
MTQ ke-42 Kota Padang: 33 Peserta Adu Kemampuan Qiraat Muratal, Tajwid hingga Irama Jadi Penentu
D'On, Padang - Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-42 tingkat Kota Padang tidak sekadar menjadi ajang perlombaan membaca Al-Qur’an, tetapi juga ruang untuk memperdalam pemahaman terhadap keragaman bacaan Al-Qur’an sesuai kaidah qiraat. Hal itu terlihat dalam perlombaan cabang Qiraat Muratal tingkat remaja dan dewasa yang digelar di Masjid Al-Hijrah, Dadok, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
Sebanyak 33 peserta dari berbagai kecamatan di Kota Padang mengikuti cabang perlombaan tersebut. Rinciannya, 14 peserta tingkat remaja dan 19 peserta tingkat dewasa, yang terdiri atas putra dan putri.
Para peserta tidak hanya dituntut mampu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga harus memahami ketentuan bacaan berdasarkan riwayat qiraat yang diperlombakan. Ketepatan menerapkan kaidah tajwid, kefasihan melafalkan huruf, adab membaca, hingga penguasaan irama menjadi unsur penting dalam penilaian dewan hakim.
Cabang Qiraat Muratal memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan perlombaan tilawah pada umumnya. Selain memperhatikan keindahan bacaan, peserta dituntut menunjukkan ketelitian dalam menerapkan kaidah bacaan sesuai imam dan riwayat yang menjadi materi perlombaan.
Ketua Dewan Hakim Qiraat Muratal MTQ ke-42 Kota Padang, H. Adrizal, menjelaskan bahwa cabang ini memperkenalkan variasi bacaan Al-Qur’an berdasarkan tiga imam qiraat beserta riwayat masing-masing.
“Cabang Qiraat Muratal memperkenalkan variasi bacaan Al-Qur’an berdasarkan tiga imam qiraat, yakni Imam Nafi’, Imam Ibnu Katsir, dan Imam Abu Amr, beserta riwayat masing-masing. Penilaian dilakukan berdasarkan aspek tajwid, fashahah, adab, serta irama atau lagu,” jelas H. Adrizal.
Menurutnya, pemahaman terhadap kaidah qiraat menjadi bagian penting yang harus dikuasai peserta. Pasalnya, setiap riwayat memiliki ketentuan bacaan yang perlu diterapkan secara tepat, sehingga peserta tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan menghafal atau keindahan suara.
Mengenal Tiga Imam Qiraat yang Diperlombakan
Salah satu aspek yang membuat cabang Qiraat Muratal menarik adalah materi perlombaan yang mencakup tiga imam qiraat, yaitu Imam Nafi’, Imam Ibnu Katsir, dan Imam Abu Amr.
Dari Imam Nafi’, peserta diperkenalkan pada riwayat Qalun dan Warsy. Sementara itu, dari Imam Ibnu Katsir terdapat riwayat Al-Bazzi dan Qunbul. Adapun dari Imam Abu Amr, materi mencakup riwayat Ad-Duri dan As-Susi.
Keragaman tersebut menunjukkan bahwa tradisi membaca Al-Qur’an memiliki disiplin keilmuan yang diwariskan melalui jalur periwayatan yang diakui. Setiap riwayat memiliki kaidah yang harus dipahami dan diterapkan secara cermat.
Dalam konteks perlombaan, penguasaan materi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi peserta. Mereka dituntut mampu menjaga ketepatan bacaan sekaligus memperlihatkan kefasihan dan penghayatan terhadap ayat-ayat yang dilantunkan.
Karena itu, cabang Qiraat Muratal bukan hanya menguji keterampilan vokal, melainkan juga kedalaman pemahaman terhadap ilmu membaca Al-Qur’an.
Tajwid, Fashahah, Adab, dan Irama Jadi Penentu
Ketua Dewan Hakim H. Adrizal menyebutkan bahwa penilaian peserta mencakup sejumlah aspek yang saling berkaitan.
Pertama, tajwid, terutama ketepatan penerapan kaidah usuliah yang berkaitan dengan perbedaan riwayat. Aspek ini menuntut peserta memahami aturan bacaan sesuai jalur periwayatan yang digunakan.
Kedua, fashahah dan adab. Penilaian ini mencakup ketepatan pelafalan huruf atau makhraj, kefasihan membaca, serta tata krama ketika melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Ketiga, irama atau lagu, yakni kemampuan peserta menyajikan bacaan dengan irama yang sesuai tanpa mengabaikan ketepatan tajwid dan kaidah qiraat.
Ketiga aspek tersebut menjadi unsur penting dalam menentukan kualitas penampilan peserta. Bacaan yang terdengar merdu perlu tetap diiringi ketepatan pelafalan, penerapan kaidah, dan sikap yang mencerminkan penghormatan terhadap kitab suci.
Dengan sistem penilaian tersebut, peserta didorong untuk menampilkan bacaan yang tidak hanya indah didengar, tetapi juga benar menurut kaidah yang diperlombakan.
Jadwal Perlombaan Berlangsung Tiga Hari
Panitera Qiraat Muratal MTQ ke-42 Kota Padang, Humaira Lubis, menjelaskan bahwa perlombaan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 11 hingga 13 Oktober 2026.
“Pelaksanaan pada 11 Oktober diperuntukkan bagi tingkat remaja, sedangkan 12 Oktober difokuskan pada kategori dewasa. Sementara itu, babak final dijadwalkan berlangsung pada 13 Oktober,” ujar Humaira Lubis.
Berdasarkan jadwal tersebut, peserta tingkat remaja memperoleh kesempatan menunjukkan kemampuan mereka pada 11 Oktober, disusul peserta kategori dewasa pada 12 Oktober. Selanjutnya, babak final pada 13 Oktober menjadi tahapan penentuan bagi peserta yang berhasil melaju ke putaran akhir.
Rangkaian perlombaan ini memberikan kesempatan bagi para peserta dari kecamatan se-Kota Padang untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mengukur penguasaan mereka terhadap ilmu qiraat.
Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan tersebut juga menjadi sarana pembelajaran bagi peserta dan masyarakat untuk mengenal lebih jauh tradisi keilmuan Al-Qur’an, khususnya mengenai keragaman bacaan yang memiliki landasan dalam ilmu qiraat.
Membumikan Al-Qur’an melalui Penguatan Smart Surau
MTQ ke-42 tingkat Kota Padang mengusung tema “Membumikan Al-Qur'an, Menguatkan Smart Surau Menuju Padang Maju dan Sejahtera.”
Tema tersebut menempatkan Al-Qur’an sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat, bukan semata-mata sebagai bacaan yang dilombakan dalam kegiatan keagamaan.
Melalui cabang Qiraat Muratal, nilai tersebut diharapkan dapat diwujudkan dengan memperluas pemahaman masyarakat mengenai ilmu membaca Al-Qur’an, menumbuhkan kecintaan terhadap kitab suci, serta mendorong generasi muda untuk mempelajari dan mengamalkan ajarannya.
Penguatan Smart Surau juga menjadi bagian dari semangat membangun kehidupan keagamaan yang lebih dekat dengan masyarakat. Surau diharapkan terus menjadi ruang pembelajaran, pembinaan karakter, dan pengembangan pengetahuan keislaman bagi berbagai kelompok usia.
Dalam konteks ini, MTQ memiliki peran lebih luas daripada sekadar mencari peserta terbaik. Kegiatan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat tradisi belajar Al-Qur’an, mendorong lahirnya generasi yang memahami kaidah bacaannya, serta menumbuhkan kesadaran bahwa ilmu Al-Qur’an perlu dipelajari secara berkelanjutan.
Cabang Qiraat Muratal secara khusus memberikan ruang bagi generasi remaja dan dewasa untuk mendalami keragaman bacaan Al-Qur’an dengan tetap berpedoman pada kaidah yang benar.
Lebih dari Sekadar Kompetisi
Keikutsertaan 33 peserta dalam cabang Qiraat Muratal memperlihatkan adanya ruang kompetisi sekaligus pembelajaran dalam pelaksanaan MTQ ke-42 Kota Padang.
Tantangan peserta tidak berhenti pada kemampuan melafalkan ayat dengan fasih. Mereka juga harus menunjukkan pemahaman terhadap kaidah qiraat, ketelitian menerapkan tajwid, serta kemampuan memadukan ketepatan bacaan dengan irama yang baik.
Pada akhirnya, keberhasilan cabang ini tidak hanya diukur dari siapa yang meraih nilai tertinggi, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu memperkuat kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an.
Melalui perlombaan yang berlangsung hingga babak final pada 13 Oktober 2026, MTQ ke-42 Kota Padang diharapkan menjadi momentum untuk memperluas pemahaman tentang ilmu qiraat sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam menjaga tradisi membaca dan mempelajari Al-Qur’an.
Semangat inilah yang menjadi inti dari upaya membumikan Al-Qur’an: menghadirkan kitab suci tidak hanya dalam lantunan yang indah, tetapi juga dalam pengetahuan, adab, dan pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
(Mond)
#Padang #Daerah #MTQ