
Wali Kota Cilik Padang Hibahkan Karya Sendiri ke Perpustakaan, Heriza Syafani: Ini Bentuk Nyata Menanamkan Budaya Literasi
D'On, Padang - Semangat menumbuhkan budaya literasi di kalangan generasi muda kembali mendapat teladan dari sosok yang masih belia. Wali Kota Cilik Kota Padang Tahun 2026, Muhammad Alkhalifi Hakim atau yang akrab disapa Alif, menyerahkan hibah buku karya pribadinya kepada Perpustakaan Umum Daerah Kota Padang, Senin (5/10/2026).
Yang membuat penyerahan tersebut terasa istimewa, buku yang dihibahkan Alif bukan sekadar koleksi bacaan yang dibelinya dari toko buku. Dua judul buku yang diserahkan merupakan karya tulis Alif sendiri, yakni "Mental Baja" dan "Menembus Batas".
Sebanyak enam eksemplar dari dua judul tersebut diserahkan secara langsung kepada pihak Perpustakaan Umum Daerah Kota Padang. Karya itu selanjutnya diharapkan dapat menjadi bagian dari koleksi perpustakaan sekaligus memberikan inspirasi kepada anak-anak dan generasi muda lainnya untuk berani membaca, menulis, berkarya, serta menuangkan gagasan melalui tulisan.
Penyerahan buku tersebut turut dihadiri ibunda Alif. Kehadiran sang ibu menjadi bagian penting dalam momen tersebut, mengingat proses tumbuhnya minat membaca dan menulis pada seorang anak tidak terlepas dari dukungan lingkungan keluarga.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang, Heriza Syafani, menyambut baik langkah yang dilakukan Alif. Menurutnya, hibah buku tersebut memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan jumlah eksemplar yang diserahkan.
Heriza menilai, keberanian seorang anak untuk menghasilkan karya dan kemudian menyerahkannya kepada perpustakaan merupakan bentuk nyata bahwa literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga mendorong seseorang untuk menciptakan pengetahuan dan membagikannya kepada orang lain.
"Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Alif. Ini bukan hanya soal enam eksemplar buku yang diserahkan kepada perpustakaan, tetapi tentang nilai dan pesan yang jauh lebih besar di baliknya. Alif menunjukkan bahwa anak-anak juga bisa menjadi penulis, bisa menghasilkan karya, dan bisa berbagi gagasan melalui buku," ujar Heriza.
Ia menyebut, perpustakaan tidak seharusnya hanya dipandang sebagai tempat menyimpan buku. Lebih dari itu, perpustakaan merupakan ruang tumbuh bagi masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda, untuk menemukan pengetahuan, mengembangkan imajinasi, melahirkan gagasan, hingga menghasilkan karya.
Karena itu, menurut Heriza, karya Alif memiliki nilai edukatif sekaligus inspiratif. Buku tersebut tidak hanya menjadi tambahan koleksi perpustakaan, tetapi juga dapat menjadi contoh konkret bagi anak-anak lain bahwa usia bukan penghalang untuk berkarya.
"Ketika seorang anak menyerahkan buku hasil karyanya sendiri kepada perpustakaan, sesungguhnya ia sedang memberikan pesan kepada teman-temannya: jangan hanya menjadi pembaca, tetapi beranilah menjadi pencipta karya. Inilah semangat literasi yang ingin kita tumbuhkan," katanya.
Heriza juga menilai judul "Mental Baja" dan "Menembus Batas" memiliki pesan yang relevan dengan semangat generasi muda. Kedua judul tersebut menggambarkan keberanian untuk menghadapi tantangan, membangun ketangguhan, serta tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut penting ditanamkan sejak usia dini. Anak-anak perlu diberikan ruang untuk menyampaikan gagasan dan menunjukkan kemampuan mereka, termasuk melalui karya tulis.
"Literasi harus kita maknai sebagai kemampuan untuk berpikir, menyampaikan gagasan, menghasilkan karya, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Karena itu, apa yang dilakukan Alif hari ini sangat berarti. Ia tidak hanya menulis untuk dirinya sendiri, tetapi karyanya ia titipkan kepada perpustakaan agar dapat dibaca dan memberi inspirasi bagi orang lain," tutur Heriza.
Ia berharap langkah Alif dapat menjadi pemantik bagi anak-anak lainnya di Kota Padang untuk semakin dekat dengan buku dan dunia kepenulisan. Menurutnya, semakin banyak anak yang berani membaca dan menulis sejak dini, semakin besar pula peluang lahirnya generasi yang kritis, kreatif, percaya diri, dan memiliki kemampuan menyampaikan gagasan dengan baik.
Bagi Perpustakaan Umum Daerah Kota Padang, hibah tersebut juga menjadi bentuk kolaborasi positif antara pemerintah, keluarga, dan generasi muda dalam membangun ekosistem literasi.
Apalagi, karya yang diberikan berasal dari seorang anak yang dipercaya menjadi Wali Kota Cilik Kota Padang Tahun 2026. Posisi tersebut menjadikan Alif bukan hanya simbol partisipasi anak dalam pembangunan kota, tetapi juga dapat menjadi contoh bahwa anak-anak memiliki ruang untuk mengambil peran dan memberikan kontribusi sesuai kemampuan mereka.
Penyerahan buku "Mental Baja" dan "Menembus Batas" akhirnya bukan sekadar agenda serah terima koleksi perpustakaan. Di balik enam eksemplar buku tersebut terdapat pesan sederhana namun kuat: bahwa sebuah gagasan akan memiliki nilai lebih ketika dibagikan.
Dari seorang anak, melalui sebuah buku, semangat itu kini dititipkan kepada perpustakaan agar dapat terus dibaca, dipelajari, dan menginspirasi anak-anak lainnya.
Sebab, budaya literasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, ia tumbuh dari keberanian seorang anak untuk menulis, dari dukungan orang tua, lalu berkembang ketika sebuah karya dibagikan kepada banyak orang.
(Mond)
#Padang #Daerah