Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bukan Sekadar Lomba, Lima SMP di Padang Adu Inovasi Bangun Budaya Sekolah Sehat

03 September 2026 | September 03, 2026 WIB Last Updated 2026-09-03T12:11:37Z

Bukan Sekadar Lomba, Lima SMP di Padang Adu Inovasi Bangun Budaya Sekolah Sehat



D'On, Padang — Lomba Sekolah Sehat (LSS) Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M) Strata Standar Tingkat Kota Padang Tahun 2026 mulai memperlihatkan wajah lain dari dunia pendidikan. Bukan hanya soal kebersihan halaman, kelengkapan fasilitas kesehatan, maupun administrasi sekolah, tetapi juga tentang bagaimana kesehatan dan kepedulian lingkungan benar-benar menjadi budaya yang hidup di tengah warga sekolah.


Hal itu terlihat dalam agenda Ekspose Program Lomba Sekolah Sehat (LSS) UKS/M Strata Standar Tingkat Kota Padang Tahun 2026 yang digelar Pemerintah Kota Padang di Ruang Abu Bakar Jaar, Balai Kota Padang, Kamis (3/9/2026).


Dalam kegiatan tersebut, perwakilan sekolah peserta memaparkan berbagai program, inovasi, serta strategi yang telah disiapkan untuk membangun ekosistem sekolah yang bersih, sehat, aman, dan peduli lingkungan.


Untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), terdapat lima sekolah yang tampil sebagai peserta terbaik. Kelimanya yakni SMPN 8 Padang, SMPN 25 Padang, SMPN 11 Padang, SMP Semen Padang, dan SMP Pembangunan Laboratorium UNP.


Masing-masing sekolah datang bukan sekadar membawa dokumen program, tetapi juga menunjukkan bagaimana konsep sekolah sehat diterjemahkan menjadi kegiatan nyata yang menyentuh kehidupan siswa sehari-hari.


Tim juri penilaian LSS Kota Padang turut hadir untuk melihat sejauh mana program yang dipaparkan sekolah telah diimplementasikan dan mampu membangun kebiasaan positif secara berkelanjutan.


SMPN 25 Padang: Sekolah Sehat Dimulai dari Kolaborasi


Salah satu sekolah yang tampil memaparkan program unggulannya adalah SMPN 25 Padang.


Kepala SMPN 25 Padang, Herry Susanto, menjelaskan bahwa persiapan mengikuti Lomba Sekolah Sehat dilakukan secara terstruktur. Sekolah terlebih dahulu membentuk Tim Sekolah Sehat, kemudian memperkuat jejaring kerja sama dengan berbagai pihak.


Menurutnya, sekolah tidak mungkin menjalankan program kesehatan dan lingkungan secara maksimal apabila hanya mengandalkan sumber daya internal.


Karena itu, SMPN 25 Padang membangun kolaborasi dengan berbagai instansi, mulai dari Puskesmas, Kantor Urusan Agama (KUA), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Bank Sampah hingga Dinas Sosial.


Kerja sama tersebut dituangkan melalui nota kesepahaman (MoU) yang diharapkan mampu memperkuat pelaksanaan berbagai kegiatan sekolah sehat.


“Sebagian besar program tentu sudah kita implementasikan, baik pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan, penerapan lingkungan sehat, kemudian kita melakukan MoU juga dengan berbagai pihak yang nantinya tentunya MoU ini akan mendukung proses implementasi berbagai kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan dan sekolah sehat,” ujar Herry.


Namun, SMPN 25 Padang tidak berhenti pada program yang bersifat umum.


Sekolah tersebut juga menghadirkan inovasi yang menyasar kebutuhan dan karakter siswa, salah satunya melalui program “Kamus Biru”, akronim dari Kajian Muslimah Berkarakter, Inovatif, dan Up to Date.


Program yang digelar setiap Jumat khusus bagi siswi perempuan itu dikemas dengan pendekatan yang lebih luas. Tidak hanya membahas pembentukan karakter, tetapi juga menghadirkan edukasi mengenai kesehatan reproduksi yang diberikan tenaga medis.


Para siswi juga mendapatkan kegiatan pengembangan keterampilan seperti menyulam dan ecoprint.


Konsep tersebut menunjukkan bahwa sekolah sehat tidak hanya dipandang dari sisi fisik, tetapi juga menyangkut pengetahuan, karakter, keterampilan, serta kesiapan siswa menghadapi berbagai persoalan kehidupan.


Di sisi lain, SMPN 25 Padang juga memanfaatkan lahan tidur yang tersedia di lingkungan sekolah menjadi area produktif.


Lahan tersebut dikembangkan menjadi area tanaman pangan dan kolam budidaya. Sekolah juga mendorong pemanfaatan komposter dan kegiatan daur ulang sampah.


Dengan demikian, siswa tidak hanya mendapatkan teori tentang lingkungan, tetapi juga diajak melihat dan menjalankan langsung bagaimana sampah dikelola serta bagaimana lahan dapat dimanfaatkan secara produktif.


Bagi Herry, capaian paling penting dari kegiatan tersebut bukanlah trofi atau predikat juara.


“Cuma sebenarnya yang paling penting bagi kami bukan lombanya, tapi kita ingin menjadikan lomba ini bukan akhir, melainkan awal dari bagaimana SMP Negeri 25 Padang semakin bangkit dan semakin baik untuk menerapkan pendidikan lingkungan sedini mungkin kepada anak-anak kita,” katanya.


Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa LSS diharapkan tidak melahirkan sekolah yang hanya sibuk berbenah ketika lomba berlangsung, kemudian kembali ke kebiasaan lama setelah penilaian selesai.


SMP Semen Padang Andalkan Rekam Jejak Adiwiyata


Semangat serupa juga terlihat dari SMP Semen Padang.


Wakil Kesiswaan SMP Semen Padang, Nasrul, memaparkan kesiapan sekolah yang dibangun di atas pengalaman panjang dalam mengembangkan budaya lingkungan.


SMP Semen Padang sebelumnya memiliki rekam jejak sebagai penerima penghargaan Adiwiyata Mandiri tingkat nasional. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam menghadapi Lomba Sekolah Sehat.


Dengan jumlah siswa sebanyak 408 orang, terdiri dari 207 siswa laki-laki dan 191 siswa perempuan, sekolah berupaya memastikan program sekolah sehat dapat diterapkan secara menyeluruh.


Persiapan dilakukan mulai dari administrasi, penataan lapangan, pembagian tugas hingga pelibatan siswa, guru dan orang tua.


Nasrul mengatakan sekolah juga menerapkan pembagian tugas secara terstruktur melalui Surat Keputusan (SK) guru.


“Persiapan sekolah kami, baik itu yang berkaitan dengan administrasi, berkaitan dengan lapangan, siswa, guru, orang tua, alhamdulillah sudah kami rancang dengan baik. Hal ini bisa kami manajemen dengan cara berkolaborasi, berinteraksi, dan saling kerja sama guna untuk mewujudkan Sekolah Sehat SMP Semen Padang,” ujarnya.


Bagi SMP Semen Padang, keberhasilan sekolah sehat tidak dapat dibebankan hanya kepada kepala sekolah atau guru tertentu.


Semua unsur harus bergerak dalam satu arah.


Karena itu, kolaborasi dibangun tidak hanya di internal sekolah, tetapi juga dengan orang tua siswa serta sejumlah mitra, di antaranya DLH, Biro K3LH, Puskesmas, hingga unsur kecamatan dan kelurahan.


Pendekatan kolaboratif tersebut menjadi penting karena sekolah sehat pada dasarnya tidak berdiri sendiri. Kebiasaan hidup bersih dan sehat yang dibangun di sekolah idealnya juga diteruskan ketika siswa berada di rumah maupun di tengah masyarakat.


Jangan Sampai Berhenti Setelah Lomba


Di balik persaingan lima sekolah tersebut, terdapat pesan yang jauh lebih besar.


Lomba Sekolah Sehat diharapkan tidak sekadar menjadi kompetisi tahunan yang menghasilkan daftar pemenang dan sekolah yang kalah.


Lebih jauh, ajang ini menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa kesehatan, kebersihan, lingkungan dan karakter merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.


Sekolah yang sehat pada akhirnya bukan hanya sekolah yang memiliki fasilitas lengkap, tetapi sekolah yang mampu membuat perilaku sehat menjadi kebiasaan.


Siswa terbiasa membuang sampah pada tempatnya, memahami pentingnya kesehatan diri, peduli terhadap lingkungan, memiliki karakter positif, serta mampu berpartisipasi dalam menjaga ruang belajar mereka.


Nasrul bahkan memberikan pesan agar program sekolah sehat terus dipertahankan pemerintah dan dilaksanakan secara berkelanjutan.


“Pesan kami karena program ini adalah program berkelanjutan, tentu kepada pemerintah tetap mempertahankan program ini karena ini sangat butuh sekali. Terhenti saja satu periode program ini, maka seluruh sekolah mereka akan molor lagi, akan mundur lagi,” tuturnya.


Menurutnya, ukuran keberhasilan sekolah juga tidak semestinya hanya dilihat dari prestasi akademik.


Sekolah yang mampu melahirkan generasi berprestasi sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia.


“Sekolah tidak saja berprestasi di bidang akademik saja, tapi non-akademik dan sekolah yang peduli terhadap lingkungan,” tegas Nasrul.


Menanam Kebiasaan, Bukan Sekadar Mengejar Piala


Ekspose LSS UKS/M Strata Standar tingkat Kota Padang tahun 2026 akhirnya menghadirkan sebuah pertanyaan penting: apa yang tersisa setelah lomba berakhir?


Jawabannya akan sangat bergantung pada konsistensi masing-masing sekolah.


Sebab, membangun sekolah sehat tidak bisa dilakukan hanya dalam hitungan hari. Ia membutuhkan kebiasaan, keteladanan, pengawasan, kolaborasi dan komitmen yang terus dijaga.


Lima sekolah yang tampil dalam ekspose tersebut telah menunjukkan bahwa inovasi sekolah sehat dapat hadir dalam banyak bentuk.


Ada yang memperkuat edukasi kesehatan, membangun jejaring lintas sektor, mengembangkan keterampilan siswa, mengolah lahan tidur, mengelola sampah, hingga memperkuat budaya peduli lingkungan yang telah dibangun melalui program Adiwiyata.


Pada akhirnya, pemenang sesungguhnya bukan hanya sekolah yang mendapatkan nilai tertinggi dari tim juri.


Pemenang sesungguhnya adalah ketika budaya sehat tetap hidup di sekolah setelah spanduk lomba diturunkan, setelah tim juri meninggalkan halaman sekolah, dan setelah nama pemenang diumumkan.


Sebab sekolah sehat bukan tentang siapa yang paling indah ketika dinilai, tetapi tentang siapa yang paling konsisten menjaga kebiasaan baik ketika tidak lagi dinilai.


Dan dari lima sekolah yang tampil di Balai Kota Padang, Kamis itu, pesan tersebut menjadi benang merah yang jauh lebih penting daripada sekadar perebutan gelar juara.


(Mond)


#Padang #Daerah

×
Berita Terbaru Update