Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Padang Tembus 6 Besar UCCN 2027, Selangkah Lagi Jadi Kota Gastronomi Dunia

19 August 2026 | August 19, 2026 WIB Last Updated 2026-08-19T14:14:23Z

Padang Tembus 6 Besar UCCN 2027, Selangkah Lagi Jadi Kota Gastronomi Dunia



D'On, Padang — Langkah Kota Padang untuk menembus panggung ekonomi kreatif dunia semakin terbuka. Kota yang dikenal sebagai salah satu pusat kuliner Minangkabau itu resmi melaju ke Seleksi Nasional Tahap II Pengusulan Nominasi Jejaring Kota Kreatif UNESCO atau UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027.


Kepastian tersebut tertuang dalam Surat Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (KemenEkraf) Nomor SD/PE.07.00/52/D.1.6/2026 tertanggal 19 Agustus 2026.


Padang menjadi salah satu dari enam daerah yang berhasil lolos Seleksi Nasional Tahap I setelah Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) melakukan penilaian terhadap dokumen aplikasi atau dossier yang diajukan masing-masing daerah.


Proses penilaian berkas berlangsung pada 6–11 Agustus 2026, kemudian dilanjutkan dengan rapat pleno Panselnas pada 12 Agustus 2026.


Hasilnya, Padang masuk dalam enam besar nominasi UCCN 2027 dan akan bersaing pada kategori Gastronomi bersama Kota Batu dan Kota Pangkal Pinang.


Sementara tiga daerah lainnya mengajukan kategori berbeda. Kabupaten Bantul berada pada kategori Crafts and Folk Arts, Kabupaten Sleman mengusung Film, sedangkan Kota Yogyakarta berada pada kategori Media Arts.


Bagi Padang, keberhasilan ini bukan sekadar lolos administrasi. Tiket menuju tahap kedua menjadi penanda bahwa kekuatan gastronomi, budaya, kreativitas, serta ekosistem ekonomi kreatif yang dibangun selama ini mulai mendapatkan pengakuan dalam proses seleksi nasional.


Fadly Amran Akan Paparkan Dossier di Hadapan Panselnas


Perjuangan Padang belum selesai. Justru tantangan yang lebih menentukan menanti pada Seleksi Nasional Tahap II, yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 2 September 2026.


Dalam tahap tersebut, Wali Kota Padang Fadly Amran dijadwalkan memaparkan langsung dokumen dossier UCCN 2027 di hadapan tim Panselnas.


Waktu yang diberikan untuk presentasi cukup singkat, yakni sekitar 10 menit.


Namun, di balik waktu yang singkat tersebut, Padang harus mampu menunjukkan secara komprehensif mengapa kota ini layak membawa nama Indonesia ke jejaring kota kreatif dunia pada bidang gastronomi.


Setelah paparan, tim Panselnas akan melakukan verifikasi terhadap kebenaran, kedalaman, serta substansi yang terdapat dalam dossier yang diajukan.


Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza, mengatakan keberhasilan memasuki tahap kedua merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak yang selama ini ikut memperkuat ekosistem gastronomi dan ekonomi kreatif di Kota Padang.

 

“Terima kasih untuk semua pihak dan pemangku kepentingan terkait. Ini buah dari arahan pimpinan Bapak Wali Kota dan Bapak Wakil Wali Kota, dan Bapak Sekda, serta dukungan stakeholder terkait, mulai dari perguruan tinggi, komunitas Bundo Kanduang, UMKM, hingga seluruh pelaku ekonomi kreatif,” ujar Yenni.


Menurutnya, tahap kedua akan menjadi tantangan tersendiri karena Padang tidak lagi hanya berbicara mengenai kelengkapan dokumen, tetapi harus mampu meyakinkan Panselnas mengenai kekuatan dan kedalaman substansi yang ditawarkan.

 

“Dossier tahap kedua ini menjadi tantangan bagi kita untuk memaparkan materi dengan baik. Paparan akan disampaikan langsung oleh Bapak Wali Kota Padang, Fadly Amran, pada 2 September mendatang. Selanjutnya tim Pansel akan memverifikasi kebenaran dan kedalaman isi dossier tersebut,” katanya.


Tiga Kota Berebut Satu Tiket dari Kategori Gastronomi


Persaingan di kategori Gastronomi dipastikan berlangsung ketat. Padang harus berhadapan dengan dua daerah lain, yakni Kota Batu dan Kota Pangkal Pinang.


Dari enam daerah yang masuk tahap ini, Panselnas nantinya tidak memilih seluruhnya untuk dikirim ke UNESCO.


Hasil akhir Seleksi Nasional akan diumumkan pada 1 Oktober 2026. Panselnas akan memilih dua kota/kabupaten dari dua kategori berbeda untuk secara resmi mewakili Indonesia dalam pengusulan ke UNESCO.


Dengan demikian, Padang memiliki peluang besar, tetapi juga menghadapi persaingan yang tidak ringan. Kota yang identik dengan rendang, berbagai kuliner Minangkabau, tradisi makan bersama, serta kekayaan budaya kulinernya itu harus membuktikan bahwa gastronomi bukan hanya soal makanan, melainkan telah menjadi bagian dari identitas, budaya, kreativitas, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.


Jika berhasil terpilih, perjalanan Padang tidak berhenti pada predikat sebagai wakil Indonesia. Kota ini akan memasuki tahapan pengusulan di tingkat UNESCO untuk mendapatkan tempat dalam UNESCO Creative Cities Network.


Dukungan Lintas Sektor Jadi Kekuatan Padang


Wali Kota Padang Fadly Amran menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah ikut mengawal perjuangan Padang menuju UCCN.


Dukungan tersebut datang dari berbagai unsur, mulai akademisi, perguruan tinggi, sektor swasta, komunitas, Bundo Kanduang, pelaku UMKM, media, pelaku ekonomi kreatif, hingga seluruh pemangku kepentingan.


Menurut Fadly, keterlibatan banyak pihak menjadi modal penting dalam mewujudkan ambisi Padang untuk masuk dalam jejaring kota kreatif dunia.

 

“Alhamdulillah, dengan lolos ke tahapan seleksi berikutnya, langkah Kota Padang semakin dekat untuk menjadi kota gastronomi dunia. Terima kasih kepada Bapak Menteri Ekraf RI beserta jajaran, serta semua pihak yang telah membersamai upaya ini. Mudah-mudahan kita berhasil meraih target besar ini, dan menempatkan Kota Padang di jejaring kota kreatif dunia,” ujar Fadly.


Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pemerintah kota tidak ingin menjadikan pencalonan UCCN sebagai program seremonial semata.


Padang ingin membawa gastronomi sebagai kekuatan strategis kota bukan hanya untuk mempertahankan warisan kuliner Minangkabau, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi UMKM, industri kreatif, pariwisata, generasi muda, komunitas, hingga pelaku usaha untuk berkembang.


Dari Rendang Menuju Panggung Dunia


Bagi Padang, gastronomi memiliki akar yang jauh lebih dalam daripada sekadar daftar makanan khas.


Rendang, misalnya, bukan hanya produk kuliner. Di baliknya terdapat pengetahuan tradisional, teknik pengolahan, penggunaan bahan lokal, filosofi, tradisi keluarga, hingga nilai sosial masyarakat Minangkabau.


Begitu pula dengan beragam kuliner khas lainnya yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.


Karena itu, pencalonan Padang dalam kategori Gastronomi menjadi momentum untuk membawa kekayaan tersebut ke panggung yang lebih luas.


Jika mampu melewati seleksi nasional dan kemudian mendapatkan pengakuan UNESCO, status tersebut berpotensi memperkuat posisi Padang sebagai destinasi gastronomi, sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional dalam bidang kebudayaan, pariwisata, pendidikan, kreativitas, dan ekonomi.


Kini seluruh perhatian mengarah ke 2 September 2026.


Pada hari itu, Fadly Amran akan membawa dossier Padang ke hadapan Panselnas dan berusaha meyakinkan tim seleksi bahwa Kota Padang memiliki alasan kuat untuk dipilih sebagai kandidat Indonesia pada kategori Gastronomi.


Setelah itu, masyarakat Padang masih harus menunggu hingga 1 Oktober 2026 untuk mengetahui apakah kota ini berhasil menjadi salah satu daerah yang dipercaya membawa nama Indonesia menuju UNESCO.


Satu hal sudah pasti: Padang kini bukan lagi sekadar bermimpi menjadi kota gastronomi dunia. Padang telah berada di jalur seleksi untuk mewujudkan mimpi tersebut.


(Mond)


#Padang #Daerah

×
Berita Terbaru Update