Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menantu Amin Rais Ridho Rahmadi Tinggalkan Kursi Ketum Partai Ummat, Sekjen Juga Ikut Mundur

02 September 2026 | September 02, 2026 WIB Last Updated 2026-09-02T10:20:33Z

Menantu Amin Rais Ridho Rahmadi Tinggalkan Kursi Ketum Partai Ummat, Sekjen  Juga Ikut Mundur



D'On, Jakarta — Peta kepemimpinan Partai Ummat kembali berubah. Ridho Rahmadi, Ketua Umum DPP Partai Ummat sekaligus menantu tokoh politik Amien Rais, memilih melepaskan jabatan yang selama ini diembannya.


Keputusan tersebut menandai babak baru perjalanan Partai Ummat. Bukan karena konflik internal atau perbedaan pandangan politik, Ridho menyatakan mundur lantaran kesulitan membagi waktu antara mengelola partai dan menjalankan tanggung jawabnya sebagai Direktur Politeknik AI di Yogyakarta.


Pengunduran diri Ridho telah diterima Majelis Syura Partai Ummat dalam Musyawarah Majelis Syura ke-8 pada Rabu, 26 Agustus 2026.


Informasi mengenai perubahan pucuk pimpinan tersebut disampaikan Sekretaris Majelis Syura Partai Ummat, Ansufri Idrus Sambo, dalam keterangan tertulis pada Rabu (2/9/2026).


Menurut Sambo, selama sekitar satu tahun terakhir Ridho harus menjalani rutinitas antara Yogyakarta dan Jakarta untuk menjalankan dua tanggung jawab besar tersebut.

 

“Alasan utama Mas Ridho Rahmadi mundur adalah karena beliau kesulitan untuk membagi waktu, pikiran, dan tenaga antara Partai Ummat dan posisi beliau sebagai Direktur Politeknik AI di Jogja,” kata Sambo.


Dua Jabatan, Dua Tuntutan Besar


Posisi Ketua Umum DPP Partai Ummat dan Direktur Politeknik AI sama-sama menuntut perhatian penuh.


Sebagai ketua umum, Ridho memiliki tanggung jawab terhadap jalannya organisasi partai secara nasional. Sementara sebagai direktur perguruan tinggi yang bergerak di bidang kecerdasan buatan, ia juga dituntut memberikan perhatian terhadap tugas dan tanggung jawabnya di Yogyakarta.


Dalam praktiknya, dua tanggung jawab tersebut membuat mobilitas Ridho semakin tinggi.


Ia harus bolak-balik Yogyakarta-Jakarta, membagi waktu antara urusan organisasi politik dan dunia pendidikan serta teknologi.


Kondisi tersebut akhirnya bukan hanya menguras waktu dan tenaga, tetapi disebut mulai memengaruhi kondisi kesehatan Ridho.


Sambo mengatakan Ridho menjadi lebih sering sakit akibat padatnya aktivitas dan beban tanggung jawab yang harus dijalankan secara bersamaan.


Atas pertimbangan itu, Ridho akhirnya memilih mengambil keputusan untuk mundur dari posisi Ketua Umum.


Namun, keputusan tersebut tidak dibuat secara tergesa-gesa.


Ridho terlebih dahulu melakukan perenungan dan berkonsultasi dengan sejumlah pihak, termasuk Amien Rais, keluarga, serta Sekretaris Majelis Syura Partai Ummat.


Bukan Meninggalkan Partai


Meski meninggalkan kursi Ketua Umum, Ridho tidak meninggalkan Partai Ummat.


Ia tetap berada di dalam struktur partai sebagai anggota Majelis Syura.


Artinya, perubahan tersebut tidak serta-merta memutus keterlibatan Ridho dalam perjalanan politik Partai Ummat. Ia masih memiliki ruang untuk memberikan kontribusi dan pemikiran dalam struktur strategis partai.


Perubahan posisi itu sekaligus menunjukkan bahwa pengunduran diri Ridho lebih merupakan pergeseran peran dalam organisasi, bukan keputusan untuk meninggalkan Partai Ummat.


Sekjen Taufik Hidayat Ikut Melepas Jabatan


Dinamika di tubuh Partai Ummat tidak berhenti pada pengunduran diri Ridho.


Pada momentum yang sama, Sekretaris Jenderal DPP Partai Ummat Taufik Hidayat juga menyatakan mundur dari jabatannya.


Taufik memilih langkah tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Ridho.


Selain itu, pengunduran dirinya dimaksudkan untuk memberikan ruang bagi penyegaran kepemimpinan di tingkat DPP.


Dengan mundurnya Ketua Umum dan Sekjen secara bersamaan, struktur pimpinan harian Partai Ummat praktis memasuki fase transisi.


Majelis Syura kemudian mengambil langkah untuk memastikan roda organisasi tetap berjalan.


Ansufri Idrus Sambo Jadi Plt Ketum


Majelis Syura menunjuk Ansufri Idrus Sambo sebagai Plt Ketua Umum DPP Partai Ummat.


Sementara posisi Plt Sekretaris Jenderal dipercayakan kepada Muhammad Sadiq.


Keduanya mendapat mandat untuk menjalankan kepemimpinan sementara sekaligus memastikan aktivitas organisasi tetap berlangsung.


Masa transisi ini menjadi fase penting bagi Partai Ummat. Kepemimpinan baru sementara tersebut tidak hanya dituntut menjaga roda organisasi tetap bergerak, tetapi juga memastikan konsolidasi di tingkat nasional berjalan tanpa hambatan.


Majelis Syura menyatakan bahwa Ridho dan Taufik tetap aktif di Partai Ummat dengan penugasan baru.


Pergantian tersebut disebut sebagai bagian dari perputaran organisasi dan penyegaran struktural, bukan sebagai tanda berhentinya aktivitas politik kedua tokoh tersebut.


Konsolidasi Nasional Jadi Pekerjaan Rumah


Setelah pergantian pucuk pimpinan, Partai Ummat menghadapi sejumlah agenda penting.


Kepemimpinan sementara DPP ditugaskan melakukan konsolidasi organisasi secara nasional.


Langkah tersebut menjadi penting untuk memastikan struktur partai di daerah tetap solid dan seluruh kader memahami arah organisasi setelah terjadinya perubahan kepemimpinan di tingkat pusat.


Selain konsolidasi, DPP juga ditugaskan mempersiapkan pendaftaran perubahan administratif kepengurusan kepada Kementerian Hukum.


Dengan demikian, pergantian kepemimpinan tersebut akan diikuti proses administratif untuk memastikan struktur baru partai tercatat sesuai ketentuan.


Majelis Syura juga meminta seluruh pengurus daerah dan kader tetap menjalankan program kerja yang telah ditetapkan.


Para kader diminta tidak larut dalam perubahan struktur di tingkat pusat, melainkan tetap bekerja dan mendukung kepemimpinan transisi.


Babak Baru Partai Ummat


Mundurnya Ridho Rahmadi menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan Partai Ummat.


Ia meninggalkan kursi Ketua Umum, tetapi tetap berada di dalam partai melalui Majelis Syura. Sementara Taufik Hidayat juga meninggalkan jabatan Sekjen dengan alasan solidaritas sekaligus membuka ruang bagi penyegaran organisasi.


Kini, kendali operasional DPP berada di tangan kepemimpinan sementara.


Tantangannya bukan sekadar menjaga roda organisasi tetap berjalan. Lebih jauh, kepemimpinan transisi harus memastikan konsolidasi nasional tetap solid dan mempersiapkan tahapan administratif serta organisasi menuju kepemimpinan berikutnya.


Di sisi lain, keputusan Ridho untuk tetap berada di Majelis Syura membuat pengaruh dan pemikirannya masih memiliki ruang dalam perjalanan Partai Ummat.


Perubahan ini pun menarik perhatian karena terjadi ketika dunia politik nasional terus bergerak dinamis.


Ridho memang turun dari kursi Ketua Umum, tetapi ia tidak keluar dari gelanggang Partai Ummat.


Kini, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana Partai Ummat akan menjalani masa transisi tersebut dan siapa yang nantinya dipercaya memegang kendali definitif DPP.


Pergantian pucuk pimpinan telah dimulai. Konsolidasi internal menjadi ujian berikutnya.


(L6)


#Nasional #Politik #PartaiUmmat

×
Berita Terbaru Update