Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

HIMA IKM KM FKM UNAND Hadirkan Perubahan Nyata di Alai Parak Kopi, Bangun Kesadaran Warga Cegah DBD dari Lingkungan Sendiri

08 June 2026 | June 08, 2026 WIB Last Updated 2026-06-08T11:08:55Z

HIMA IKM KM FKM UNAND Hadirkan Perubahan Nyata di Alai Parak Kopi, Bangun Kesadaran Warga Cegah DBD dari Lingkungan Sendiri



D'On, PADANGAncaman Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini tidak hanya mengancam kesehatan, tetapi juga dapat menyebabkan kematian apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.


Menyadari pentingnya langkah pencegahan sejak dini, Himpunan Mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat Keluarga Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas (HIMA IKM KM FKM UNAND) menggelar Program Desa Binaan 2026 di Kelurahan Alai Parak Kopi, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang.


Mengusung tema "Peduli Lingkungan, Berani Berantas Jentik", program ini tidak sekadar menghadirkan penyuluhan kesehatan, tetapi juga membangun keterlibatan aktif masyarakat melalui berbagai kegiatan edukatif, preventif, dan pemberdayaan yang berlangsung selama tiga kali kunjungan pada 10, 17, dan 24 Mei 2026.


Program tersebut menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa dalam mendampingi masyarakat menghadapi persoalan kesehatan lingkungan yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah perkotaan.


Edukasi DBD: Membangun Kesadaran dari Akar Rumput


Rangkaian kegiatan diawali pada kunjungan pertama dengan penyuluhan kesehatan mengenai pencegahan DBD yang diikuti masyarakat setempat. Edukasi bertajuk "Waspada DBD: Cegah, Kenali, dan Laporkan" disampaikan oleh dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas, Yeffi Masnarivan, S.K.M., M.Kes., yang memiliki keahlian di bidang epidemiologi.


Dalam pemaparannya, Yeffi menjelaskan bahwa DBD masih menjadi ancaman serius yang dapat menyerang siapa saja, terutama ketika lingkungan sekitar tidak dikelola dengan baik.


Ia mengingatkan masyarakat agar mampu mengenali gejala awal DBD seperti demam tinggi mendadak, nyeri sendi, munculnya bintik merah pada kulit, hingga tanda-tanda perdarahan yang memerlukan penanganan medis segera.


Menurutnya, upaya pencegahan harus menjadi prioritas utama karena jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah terjadi kasus.


"Pencegahan DBD tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan peran aktif masyarakat untuk menjaga lingkungan dan menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk," ujar Yeffi Masnarivan di hadapan peserta.


Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis. Masyarakat juga diajak memahami berbagai langkah sederhana yang dapat diterapkan di rumah, mulai dari menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, hingga mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.


Belajar Membuat Ovitrap, Solusi Sederhana Mengendalikan Nyamuk


Sebagai bentuk implementasi langsung dari materi yang diberikan, peserta mengikuti pelatihan pembuatan ovitrap, alat sederhana yang digunakan untuk memantau sekaligus mengendalikan populasi nyamuk.


Menggunakan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, warga diajarkan cara membuat dan memasang ovitrap secara mandiri di rumah masing-masing.


Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat karena memberikan solusi praktis yang murah, mudah diterapkan, dan memiliki manfaat nyata dalam upaya pemberantasan sarang nyamuk.


Antusiasme peserta terlihat ketika mereka secara langsung mempraktikkan proses pembuatan ovitrap bersama panitia. Banyak warga mengaku baru mengetahui bahwa alat sederhana tersebut dapat membantu memutus siklus perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.


Tingkatkan Literasi Kesehatan Melalui Sosialisasi BPJS Kesehatan


Selain edukasi mengenai DBD, masyarakat juga mendapatkan informasi terkait program dan layanan BPJS Kesehatan yang disampaikan oleh BPJS Kesehatan Cabang Padang.


Dalam sesi tersebut, warga memperoleh pemahaman mengenai hak dan kewajiban peserta BPJS, prosedur pelayanan kesehatan, serta berbagai manfaat yang dapat diakses melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).


Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus memperluas akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas.


Senam Bersama, Wujudkan Masyarakat yang Lebih Sehat dan Aktif


Memasuki kunjungan kedua, suasana kebersamaan semakin terasa melalui kegiatan senam bersama yang melibatkan masyarakat dan panitia.


Sejak pagi hari, warga dari berbagai kelompok usia tampak memenuhi lokasi kegiatan untuk mengikuti gerakan yang dipandu instruktur senam.


Tawa, semangat, dan antusiasme peserta mewarnai jalannya kegiatan. Tidak hanya menjadi sarana olahraga, senam bersama juga menjadi momentum mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat.


Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak memahami bahwa menjaga kesehatan tidak selalu membutuhkan cara yang rumit. Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat menjadi langkah sederhana namun efektif dalam meningkatkan kualitas hidup.


Gotong Royong Bersihkan Lingkungan, Lawan DBD dari Sumbernya


Komitmen terhadap kesehatan lingkungan diwujudkan melalui aksi gotong royong bersama masyarakat.


Warga, mahasiswa, serta berbagai unsur terkait bahu-membahu membersihkan lingkungan sekitar dari sampah dan genangan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.


Kegiatan ini sekaligus menghidupkan kembali semangat kebersamaan yang menjadi salah satu kekuatan masyarakat Indonesia dalam menyelesaikan persoalan lingkungan.


Dengan membersihkan saluran air, memangkas semak-semak, dan mengelola sampah secara lebih baik, masyarakat diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bebas dari risiko penularan DBD.


Sulap Lahan Menjadi Taman Mini Tanaman Herbal


Masih dalam rangkaian kunjungan kedua, panitia bersama masyarakat melakukan pembuatan taman mini di area Puskesmas Pembantu Alai Parak Kopi.


Berbagai tanaman herbal seperti jahe, kunyit, serai, dan kemangi ditanam untuk menciptakan lingkungan yang lebih hijau sekaligus memberikan manfaat kesehatan bagi masyarakat.


Keberadaan taman mini ini diharapkan dapat menjadi media edukasi mengenai pemanfaatan tanaman obat keluarga sekaligus mempercantik lingkungan fasilitas kesehatan.


Langkah tersebut juga menjadi simbol bahwa upaya menjaga kesehatan dapat dimulai dari lingkungan sekitar dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.


Edukasi Kreatif untuk Anak-anak dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis


Rangkaian Program Desa Binaan 2026 ditutup melalui kunjungan ketiga yang menghadirkan berbagai kegiatan menarik dan bermanfaat.


Anak-anak mengikuti lomba menghias botol bekas sebagai bentuk edukasi kreatif mengenai pentingnya pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan.


Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa barang bekas yang selama ini dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi karya yang bernilai estetika sekaligus bermanfaat.


Di saat yang sama, masyarakat juga memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, tekanan darah, kadar gula darah, hingga pemeriksaan asam urat.


Layanan ini mendapat respons positif dari masyarakat karena membantu mereka mengetahui kondisi kesehatan secara dini tanpa harus mengeluarkan biaya.


Selain memberikan manfaat langsung, pemeriksaan kesehatan tersebut juga menjadi sarana meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.


Tinggalkan Jejak Edukasi yang Berkelanjutan


Sebagai bentuk keberlanjutan program, HIMA IKM KM FKM UNAND memasang plang edukasi mengenai pencegahan DBD di lingkungan Puskesmas Pembantu Alai Parak Kopi.


Media edukasi tersebut memuat berbagai informasi penting mengenai pemberantasan sarang nyamuk dan perilaku hidup bersih dan sehat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Keberadaan plang tersebut diharapkan menjadi pengingat jangka panjang bagi masyarakat agar terus menjaga kebersihan lingkungan dan aktif melakukan pencegahan DBD secara mandiri.


Ketua Pelaksana Desa Binaan 2026 menegaskan bahwa program ini tidak hanya berorientasi pada pemberian informasi, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat secara berkelanjutan.


Melalui kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, pemerintah, dan masyarakat, Program Desa Binaan 2026 berhasil menghadirkan langkah konkret dalam membangun lingkungan yang lebih sehat, lebih peduli, dan lebih tangguh menghadapi ancaman Demam Berdarah Dengue.


Dengan semangat "Peduli Lingkungan, Berani Berantas Jentik", HIMA IKM KM FKM Universitas Andalas berharap gerakan ini dapat terus tumbuh dan menjadi budaya di tengah masyarakat. Sebab, lingkungan yang bersih bukan hanya menciptakan kenyamanan, tetapi juga menjadi benteng pertama dalam melindungi masyarakat dari ancaman penyakit yang dapat dicegah bersama.


(Dimas)


#Padang #Daerah

×
Berita Terbaru Update