
Peringatan Keras TNI-Polri Babat Mafia Tambang, Kartel Narkoba Vape, dan Oknum Backing!
D'On, Jakarta - Sebuah pesan tegas yang berderum keras resmi dikirimkan dari jantung pertahanan negara. Bertempat di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, Senin (19/10/2026), dua pucuk pimpinan tertinggi benteng keamanan nasional Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menggelar konsolidasi tingkat tinggi.
Bukan sekadar formalitas protokoler, pertemuan ini menyebarkan sinyal perang terbuka terhadap gurita kejahatan terorganisir yang selama ini menggerogoti stabilitas dan kekayaan negara dari dalam.
1. Tabuh Genderang Perang terhadap Backing: "Sikat Tanpa Pandang Bulu!"
Kalimat paling mendidih keluar dari mulut Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto. Mantan jenderal reserse dan eks Kepala BNN ini mematok garis tegas: tidak ada tempat berlindung bagi siapapun yang memelihara kejahatan, termasuk oknum-oknum berkuasa yang selama ini menjadi tameng (backing) di balik layar.
"Kita harus meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat kerja sama dalam pemberantasannya. Tidak boleh ada kompromi terhadap siapa pun yang terlibat, termasuk pihak yang membekingi kejahatan tersebut!" tegas Jenderal Suyudi tanpa ragu.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika kosong. Ini adalah peringatan langsung bahwa sinergi TNI-Polri tidak akan ragu menembus dinding pertahanan hukum yang kerap dimanfaatkan para mafioso dan oknum pelindungnya.
2. Kartel Narkoba Incar Generasi Muda via Vape: Modus Halus, Dampak Mematikan
Fokus intensif diarahkan pada kejahatan peredaran narkotika yang kian licik. Para kartel kini secara terencana mengeksploitasi tren gaya hidup anak muda lewat penyalahgunaan rokok elektrik (vape) yang disusupi narkotika cair.
Dengan pengalamannya membongkar jaringan narkoba internasional, Suyudi mendorong sinergi intelijen dan penindakan bersama TNI-Polri. Langkah ini diposisikan untuk mengunci pintu-pintu masuk penyelundupan di garis batas negara, menggrebek laboratorium gelap, dan meratakan jaringan distribusinya hingga ke tingkat teratas.
3. Pembentukan Satgas Terpadu: Sapu Bersih Mafia Tambang & Premanisme Seragam
Kerugian negara akibat penjarahan sumber daya alam via pertambangan ilegal (illegal mining) yang mencapai angka fantastis tidak lagi ditoleransi. TNI dan Polri resmi menyepakati pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Terpadu.
Satgas gabungan ini tidak cuma bertugas menggusur pengerukan liar di lapangan, melainkan mengejar aktor intelektual (mastermind) dan mendistrupsi alir uang (follow the money) para mafia tambang.
Pada saat bersamaan, Satgas ini dibebani misi menyapu bersih praktik pemalakan dan premanisme berkedok ormas maupun kelompok tertentu yang kerap memeras dunia usaha serta merusak iklim investasi di berbagai daerah.
4. Benteng Siber Nasional: Antisipasi Teror Digital dan Kejahatan Identitas
Dunia kejahatan telah berpindah ke ruang digital, dan konsolidasi ini membaca ancaman tersebut secara presisi. Pertemuan strategis ini menegaskan pentingnya penguatan infrastruktur keamanan siber dan sistem identitas digital secara nasional.
Ancaman peretasan data vital, peretasan identitas warga, hingga kejahatan siber lintas negara (transnational cybercrime) kini ditangani sebagai salah satu domain utama pertahanan negara bersama.
"Penguatan keamanan siber dan sistem identitas digital menjadi bagian penting untuk melindungi masyarakat sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah," tandas Suyudi.
Kekuatan Penuh Tiga Matra
Keseriusan konsolidasi perang terhadap kejahatan ini ditandai dengan hadirnya pimpinan tertinggi seluruh matra militer:
- Laksamana TNI Muhammad Ali (Kepala Staf Angkatan Laut)
- Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono (Kepala Staf Angkatan Udara)
- Letjen TNI Erwin Djatniko (Irjenad, Mewakili Kepala Staf Angkatan Darat)
- Pejabat Utama Mabes TNI & Mabes Polri.
Langkah bersama ini memancarkan pesan yang amat terang bagi para pelaku kejahatan: Ketika benteng pertahanan dan keamanan negara bersatu rapat, ruang gerak mafia dan oknum pembekingnya resmi ditutup.
(B1)
#Nasional #TNI #Polri