Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Festival Kota Tua 2026 Hidupkan Kembali Wajah Multikultural Padang, Barongsai Internasional Jadi Magnet Wisata

16 August 2026 | August 16, 2026 WIB Last Updated 2026-08-16T10:15:31Z

Festival Kota Tua 2026 Hidupkan Kembali Wajah Multikultural Padang, Barongsai Internasional Jadi Magnet Wisata



D'On, Padang Kota Tua Padang kembali bergeliat. Jejak sejarah, keberagaman budaya, seni tradisi hingga kekuatan kuliner berpadu dalam Festival Kota Tua 2026, sebuah perhelatan yang tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga membawa pesan penting tentang bagaimana sejarah dan keberagaman dapat menjadi kekuatan baru bagi pariwisata dan ekonomi Kota Padang.


Festival tersebut resmi dibuka di GOR HTT Padang, Sabtu (15/8/2026) malam, dan akan berlangsung hingga 23 Agustus 2026. Kegiatan yang digelar Himpunan Tjinta Teman (HTT) Pusat Padang bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat itu menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari pertunjukan seni, promosi kuliner, kegiatan sosial berupa donor darah, hingga kompetisi barongsai berskala internasional.


Pembukaan festival turut dihadiri Wali Kota Padang Fadly Amran, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi, unsur Forkopimda Sumbar dan Kota Padang, Wakil Ketua HTT Pusat Padang sekaligus Anggota DPRD Sumbar Albert Hendra Lukman, Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (PB FOBI) Edy Kusuma, jajaran pengurus HTT serta sejumlah pimpinan OPD di lingkungan Pemprov Sumbar dan Pemko Padang.


Bagi Fadly Amran, Festival Kota Tua memiliki arti lebih besar daripada sekadar agenda tahunan. Festival ini dinilai menjadi etalase yang memperlihatkan wajah Padang sebagai kota yang tumbuh dari perjumpaan berbagai budaya, etnis dan tradisi.


Tanpa seni, budaya, dan tradisi, Kota Padang akan kehilangan rasa dan identitas. Karena itu, Festival Kota Tua tepat digelar untuk mendukung Padang menuju kota gastronomi dunia,” kata Fadly.


Menurutnya, kekayaan budaya merupakan modal penting dalam membangun identitas sekaligus meningkatkan daya tarik wisata Kota Padang. Tradisi yang diwariskan lintas generasi, menurut Fadly, harus terus dihidupkan agar tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi dapat dirasakan dan dinikmati oleh masyarakat maupun wisatawan.


Festival Kota Tua pun dinilai sejalan dengan konsep Taste of Padang Experience yang tengah dikembangkan Pemko Padang. Konsep tersebut tidak hanya menawarkan makanan sebagai produk wisata, tetapi juga pengalaman yang lebih utuh melalui seni, budaya, sejarah, tradisi dan kehidupan masyarakat.


Dengan demikian, wisatawan yang datang ke Padang diharapkan tidak hanya menikmati kuliner khas, tetapi juga memahami cerita dan karakter kota yang melahirkan berbagai tradisi tersebut.


Barongsai Internasional Hadirkan Warna Baru


Salah satu daya tarik utama Festival Kota Tua 2026 adalah digelarnya Kejuaraan Barongsai Internasional Piala Gubernur Sumbar.


Ajang tersebut menjadi warna baru dalam pelaksanaan festival tahun ini karena mempertemukan peserta dari berbagai negara. Albert Hendra Lukman menyebut sedikitnya terdapat peserta dari tujuh negara, yakni Amerika Serikat, Malaysia, China, Perancis, Australia, Vietnam dan Hong Kong.


Kehadiran peserta mancanegara sekaligus menunjukkan bahwa Festival Kota Tua mulai memiliki ruang untuk berkembang dari festival berbasis lokal menjadi agenda budaya yang memiliki daya tarik internasional.


Bagi Kota Padang, kejuaraan tersebut bukan hanya kompetisi olahraga dan seni pertunjukan. Barongsai juga menjadi bagian dari perjalanan panjang komunitas Tionghoa dalam membentuk warna kehidupan sosial dan budaya Kota Padang.


Pertunjukan barongsai dengan gerakan dinamis dan nilai tradisi yang kuat diharapkan mampu menjadi magnet bagi masyarakat dan wisatawan untuk datang, menyaksikan, sekaligus mengenal lebih dekat keberagaman budaya yang tumbuh di Kota Tua Padang.


“Urang Padang Jalan Barampek” dan Cerita Keberagaman


Di balik kemeriahan Festival Kota Tua 2026, terdapat filosofi yang menjadi ruh utama pelaksanaannya, yakni “Urang Padang Jalan Barampek.”


Filosofi tersebut merepresentasikan keberagaman empat kelompok budaya yang memiliki sejarah dalam perjalanan Kota Padang, yaitu Minangkabau, Tionghoa, Nias dan India.


Albert Hendra Lukman mengatakan, keberagaman tersebut merupakan bagian penting dari identitas Kota Padang yang harus terus dirawat dan dihidupkan.


Festival tahun ini tetap mengangkat filosofi ‘Urang Padang Jalan Barampek’ yang merepresentasikan keberagaman etnis Minangkabau, Tionghoa, Nias, dan India dalam sejarah Kota Padang. Keterlibatan berbagai komunitas penting untuk menghidupkan Kota Tua sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat,” ujarnya.


Pesan tersebut menjadi penting di tengah perkembangan kota yang semakin modern. Kemajuan pembangunan, teknologi dan ekonomi tidak semestinya membuat masyarakat kehilangan hubungan dengan sejarah.


Justru melalui festival seperti ini, ruang-ruang sejarah dapat kembali diisi dengan aktivitas masyarakat. Cerita masa lalu dipertemukan dengan kreativitas masa kini, sementara keberagaman tidak dipandang sebagai perbedaan yang memisahkan, melainkan sebagai kekayaan yang menyatukan.


Dari Budaya ke Penggerak Ekonomi


Fadly Amran juga melihat Festival Kota Tua sebagai salah satu instrumen untuk menggerakkan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata.


Ketika sebuah festival mampu mendatangkan masyarakat dan wisatawan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penyelenggara. Pelaku UMKM, pedagang kuliner, pekerja seni, komunitas kreatif, pelaku usaha pariwisata hingga sektor transportasi berpotensi ikut mendapatkan manfaat.


Karena itu, keberadaan festival budaya diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih luas.


Kekuatan Padang sebagai kota gastronomi dunia, menurut Fadly, harus dibangun dengan menggabungkan makanan, cerita, budaya dan pengalaman. Kuliner khas Minangkabau akan semakin kuat daya tariknya ketika wisatawan juga dapat mengenal sejarah, tradisi serta masyarakat yang menjadi bagian dari perjalanan kuliner tersebut.


Semoga kolaborasi ini semakin memeriahkan HJK sekaligus memperkuat daya tarik wisata dan budaya Kota Padang,” ujar Fadly.


Didorong Menjadi Bagian dari HJK Padang


Lebih jauh, Fadly Amran bahkan menargetkan Festival Kota Tua pada tahun mendatang dapat dikolaborasikan dengan rangkaian Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-358.


Gagasan tersebut membuka peluang festival menjadi bagian dari kalender besar pariwisata dan kebudayaan Kota Padang.


Jika kolaborasi tersebut terealisasi, Festival Kota Tua bukan hanya menjadi perhelatan yang berdiri sendiri, tetapi dapat menjadi salah satu wajah utama perayaan hari jadi kota.


Harapannya, sinergi antara pemerintah, komunitas, pelaku usaha dan masyarakat dapat membuat perayaan HJK semakin semarak sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.


Festival Kota Tua 2026 pada akhirnya membawa satu pesan sederhana namun kuat: kota tidak hanya dibangun dengan gedung dan jalan, tetapi juga dengan ingatan, budaya dan keberagaman masyarakatnya.


Ketika sejarah Kota Tua kembali dipenuhi aktivitas seni, tradisi, kuliner dan perjumpaan masyarakat dari berbagai latar belakang, Padang bukan hanya sedang mengenang masa lalu.


Padang sedang menjadikan masa lalunya sebagai energi untuk menatap masa depan.


Dan melalui Festival Kota Tua 2026, keberagaman itu kembali menemukan panggungnya sekaligus menjadi bagian dari perjalanan Padang menuju kota wisata dan gastronomi berkelas dunia.


(Mond)


#Padang #Daerah

×
Berita Terbaru Update