto.


Penunjukan ini bukan sekadar rotasi jabatan atau pembagian kursi kekuasaan. Ini adalah simbol perubahan arah politik tentang rekonsiliasi, keberanian merangkul perbedaan, dan pengakuan terhadap konsistensi perjuangan.


Aktivis Jalanan, Kini Pengambil Kebijakan


Nama Jumhur bukanlah wajah baru di panggung publik. Ia dikenal luas sebagai aktivis yang vokal menyuarakan hak-hak buruh dan keadilan sosial. Pengalamannya sebagai Kepala BNP2TKI (kini BP2MI) mempertegas reputasinya sebagai figur yang memahami persoalan tenaga kerja dari hulu hingga hilir.


Namun, kiprahnya mencapai titik paling kontroversial saat era Presiden Joko Widodo. Saat itu, Jumhur terseret kasus hukum terkait penyampaian pendapat di muka umum sebuah peristiwa yang memicu polemik nasional tentang kebebasan berekspresi.


Alih-alih tenggelam, peristiwa tersebut justru menguatkan citranya sebagai sosok yang tak mudah diam. Setelah bebas, ia kembali ke ruang publik dengan suara yang tetap lantang membela pekerja, mengkritisi kebijakan, dan mengawal isu ekonomi kerakyatan.


Dari Oposisi ke Lingkar Kekuasaan


Masuknya Jumhur ke kabinet Prabowo Subianto menjadi sinyal kuat bahwa peta politik Indonesia terus bergerak dinamis. Batas antara “lawan” dan “kawan” kian mencair, digantikan oleh semangat kolaborasi.


Langkah ini juga dibaca sebagai strategi cerdas: menghadirkan figur dengan rekam jejak aktivisme untuk memperkuat legitimasi kebijakan yang pro-rakyat. Pemerintahan baru tampak ingin menunjukkan bahwa kritik tidak selalu berujung pada marginalisasi justru bisa bertransformasi menjadi bagian dari solusi.


Harapan di Pundak Sang Aktivis


Kini, sorotan publik tertuju pada langkah konkret yang akan diambil Jumhur. Ekspektasi tinggi mengiringinya: mampukah ia menerjemahkan idealisme menjadi kebijakan nyata?


Bagi kalangan pekerja, kehadirannya di kabinet ibarat secercah harapan bahwa suara mereka benar-benar terwakili di meja pengambilan keputusan. Namun di sisi lain, tantangan besar menanti: menjaga integritas, menjembatani kepentingan, dan membuktikan bahwa aktivis juga mampu menjadi administrator yang efektif.


Cermin Demokrasi yang Terus Bergerak


Perjalanan Jumhur Hidayat adalah refleksi dari wajah demokrasi Indonesia: penuh dinamika, konflik, sekaligus peluang rekonsiliasi. Dari jalanan ke istana, dari kritik ke kebijakan semua terjadi dalam satu garis waktu yang tak terduga.


Kini, satu pertanyaan besar menggantung di benak publik:
apakah kisah ini akan menjadi awal perubahan nyata bagi rakyat, atau sekadar episode lain dalam panggung politik nasional?


Yang jelas, satu babak baru telah dimulai dan seluruh mata tertuju ke arah yang sama.


(Mond)


#Nasional 

×
Berita Terbaru Update