
Sambutan Hangat Dua Jorong Menandai Dimulainya Perjalanan Pengabdian Ekspedisi Andalas 2026
D'On, Sumatera Barat - Senyum ramah, jabat tangan yang hangat, serta sapaan penuh kekeluargaan menjadi kesan pertama yang menyambut kedatangan peserta Ekspedisi Andalas 2026 di Jorong Sungai Lolo dan Jorong Muaro. Di balik kesederhanaan suasana pedesaan, tersimpan harapan besar dari masyarakat yang percaya bahwa kehadiran para mahasiswa bukan sekadar menjalankan program kerja, melainkan membawa semangat kolaborasi, pembelajaran, dan pengabdian yang mampu memberikan manfaat nyata.
Hari itu menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang yang akan dipenuhi dengan proses belajar, berbagi, dan tumbuh bersama masyarakat. Pembukaan kegiatan yang dilaksanakan secara serentak di dua jorong tersebut bukan hanya menjadi penanda dimulainya rangkaian Ekspedisi Andalas 2026, tetapi juga menjadi momen lahirnya ikatan emosional antara mahasiswa dengan masyarakat yang akan menjadi keluarga selama masa pengabdian.
Sejak langkah pertama memasuki wilayah pengabdian, antusiasme masyarakat begitu terasa. Warga dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh adat, tokoh agama, perangkat nagari, hingga anak-anak, menyambut kedatangan rombongan dengan wajah penuh kebahagiaan. Sambutan sederhana itu justru menghadirkan makna yang begitu dalam, menggambarkan budaya Minangkabau yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, penghormatan kepada tamu, serta semangat bergotong royong.
Jorong Sungai Lolo: Kehangatan yang Menumbuhkan Kepercayaan
Di Jorong Sungai Lolo, kegiatan pembukaan berlangsung dalam suasana yang akrab dan penuh kehangatan. Tidak ada sekat antara mahasiswa dan masyarakat. Sejak awal acara, komunikasi dibangun dengan pendekatan kekeluargaan sehingga suasana terasa begitu cair.
Koordinator Lapangan membuka kegiatan dengan memperkenalkan tujuan utama Ekspedisi Andalas 2026, yakni menghadirkan pengabdian yang berlandaskan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar menjalankan agenda organisasi. Pengabdian, menurutnya, adalah proses saling belajar, di mana mahasiswa tidak hanya datang untuk memberi, tetapi juga menyerap nilai-nilai kehidupan yang tumbuh di tengah masyarakat.
Sesi kemudian dilanjutkan dengan perkenalan seluruh panitia yang dipandu oleh Abdi Fadlan. Satu demi satu anggota memperkenalkan diri, menjelaskan divisi masing-masing, serta menyampaikan harapan agar masyarakat tidak segan memberikan arahan selama mereka tinggal di jorong tersebut.
Momen sederhana itu justru menjadi awal tumbuhnya rasa saling percaya. Senyum, tawa, dan percakapan ringan mulai menghiasi ruangan. Mahasiswa yang sebelumnya belum saling mengenal dengan warga perlahan melebur dalam suasana kekeluargaan yang begitu hangat.
Dalam sambutannya, Bapak Jorong Sungai Lolo menyampaikan rasa syukur sekaligus kebanggaan karena wilayahnya dipercaya menjadi lokasi pengabdian Ekspedisi Andalas 2026. Beliau berharap para mahasiswa dapat menjaga nama baik almamater, menghormati adat istiadat, serta membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat.
"Anggaplah masyarakat di sini sebagai keluarga sendiri. Hormati adat yang berlaku, jaga sopan santun, dan manfaatkan kesempatan ini untuk saling belajar," pesannya.
Dukungan serupa juga datang dari tokoh agama setempat. Beliau menilai kehadiran mahasiswa merupakan bentuk kepedulian generasi muda terhadap pembangunan masyarakat. Ia berharap seluruh program yang akan dilaksanakan mampu memberikan manfaat, khususnya dalam pembinaan karakter generasi muda serta peningkatan semangat belajar anak-anak di Jorong Sungai Lolo.
Usai acara resmi ditutup, suasana kekeluargaan justru semakin terasa. Mahasiswa dan masyarakat larut dalam perbincangan santai hingga malam. Mereka berbagi cerita mengenai kehidupan sehari-hari, kondisi sosial masyarakat, potensi daerah, hingga berbagai harapan yang ingin diwujudkan melalui Ekspedisi Andalas 2026. Dari obrolan sederhana itulah lahir kedekatan yang tidak dapat dibangun hanya melalui acara seremonial.
Jorong Muaro: Kolaborasi Dimulai Melalui Dialog Terbuka
Semangat yang sama juga mengalir di Masjid Raya Baiturrahmah, Jorong Muaro. Sejak sore hari, masyarakat mulai berdatangan memenuhi lokasi pembukaan. Kehadiran Bapak Jorong, Sekretaris Nagari, Niniak Mamak, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga para pemuda menunjukkan besarnya perhatian terhadap kegiatan yang akan dilaksanakan.
Acara dipandu secara semi-formal dengan tetap mengedepankan suasana kekeluargaan. Setelah pembukaan, Ketua Pelaksana Ekspedisi Andalas 2026, Naufal Ramadhan, memperkenalkan seluruh anggota tim sekaligus memaparkan berbagai program kerja yang akan dilaksanakan selama masa pengabdian.
Di hadapan masyarakat, Naufal menegaskan bahwa mahasiswa datang bukan sebagai pihak yang merasa paling mengetahui kondisi masyarakat.
Sebaliknya, mereka hadir sebagai pembelajar yang ingin tumbuh bersama warga.
"Kami memohon bimbingan, masukan, bahkan kritik apabila terdapat kekurangan. Kami percaya program yang baik adalah program yang lahir dari kebutuhan masyarakat dan dijalankan bersama masyarakat," ungkapnya.
Pernyataan tersebut mendapat apresiasi dari Bapak Jorong Muaro. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa merupakan sebuah kehormatan bagi masyarakat. Ia mengajak seluruh warga untuk bersama-sama membantu dan mendukung setiap kegiatan agar seluruh program dapat berjalan dengan baik.
Yang membuat pembukaan di Jorong Muaro terasa berbeda adalah adanya forum diskusi terbuka setelah acara resmi selesai. Tidak hanya mendengarkan pemaparan mahasiswa, masyarakat turut memberikan berbagai masukan berdasarkan pengalaman mereka.
Tokoh adat menyampaikan pandangan mengenai pendekatan budaya yang perlu diperhatikan dalam menjalankan kegiatan. Perangkat nagari menjelaskan kondisi wilayah beserta potensi yang dapat dikembangkan, sementara masyarakat memberikan berbagai usulan mengenai program yang dinilai paling dibutuhkan.
Diskusi berlangsung sangat hidup. Ide demi ide mengalir tanpa sekat. Mahasiswa mencatat setiap masukan dengan penuh antusias karena menyadari bahwa keberhasilan pengabdian hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama dan komunikasi yang baik dengan masyarakat.
Mengabdi Bukan Sekadar Hadir, Tetapi Menjadi Bagian dari Masyarakat
Hari pertama Ekspedisi Andalas 2026 mengajarkan satu hal penting bahwa pengabdian sejati tidak dimulai ketika program kerja dilaksanakan, melainkan ketika rasa saling percaya berhasil dibangun.
Sambutan hangat dari masyarakat Jorong Sungai Lolo dan Jorong Muaro menjadi bukti bahwa pengabdian akan menemukan maknanya ketika dilandasi rasa hormat, kepedulian, dan keinginan untuk tumbuh bersama.
Di dua jorong yang dipisahkan oleh jarak namun dipersatukan oleh semangat gotong royong, telah lahir komitmen yang sama. Mahasiswa datang membawa ilmu, tenaga, dan gagasan. Sementara masyarakat membuka pintu, hati, serta pengalaman hidup yang akan menjadi pelajaran berharga bagi para peserta.
Perjalanan Ekspedisi Andalas 2026 baru saja dimulai. Namun dari senyum pertama, jabat tangan yang tulus, hingga diskusi yang penuh harapan pada hari pembukaan, telah tergambar satu keyakinan bahwa pengabdian terbaik bukanlah tentang seberapa banyak program yang dijalankan, melainkan seberapa dalam hubungan yang mampu dibangun dengan masyarakat.
Dari Jorong Sungai Lolo dan Jorong Muaro, langkah kecil itu kini telah dimulai. Langkah yang diharapkan tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga menghadirkan perubahan, menguatkan persaudaraan, dan menjadi inspirasi bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat mampu melahirkan manfaat yang akan dikenang jauh setelah Ekspedisi Andalas 2026 berakhir.
(*)
#Pendidikan #UniversitasAndalas #SumateraBarat