Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

AKSI AKAR PESISIR PPK ORMAWA KOMBAD JUSTITIA WUJUDKAN PESISIR NAGARI KETAPING YANG BERSIH, HIJAU, DAN BERKELANJUTAN

20 July 2026 | July 20, 2026 WIB Last Updated 2026-07-20T06:31:26Z

AKSI AKAR PESISIR PPK ORMAWA KOMBAD JUSTITIA WUJUDKAN PESISIR NAGARI KETAPING YANG BERSIH, HIJAU, DAN BERKELANJUTAN



D'On, Padang Pariaman  Mentari pagi menyinari hamparan Pantai Ketaping ketika puluhan mahasiswa, masyarakat, pemuda, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Babinsa, hingga relawan mulai memunguti sampah yang berserakan di sepanjang garis pantai. Kantong-kantong sampah perlahan terisi, sementara tawa, semangat, dan gotong royong menyatu dalam satu tujuan: mengembalikan wajah pesisir Nagari Ketaping agar kembali bersih, hijau, dan lestari.


Pemandangan tersebut menjadi bagian dari Aksi Akar Pesisir, sebuah gerakan kolaboratif yang digagas oleh Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) KOMBAD Justitia Fakultas Hukum Universitas Andalas melalui program unggulannya, PIONIR TAMBAK (Pelopor Inovasi dan Rehabilitasi Tambak). Program ini mengusung pendekatan Blue Economy, yakni konsep pembangunan yang menempatkan kelestarian ekosistem sebagai fondasi utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.


Nagari Ketaping dikenal sebagai salah satu kawasan pesisir dengan potensi besar di Kabupaten Padang Pariaman. Kekayaan sumber daya laut, aktivitas tambak udang, serta pesona wisata pantainya menjadi tumpuan ekonomi masyarakat. Namun, di balik potensi tersebut, terdapat persoalan lingkungan yang semakin nyata. Sampah plastik dan limbah domestik masih banyak ditemukan di kawasan pesisir. Di sisi lain, berkurangnya vegetasi pantai menyebabkan kawasan ini semakin rentan terhadap abrasi yang perlahan mengikis daratan.


Melihat kondisi tersebut, Tim PPK Ormawa KOMBAD Justitia tidak hanya datang membawa program, tetapi juga membangun gerakan bersama masyarakat. Mereka meyakini bahwa menjaga pesisir bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.


Kegiatan diawali dengan aksi bersih pantai yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Mahasiswa bersama warga bergotong royong mengumpulkan sampah plastik, botol bekas, hingga limbah rumah tangga yang terbawa arus laut maupun ditinggalkan pengunjung. Aktivitas sederhana ini menjadi simbol bahwa perubahan besar selalu diawali dari tindakan kecil yang dilakukan secara bersama-sama.


Lebih dari sekadar membersihkan pantai, aksi tersebut menjadi media edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah dari sumbernya, serta membangun kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan. Kesadaran bahwa sampah yang dibuang hari ini dapat menjadi ancaman bagi kehidupan pesisir di masa depan menjadi pesan utama yang terus digaungkan selama kegiatan berlangsung.


Usai aksi bersih pantai, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi mengenai pengelolaan lingkungan hidup yang disampaikan oleh Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Padang Pariaman, Ibu Afni Susanti, Sp., M.Si.


Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga warga untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.


Beliau juga menegaskan bahwa edukasi lingkungan harus dilakukan secara konsisten agar mampu membentuk perubahan perilaku masyarakat. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan lingkungan bukan semata diukur dari banyaknya sampah yang berhasil dibersihkan, melainkan dari tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan.


Sesi sosialisasi berlangsung interaktif. Warga yang hadir aktif menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi, mulai dari minimnya fasilitas pengelolaan sampah hingga perlunya dukungan pemerintah dalam menjaga kawasan pesisir. Diskusi tersebut menjadi ruang bertukar gagasan antara masyarakat, pemerintah, dan akademisi untuk mencari solusi yang dapat diterapkan secara bersama.


Sebagai bentuk nyata rehabilitasi lingkungan, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penanaman 425 bibit pohon yang terdiri atas 200 bibit pohon pinago, 220 bibit kaliandra hasil kolaborasi bersama CSR PT Semen Padang, serta 5 bibit pohon ketapiang sebagai vegetasi khas kawasan pesisir.


Penanaman ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Pohon-pohon tersebut dipilih karena memiliki manfaat ekologis yang besar. Vegetasi pesisir berfungsi memperkuat struktur tanah, mengurangi laju abrasi, menjaga kelembapan lingkungan, meningkatkan kualitas udara, serta menciptakan ruang hijau yang mendukung keberlangsungan ekosistem pesisir.


Dalam jangka panjang, kawasan hijau yang terbentuk diharapkan mampu menjadi benteng alami yang melindungi pesisir dari ancaman kerusakan lingkungan sekaligus mempercantik kawasan wisata Pantai Ketaping sehingga memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.


Melalui PIONIR TAMBAK, Tim PPK Ormawa KOMBAD Justitia juga terus mendorong lahirnya pola pembangunan pesisir yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keseimbangan ekologi. Konsep Blue Economy yang diusung menjadi landasan untuk menciptakan sistem pengelolaan tambak dan lingkungan yang saling mendukung, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat tumbuh seiring dengan terjaganya alam.


Aksi Akar Pesisir membuktikan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Perubahan dapat lahir dari kepedulian, gotong royong, dan keberanian berbagai pihak untuk bergerak bersama. Mahasiswa menghadirkan gagasan, pemerintah memberikan dukungan, dunia usaha berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial, sementara masyarakat menjadi pelaku utama yang menjaga keberlanjutan hasil kegiatan.


Semangat kolaborasi yang terbangun pada hari itu menjadi harapan baru bagi masa depan Nagari Ketaping. Sebab, pesisir yang bersih bukan hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga menjamin keberlangsungan sumber daya alam, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memperkuat sektor wisata, serta membuka peluang ekonomi yang lebih luas.


Melalui Aksi Akar Pesisir, Tim PPK Ormawa KOMBAD Justitia Fakultas Hukum Universitas Andalas kembali menegaskan komitmennya bahwa pemberdayaan masyarakat harus diwujudkan melalui aksi nyata yang memberikan dampak langsung. Dengan sinergi yang terus terjaga antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Nagari Ketaping diharapkan berkembang menjadi kawasan pesisir yang bersih, hijau, tangguh, produktif, berkelanjutan, serta menjadi contoh pengelolaan pesisir berbasis kolaborasi di Sumatera Barat.


(*)


#UniversitasAndalas #SumateraBarat

×
Berita Terbaru Update