.jpg)
Tekan Stunting dari Hulu, Puskesmas Anak Air Perkuat Intervensi hingga ke Rumah Warga
D'On, Padang — Upaya menekan angka stunting di Kota Padang terus diperkuat hingga tingkat pelayanan kesehatan paling dekat dengan masyarakat. Di wilayah kerja Puskesmas Anak Air, Kecamatan Koto Tangah, penanganan stunting dilakukan secara komprehensif, bukan hanya menyasar anak yang telah mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi juga dimulai sejak masa kehamilan.
Hingga Juli 2026, tercatat 179 kasus anak mengalami stunting di wilayah kerja Puskesmas Anak Air. Dari jumlah tersebut, 37 anak dengan kondisi kompleks telah mendapatkan rujukan langsung ke rumah sakit daerah maupun klinik untuk memperoleh penanganan lanjutan dari dokter spesialis.
Sementara anak lainnya mendapatkan intervensi gizi secara intensif, termasuk asuhan gizi, pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI), serta Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal yang disesuaikan dengan kebutuhan sasaran.
Kepala Puskesmas Anak Air, Marta Nofa, mengatakan penanganan stunting tidak boleh dilakukan ketika anak sudah mengalami masalah pertumbuhan. Menurutnya, intervensi harus dimulai sedini mungkin, bahkan sejak seorang perempuan memasuki masa kehamilan.
“Kami berusaha untuk mengintervensi dari hulunya, yaitu dari ibu hamil. Melalui inovasi Balek Lancah yang terus kami kembangkan, kami melibatkan seluruh keluarga dan masyarakat, termasuk suami, guna memastikan kesehatan ibu dan janin terkontrol dengan baik hingga proses persalinan,” ujar Marta saat ditemui di Puskesmas Anak Air, Senin (31/8/2026).
Intervensi Dimulai Sejak Kehamilan
Menurut Marta, ibu hamil menjadi salah satu titik penting dalam upaya pencegahan stunting. Puskesmas secara aktif melakukan pendampingan terhadap ibu hamil yang mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) maupun anemia.
Pendampingan tersebut dilakukan agar kondisi kesehatan ibu dapat dipantau secara berkala sekaligus memastikan pertumbuhan dan perkembangan janin berlangsung optimal.
Pendekatan dari hulu tersebut menjadi bagian penting dari strategi Puskesmas Anak Air dalam memutus mata rantai stunting. Sebab, persoalan pertumbuhan anak tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan erat dengan kondisi kesehatan ibu, asupan gizi, pola pengasuhan, hingga lingkungan keluarga.
Puskesmas juga memberikan perhatian khusus terhadap karakteristik wilayah kerja yang berada di kawasan dengan tingkat mobilitas penduduk cukup tinggi.
Banyaknya warga pendatang serta masih ditemukannya ibu hamil usia muda menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan seluruh sasaran memperoleh pelayanan kesehatan secara berkesinambungan.
“Tantangan wilayah perlintasan dengan mobilitas warga yang tinggi serta banyaknya ibu hamil usia muda tentu menyimpan kerentanan tersendiri. Namun, berkat sinergi lintas sektor yang solid, pengawasan ketat, serta garda terdepan kader Posyandu, budaya persalinan di rumah kini sepenuhnya telah beralih ke persalinan medis yang aman,” kata Marta.
Kader Posyandu Jadi Garda Terdepan
Dalam penanganan stunting, Puskesmas Anak Air tidak bekerja sendirian. Kader Posyandu menjadi salah satu ujung tombak yang berhadapan langsung dengan masyarakat.
Para kader memiliki peran penting dalam melakukan pemantauan pertumbuhan anak, mendeteksi lebih awal balita yang mengalami berat badan kurang atau berisiko stunting, sekaligus mengarahkan keluarga untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut di puskesmas.
Model pelayanan tersebut membuat intervensi dapat dilakukan lebih cepat. Anak yang terindikasi mengalami persoalan pertumbuhan tidak dibiarkan menunggu sampai kondisinya semakin berat.
Setelah ditemukan oleh kader, anak dapat segera mendapatkan pemeriksaan dan penilaian oleh tenaga kesehatan untuk menentukan bentuk intervensi yang paling sesuai.
PMT Tak Sekadar Dibagikan, Diantar hingga ke Rumah
Salah satu bentuk intervensi yang dilakukan Puskesmas Anak Air adalah program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal.
Program tersebut bersumber dari Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Kementerian Kesehatan dan dikelola oleh tenaga gizi puskesmas dengan melibatkan mitra lokal.
Menariknya, makanan bernutrisi yang diberikan kepada sasaran tidak sekadar dibagikan di fasilitas pelayanan kesehatan. Para kader Posyandu turut mengantarkan makanan tersebut secara langsung ke rumah-rumah penerima manfaat setiap hari selama masa program.
Pola ini sekaligus memungkinkan kader dan tenaga kesehatan melakukan pemantauan terhadap kondisi anak dan keluarga secara lebih dekat.
Dengan demikian, intervensi tidak berhenti pada pemberian makanan, tetapi juga diarahkan untuk memastikan makanan tersebut diterima dan dimanfaatkan oleh anak yang menjadi sasaran program.
Pola Asuh Masih Menjadi Tantangan
Di tengah berbagai intervensi tersebut, Puskesmas Anak Air mengakui masih terdapat tantangan yang harus dihadapi bersama, terutama terkait pola asuh dan kebiasaan pemberian makanan kepada anak.
Orang tua yang bekerja terkadang harus menitipkan anak kepada anggota keluarga lain atau pengasuh. Dalam kondisi tertentu, anak justru mendapatkan makanan selingan yang kurang bernutrisi.
Kebiasaan tersebut dapat membuat anak kehilangan selera makan terhadap makanan utama yang memiliki kandungan gizi lebih baik.
Karena itu, edukasi kepada keluarga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penanganan stunting. Orang tua maupun pengasuh perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai kebutuhan gizi anak, pola makan, kebersihan, serta pentingnya pemantauan pertumbuhan secara rutin.
Kasus Kompleks Dirujuk, Puskesmas Kawal hingga Selesai
Dari 179 kasus stunting yang tercatat hingga Juli, sebanyak 37 anak dengan kondisi kompleks telah mendapatkan rujukan untuk memperoleh pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Namun bagi Puskesmas Anak Air, rujukan bukan berarti pelayanan berhenti di puskesmas.
Pengalaman tersebut dirasakan langsung oleh Afreni Erita, salah seorang warga yang memiliki balita stunting.
Ia mengaku mendapatkan pelayanan yang sangat baik dan responsif dari Puskesmas Anak Air. Tidak hanya membantu proses rujukan, petugas kesehatan juga memberikan pendampingan selama anak menjalani pengobatan.
“Kami mendapatkan pelayanan yang sangat baik dari Puskesmas Anak Air. Anak kami dibantu dan dirujuk ke klinik spesialis anak. Petugas medis menjemput, mendampingi proses pengobatan sampai selesai, hingga diantar kembali ke rumah. Selama masa pemulihan, perhatian dan pemantauan dari puskesmas terus berjalan,” ujar Afreni.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendekatan penanganan stunting tidak semata-mata berorientasi pada angka dan data, tetapi juga menghadirkan pelayanan yang menyentuh langsung kebutuhan keluarga.
Fasilitas Kesehatan Terus Diperkuat
Upaya penanganan stunting juga didukung dengan semakin lengkapnya fasilitas pelayanan di Puskesmas Anak Air.
Puskesmas kini memiliki laboratorium terpadu, layanan USG, serta dukungan dokter dan bidan yang terlatih. Fasilitas tersebut memungkinkan pemeriksaan dan pemantauan kesehatan ibu maupun anak dilakukan secara lebih optimal.
Ketersediaan fasilitas di tingkat puskesmas juga diharapkan dapat membuat masyarakat semakin mudah mengakses layanan kesehatan tanpa harus menunggu kondisi menjadi lebih berat.
Bagi pemerintah, penguatan layanan kesehatan tingkat pertama merupakan bagian penting dari upaya menciptakan sistem pencegahan dan penanganan stunting yang berkelanjutan.
Membangun Generasi Sehat dari Keluarga
Penanganan stunting pada akhirnya bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Keluarga, kader Posyandu, lingkungan masyarakat, hingga lintas sektor memiliki peran yang saling berkaitan.
Puskesmas Anak Air berupaya membangun pola penanganan yang menyeluruh: mencegah sejak masa kehamilan, mendeteksi risiko sedini mungkin, memberikan intervensi gizi, melakukan rujukan bagi kasus yang membutuhkan dokter spesialis, serta memastikan pemantauan tetap berjalan setelah anak kembali ke rumah.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena keberhasilan penanganan stunting tidak cukup diukur dari seberapa banyak makanan tambahan yang diberikan atau berapa banyak anak yang dirujuk. Lebih jauh, keberhasilan ditentukan oleh perubahan kondisi kesehatan anak dan keluarga secara berkelanjutan.
Melalui penguatan Posyandu, pendampingan ibu hamil, edukasi keluarga, intervensi gizi dan pelayanan kesehatan yang responsif, Puskesmas Anak Air terus berupaya memastikan setiap anak memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.
Pemerintah Kota Padang pun mengajak masyarakat, terutama ibu hamil dan keluarga yang memiliki balita, untuk tidak menunggu sampai muncul persoalan kesehatan.
Rutin datang ke Posyandu, memantau pertumbuhan anak, memeriksakan kehamilan, memenuhi kebutuhan gizi, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi langkah sederhana yang dapat menentukan masa depan generasi berikutnya.
Sebab, mencegah stunting bukan sekadar mengejar penurunan angka kasus, tetapi merupakan investasi panjang untuk melahirkan generasi Kota Padang yang sehat, cerdas, dan memiliki masa depan yang lebih baik.
(Mond)
#Padang #Stunting #Daerah