Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dokter PPDS Undip Meninggal Dunia, RSUP Dr Kariadi dan Undip Bantah Dikaitkan dengan Bullying

02 September 2026 | September 02, 2026 WIB Last Updated 2026-09-02T10:36:11Z

Dokter PPDS Undip Meninggal Dunia, RSUP Dr Kariadi dan Undip Bantah Dikaitkan dengan Bullying



D'On, Semarang  Kabar meninggalnya seorang mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Diponegoro (Undip), dr. Yudha Nabella Prameswari, menyita perhatian publik. Perempuan yang baru sekitar satu setengah bulan menjalani pendidikan sebagai peserta PPDS Kedokteran Jiwa itu meninggal dunia setelah sebelumnya menjalani perawatan intensif di RSUP Dr Kariadi Semarang.


Di tengah kabar duka tersebut, muncul informasi di media sosial yang mengaitkan kematian dr. Yudha dengan dugaan perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan dokter spesialis.


Namun, pihak RSUP Dr Kariadi maupun Undip membantah bahwa kematian dr. Yudha disebabkan oleh praktik perundungan. Kedua institusi menyebut almarhumah meninggal setelah menjalani perawatan medis akibat sakit.


Staf Humas RSUP Dr Kariadi Semarang, Aditya Kandu Warendra, mengatakan berdasarkan data dan riwayat pemeriksaan rumah sakit, dr. Yudha memang berada dalam kondisi sakit sebelum akhirnya meninggal dunia.


“Informasi awal memang almarhumah itu kondisi sakit dan terus sempat dirawat di ICU Garuda pada Agustus. Yang bersangkutan meninggal pada 28 Agustus 2026,” kata Aditya, Selasa (1/9/2026).


Menurut Aditya, kondisi tersebut tercatat dalam riwayat pemeriksaan medis di RSUP Dr Kariadi. Karena itu, pihak rumah sakit menegaskan bahwa informasi yang menyebut dr. Yudha meninggal dunia akibat bullying tidak sesuai dengan data yang dimiliki rumah sakit.


“Kalau kami lihat di data riwayat pemeriksaan di RSUP Dr Kariadi itu, (Yudha Nabella Prameswari) memang terdiagnosis sakit,” ujarnya.


Baru Memasuki Semester Pertama


Selain menjelaskan kondisi kesehatan almarhumah, pihak RSUP Dr Kariadi juga memberikan gambaran mengenai status pendidikan dr. Yudha ketika menjalani perawatan.


Aditya menjelaskan bahwa dr. Yudha merupakan mahasiswa PPDS junior semester satu. Dengan status tersebut, almarhumah belum menjalani aktivitas pelayanan klinis sebagaimana peserta PPDS yang telah memasuki tahap praktik.


“PPDS junior, dia (Yuda Nabella Prameswari) belum dilepaskan untuk praktik di stase, klinik-klinik, poliklinik, rawat inap. Masih pembelajaran dalam kelas,” jelasnya.


Keterangan tersebut menjadi salah satu penjelasan penting dari pihak rumah sakit terkait informasi yang berkembang di masyarakat. Sebab, sejumlah unggahan di media sosial sebelumnya menimbulkan dugaan adanya persoalan relasi senior-junior dalam proses pendidikan dokter spesialis.


Namun, rumah sakit menegaskan bahwa berdasarkan informasi medis yang dimilikinya, penyebab kematian almarhumah berkaitan dengan kondisi sakit yang dialaminya.


Undip: Meninggal Setelah Dirawat 15 Hari


Penjelasan senada disampaikan Universitas Diponegoro.


Direktorat Jejaring Media, Komunitas dan Komunikasi Publik Undip, Nurul Hasfi, mengatakan berdasarkan laporan resmi yang diterima pihak universitas, dr. Yudha meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUP Dr Kariadi akibat demam berdarah.


“Berdasarkan laporan resmi yang diterima, dr Yuda meninggal setelah menjalani perawatan di RSUP Dr Kariadi akibat demam berdarah,” kata Nurul.


Dr. Yudha dinyatakan meninggal pada Jumat, 28 Agustus 2026, pukul 19.06 WIB di ruang ICU RSUP Dr Kariadi Semarang.


Sebelum meninggal dunia, almarhumah disebut telah menjalani perawatan selama sekitar 15 hari. Selama berada di rumah sakit, dr. Yudha juga mendapatkan pendampingan dari keluarga serta pihak Departemen dan Program Studi Undip.


“Berdasarkan laporan resmi yang diterima universitas, almarhumah meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUP Dr. Kariadi karena sakit Demam Berdarah,” tegas Nurul.


Baru 43 Hari Menjadi Peserta PPDS


Dr. Yudha tercatat sebagai mahasiswa PPDS semester satu Program Studi Kedokteran Jiwa Undip angkatan ke-85.


Ia mulai mengikuti pendidikan pada 16 Juli 2026. Artinya, sebelum meninggal dunia pada 28 Agustus 2026, almarhumah baru sekitar satu setengah bulan menjalani pendidikan sebagai peserta PPDS.


Pada masa tersebut, dr. Yudha masih berada dalam tahap orientasi dan belum memasuki kegiatan praktik klinis di rumah sakit.


Nurul menjelaskan, almarhumah masih mengikuti Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) yang dilaksanakan di ruang kelas.


Dengan demikian, berdasarkan penjelasan resmi Undip, dr. Yudha belum menjalani praktik klinis di stase, poliklinik maupun ruang rawat inap ketika mengalami sakit hingga akhirnya dirawat di rumah sakit.


Dugaan Bullying Tetap Diklarifikasi


Meski membantah adanya kaitan antara kematian dr. Yudha dengan bullying, Undip tidak serta-merta menutup persoalan yang berkembang di ruang publik.


Universitas menyatakan tetap melakukan klarifikasi internal menyusul munculnya berbagai informasi di media sosial.


Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan informasi yang beredar dapat diperiksa secara menyeluruh dan tidak hanya berdasarkan kabar yang beredar di ruang digital.


“Undip saat ini tetap terus mengawal isu ini dengan melakukan klarifikasi internal. Hal itu untuk memastikan kebenaran informasi yang berkembang, serta memperoleh gambaran yang lengkap dan objektif mengenai dugaan tersebut,” ujar Nurul.


Undip juga menyatakan akan terus berkoordinasi dengan RSUP Dr Kariadi selama proses klarifikasi berlangsung.


Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa persoalan dugaan perundungan dipisahkan dari klaim mengenai penyebab medis kematian dr. Yudha. Hingga proses klarifikasi selesai, dugaan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai fakta.


Komitmen Menciptakan Pendidikan Kedokteran yang Aman


Isu ini kembali menyoroti pentingnya lingkungan pendidikan dokter spesialis yang aman, profesional, dan bebas dari segala bentuk perundungan.


Pendidikan dokter spesialis dikenal memiliki proses pembelajaran yang panjang dan menuntut. Karena itu, institusi pendidikan memiliki tanggung jawab memastikan seluruh peserta didik memperoleh lingkungan akademik yang mendukung proses belajar serta menjaga keselamatan dan martabat setiap mahasiswa.


Undip menegaskan komitmennya untuk menjaga lingkungan pendidikan tersebut.


“UNDIP termasuk Fakultas Kedokteran terus berkomitmen menjaga lingkungan pendidikan yang aman, profesional, dan bebas dari segala bentuk perundungan,” pungkas Nurul.


Dengan demikian, berdasarkan keterangan resmi RSUP Dr Kariadi dan Undip, dr. Yudha Nabella Prameswari meninggal dunia pada 28 Agustus 2026 setelah menjalani perawatan medis akibat demam berdarah. Sementara itu, informasi mengenai dugaan bullying yang beredar di media sosial masih berada dalam tahap klarifikasi internal universitas.


Publik kini menunggu hasil klarifikasi tersebut untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai apa yang sebenarnya terjadi sebelum dr. Yudha jatuh sakit dan menjalani perawatan hingga akhirnya meninggal dunia.


(L6)


#Peristiwa #Bullying

×
Berita Terbaru Update