Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tiga Polisi Gugur dalam Operasi Narkoba di Katingan: Diserang Massa Bersenjata, Bertahan di Sungai dan Hutan hingga Ditemukan Tak Bernyawa

06 July 2026 | July 06, 2026 WIB Last Updated 2026-07-06T07:24:42Z

Tiga Polisi Gugur dalam Operasi Narkoba di Katingan: Diserang Massa Bersenjata, Bertahan di Sungai dan Hutan hingga Ditemukan Tak Bernyawa



D'On, KATINGANOperasi pemberantasan narkotika yang seharusnya menjadi langkah tegas memutus jaringan peredaran sabu di pedalaman Kalimantan Tengah berubah menjadi tragedi berdarah. Tiga personel terbaik Satuan Reserse Narkoba Polres Katingan gugur saat menjalankan tugas setelah mendapat perlawanan brutal dari massa yang diduga melindungi pelaku narkotika.


Peristiwa memilukan itu terjadi pada Rabu malam, 1 Juli 2026, di Desa Tumbang Kalemei, Kabupaten Katingan. Ketiga anggota Polri yang gugur adalah Aipda Yudhie Perdana Putra, Aiptu Sumaryanto, dan Bripda Nopandri Ramadhana.


Insiden ini menjadi salah satu tragedi paling kelam dalam penindakan kasus narkotika di Kalimantan Tengah, memperlihatkan betapa berbahayanya jaringan narkoba yang tidak segan menggunakan kekerasan untuk melawan aparat negara.


Berawal dari Laporan Masyarakat


Operasi tersebut dilakukan setelah polisi menerima laporan masyarakat mengenai dugaan maraknya aktivitas peredaran narkotika jenis sabu di Desa Tumbang Kalemei.


Hasil penyelidikan mengarah kepada seorang pria berinisial BIO, residivis kasus narkotika yang diduga kembali menjalankan bisnis haramnya.


Menindaklanjuti informasi tersebut, Polres Katingan menerjunkan 12 personel Satresnarkoba dalam operasi penangkapan yang telah dirancang secara matang.


Setibanya di lokasi, personel dibagi menjadi dua kelompok. Tim pertama bertugas menangkap target di dalam rumah, sedangkan tim kedua bersiaga memberikan perlindungan apabila situasi berkembang di luar kendali.


Pada tahap awal, operasi berjalan sesuai rencana. BIO berhasil diamankan tanpa hambatan berarti.


Namun keberhasilan itu hanya berlangsung sesaat.


Situasi Berubah Mencekam


Tak lama setelah target diamankan, suasana mendadak berubah drastis.


Sejumlah orang yang berada di rumah bersama warga sekitar melakukan perlawanan terhadap aparat. Dalam waktu singkat, massa terus berdatangan hingga jumlahnya semakin banyak.


Mereka kemudian mengepung anggota kepolisian.


Menurut keterangan Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso, massa menyerang aparat menggunakan berbagai senjata.


"Massa kemudian bertambah dan melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam serta senjata api rakitan," ujarnya.


Serangan datang dari berbagai arah menggunakan parang, senjata tajam lainnya, hingga senjata api rakitan.


Jumlah personel yang jauh lebih sedikit membuat posisi polisi semakin terdesak.


Bertahan Hidup dengan Menyeberangi Sungai


Dalam kondisi kritis, anggota Satresnarkoba berusaha menyelamatkan diri sambil menunggu bantuan datang.


Sebagian personel memilih berenang menyeberangi Sungai Katingan. Ada pula yang berlari memasuki kawasan hutan untuk menghindari amukan massa.


Gelapnya malam, derasnya arus sungai, dan tekanan situasi membuat personel terpisah satu sama lain.


Ketika bantuan akhirnya tiba, tidak seluruh anggota berhasil ditemukan.


Aipda Yudhie Gugur di Lokasi


Korban pertama yang ditemukan adalah Aipda Yudhie Perdana Putra.


Ia ditemukan dalam keadaan meninggal dunia dengan luka akibat senjata tajam yang diduga diderita saat menghadapi serangan massa.


Sementara itu, dua rekannya, Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, dinyatakan hilang.


Ketidakpastian mengenai nasib keduanya membuat operasi pencarian besar-besaran segera dilakukan.


Operasi Pencarian Besar-besaran


Tim gabungan dari Polda Kalimantan Tengah, Polairud, Kodim 1019/Katingan, Basarnas, serta masyarakat setempat dikerahkan.


Pencarian difokuskan di sepanjang aliran Sungai Katingan, kawasan hutan di bantaran sungai, hingga titik-titik yang diduga menjadi jalur pelarian personel.


Medan pencarian tidak mudah.


Arus sungai yang deras, hutan lebat, serta akses yang sulit membuat tim harus bekerja ekstra.


Dalam operasi tersebut digunakan tiga unit perahu karet dan delapan kapal ces kecil untuk menyisir wilayah yang tidak dapat dijangkau kendaraan darat.


Bripda Nopandri Ditemukan Terapung


Setelah tiga hari pencarian, secercah kabar datang.


Pada Sabtu, 4 Juli 2026, sekitar pukul 15.55 WIB, tim gabungan menemukan Bripda Nopandri Ramadhana.


Korban ditemukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Katingan, tepatnya di seberang Desa Tumbang Lahang, Kecamatan Katingan Tengah.


Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono menjelaskan korban ditemukan oleh Briptu Rangga dan Bripda Ryan.


Saat ditemukan, tubuh korban sudah dalam kondisi kaku, terapung, dan tersangkut pada ranting kayu di tepi sungai.


Jenazah kemudian dievakuasi menuju Rumah Sakit Bhayangkara untuk dilakukan autopsi.


Sehari Berselang, Aiptu Sumaryanto Juga Ditemukan


Harapan menemukan Aiptu Sumaryanto dalam keadaan selamat akhirnya pupus.


Pada Minggu, 5 Juli 2026, sejak pukul 06.00 WIB tim kembali menyisir Sungai Katingan.


Sekitar pukul 08.42 WIB, informasi diterima dari Babinsa Rantau Asem, Kopda Imam, mengenai penemuan sesosok mayat di Sungai Desa Rantau Asem.


Lokasi penemuan berjarak sekitar empat kilometer dari titik awal operasi.


Tim segera menuju lokasi dan memastikan bahwa jenazah tersebut adalah Aiptu Sumaryanto.


Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso, menyampaikan bahwa pada pukul 09.45 WIB jenazah langsung dievakuasi menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya untuk proses autopsi.


Pengorbanan dalam Memerangi Narkoba


Gugurnya tiga anggota Satresnarkoba Polres Katingan menjadi pengingat bahwa perang melawan narkotika bukan sekadar penegakan hukum, tetapi juga pertaruhan nyawa.


Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana jaringan narkotika diduga mampu menggerakkan perlawanan secara masif terhadap aparat, bahkan dengan menggunakan senjata tajam dan senjata api rakitan.


Kini, aparat kepolisian masih terus mendalami keterlibatan seluruh pelaku penyerangan, memburu pihak-pihak yang bertanggung jawab, sekaligus mengusut tuntas jaringan narkotika yang diduga menjadi pemicu tragedi tersebut.


Di balik keberhasilan mengungkap kasus narkoba, terdapat pengorbanan besar yang harus dibayar. Tiga anggota Polri gugur saat menjalankan tugas negara, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, institusi kepolisian, dan masyarakat Indonesia.


(L6)


#Peristiwa #Polri #Narkoba

×
Berita Terbaru Update