Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Padang Masuk Tiga Besar Kota Terbaik Nasional dalam Pengelolaan Sanitasi 2026, Pemko Perkuat Pengelolaan Sampah dan Air Limbah

26 October 2026 | October 26, 2026 WIB Last Updated 2026-10-26T11:47:46Z

Padang Masuk Tiga Besar Kota Terbaik Nasional dalam Pengelolaan Sanitasi 2026, Pemko Perkuat Pengelolaan Sampah dan Air Limbah

D'On, Padang - Kota Padang berhasil menembus tiga besar kota terbaik di Indonesia dalam penilaian penyelenggaraan sistem pengelolaan sanitasi tahun 2026. Capaian ini menjadi pengakuan atas upaya Pemerintah Kota (Pemko) Padang dalam membenahi tata kelola persampahan dan air limbah domestik, sekaligus memperkuat fondasi pembangunan kota yang bersih, sehat, nyaman, dan berkelanjutan.


Namun, prestasi tersebut bukan sekadar soal peringkat. Di balik penilaian tingkat nasional itu, terdapat tantangan besar yang harus dijawab, mulai dari peningkatan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah, penguatan layanan pengangkutan, pengembangan pengolahan sampah organik, hingga pembangunan sistem pengelolaan air limbah yang mampu melindungi sungai dan lingkungan perkotaan dari pencemaran.


Keseriusan Padang dalam membenahi sektor sanitasi tersebut mengemuka ketika Wali Kota Padang, Fadly Amran, menerima kunjungan Tim Penilai Kabupaten/Kota Terbaik dalam Penyelenggaraan Sistem Pengelolaan Sanitasi Tahun 2026 di Gedung Putih, Kediaman Resmi Wali Kota Padang, Senin (26/10/2026).


Rombongan dipimpin Jabatan Fungsional (Jabfung) Teknik Penyehatan Lingkungan (TPL) Ahli Utama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Rezeki Perangin Angin. Turut hadir Kepala Balai Penataan Bangunan Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Sumatera Barat, Maria Doeni Isa, Sekretaris Daerah Kota Padang, Raju Minropa, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Padang, Didi Aryadi, Kepala Dinas PUPR Kota Padang, Malvi Hendri, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Fadelan Fitra Masta.


Kunjungan tersebut menjadi bagian penting dalam proses penilaian untuk memastikan bahwa capaian yang diperoleh berdasarkan data dan dokumen juga sejalan dengan kondisi nyata di lapangan.


Alokasikan 4,18 Persen APBD untuk Sanitasi


Dalam pertemuan tersebut, Fadly Amran menegaskan bahwa pengelolaan sanitasi merupakan salah satu komponen penting dalam mewujudkan visi Padang sebagai kota pintar (smart city) sekaligus kota sehat.


Menurutnya, kualitas sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, maupun kemajuan pelayanan digital. Ketersediaan layanan sanitasi yang baik, pengelolaan sampah yang teratur, serta sistem pengolahan air limbah yang memadai juga menjadi ukuran penting kualitas hidup masyarakat.


Atas dasar itu, Pemko Padang mengalokasikan 4,18 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran 2026 untuk memperkuat sektor persampahan dan pengelolaan air limbah domestik.


Alokasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk membangun sistem sanitasi yang lebih terencana, terintegrasi, dan berkelanjutan.


Fadly menyebutkan, pembenahan dilakukan tidak hanya melalui penyediaan sarana dan prasarana, tetapi juga lewat penguatan kelembagaan, peningkatan partisipasi masyarakat, serta penataan mekanisme pembiayaan pelayanan persampahan.


Pemko Padang, katanya, terus mendorong pembentukan Lembaga Pengelola Sampah (LPS), penerapan pemilahan sampah dari sumbernya, pencatatan kepatuhan masyarakat dan pelaku usaha, serta penyiapan tarif retribusi yang berkeadilan.


Selain itu, pada 2026 pemerintah kota juga menyiapkan pembentukan dua unit pelaksana teknis daerah (UPTD) guna memperkuat penyelenggaraan layanan sesuai dengan kebutuhan pengelolaan sanitasi.


Langkah tersebut diharapkan dapat membuat pengelolaan sampah semakin terorganisasi, dengan pembagian tanggung jawab yang lebih jelas dan pelayanan yang lebih mudah dievaluasi.


Libatkan Masyarakat, Perkuat Layanan Pengangkutan Sampah


Salah satu upaya yang dikembangkan Pemko Padang ialah penguatan Lembaga Pengelola Sampah berbasis masyarakat.


Dalam skema ini, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai pihak yang menghasilkan sampah, tetapi juga sebagai bagian penting dari solusi untuk mengurangi persoalan sampah perkotaan.


Fadly Amran menjelaskan, pengembangan LPS tersebut didukung sekitar 600 becak motor (bentor) yang digunakan untuk menjemput sampah dari lingkungan masyarakat.


Keberadaan armada tersebut diharapkan memperkuat layanan pengumpulan sampah, terutama agar sampah rumah tangga dapat diangkut secara lebih teratur dan tidak dibiarkan menumpuk di lingkungan permukiman.


Meski demikian, pengangkutan hanyalah salah satu mata rantai pengelolaan sampah. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir melalui pemilahan, pemanfaatan kembali, dan pengolahan sejak dari sumbernya.


Karena itu, Pemko Padang juga mendorong pemberian insentif bagi rumah tangga dan pelaku usaha yang melakukan pemilahan sampah. Upaya ini diperkuat melalui pengembangan bank sampah, pengomposan, serta pengolahan sampah organik.


Pendekatan tersebut diharapkan mampu membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat, yakni memandang sampah bukan semata-mata sebagai limbah yang harus dibuang, melainkan material yang sebagian masih dapat dimanfaatkan.


Pemilahan sejak dari rumah tangga juga berpotensi meningkatkan nilai ekonomis sampah yang dapat didaur ulang, mengurangi beban pengangkutan, dan menekan jumlah sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.


Dalam jangka panjang, keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada konsistensi layanan pemerintah, ketersediaan sarana pendukung, serta kesediaan masyarakat dan pelaku usaha untuk menerapkan kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.


Air Limbah Domestik Jadi Perhatian Serius


Selain persampahan, pengelolaan air limbah domestik menjadi agenda penting yang turut diperhatikan dalam penilaian sanitasi Kota Padang.


Air limbah yang berasal dari aktivitas rumah tangga dan kegiatan perkotaan membutuhkan sistem pengelolaan yang memadai agar tidak mencemari saluran drainase, sungai, maupun kawasan perairan.


Untuk menjawab tantangan tersebut, Fadly menyampaikan bahwa Pemko Padang tengah menyusun masterplan pengelolaan air limbah domestik. Perencanaan itu mencakup pengembangan sistem pengolahan terpusat berskala kota dengan memprioritaskan kawasan Batang Arau dan Muaro.


Kedua kawasan tersebut menjadi perhatian dalam rencana pengembangan sistem pengelolaan air limbah yang lebih terintegrasi.


Melalui perencanaan tersebut, pemerintah kota ingin memastikan pengembangan sanitasi tidak dilakukan secara parsial, melainkan berdasarkan kebutuhan kawasan, kondisi lingkungan, dan proyeksi pertumbuhan kota.


Sistem pengolahan air limbah yang terencana diharapkan dapat mengurangi risiko pencemaran akibat pembuangan limbah yang tidak dikelola dengan baik. Pada saat yang sama, upaya tersebut menjadi bagian dari perlindungan kualitas lingkungan dan peningkatan kesehatan masyarakat.


Fadly juga mengungkapkan peluang kerja sama sister city atau kota kembar dengan Kota Hildesheim, Jerman, untuk mendukung perencanaan sistem pengolahan air limbah yang berkelanjutan.


Peluang kerja sama ini diharapkan dapat membuka ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan pendekatan teknis dalam pengembangan infrastruktur sanitasi perkotaan.


Bagi Padang, penyusunan masterplan menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa kebutuhan pengolahan air limbah dapat dipetakan secara lebih sistematis, termasuk prioritas pembangunan, tahapan pelaksanaan, serta keberlanjutan pengelolaannya.


Dari 75 Daerah, Padang Masuk Tiga Kota Terbaik


Sementara itu, pimpinan Tim Penilai, Rezeki Perangin Angin, menjelaskan bahwa proses penilaian penyelenggaraan sistem pengelolaan sanitasi dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan data pengelolaan persampahan dan air limbah domestik.


Pada tahap awal, terdapat 75 kabupaten/kota yang mengikuti proses seleksi. Dari jumlah tersebut, penilaian kemudian mengerucut menjadi 15 daerah, sebelum akhirnya terpilih enam daerah terbaik yang terdiri atas tiga kabupaten dan tiga kota.


Dalam proses tersebut, Kota Padang berhasil masuk kelompok tiga kota terbaik di Indonesia berdasarkan tipologi kota.


Rezeki menegaskan, capaian tersebut patut diapresiasi. Namun, tim penilai tetap perlu melakukan peninjauan langsung untuk memastikan kesesuaian antara data yang disampaikan dengan kondisi pelaksanaan di lapangan.


“Berdasarkan tipologi kota, Padang masuk tiga terbaik di Indonesia. Ini patut diapresiasi, namun kami perlu melihat langsung kondisi di lapangan untuk memastikan hasil penilaian dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.


Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penilaian tidak berhenti pada kelengkapan administrasi atau capaian yang tercatat dalam dokumen. Implementasi kebijakan, efektivitas pelayanan, dan kondisi faktual menjadi bagian penting dalam memastikan kualitas pengelolaan sanitasi.


Bagi Pemko Padang, kunjungan tim penilai sekaligus menjadi kesempatan untuk memperlihatkan berbagai program yang telah berjalan serta menjelaskan arah kebijakan sanitasi yang tengah dikembangkan.


Di sisi lain, proses verifikasi juga menjadi ruang evaluasi untuk mengidentifikasi aspek yang masih perlu diperkuat agar penyelenggaraan sanitasi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.


Sanitasi Berkualitas untuk Mewujudkan Kota Sehat dan Berdaya Saing


Fadly Amran menegaskan, Pemko Padang ingin menjadikan kota ini sebagai salah satu tujuan yang menawarkan pelayanan dasar berkualitas, lingkungan yang bersih, serta standar kebersihan yang baik bagi masyarakat maupun pengunjung.


“Kami ingin menjadikan Padang sebagai kota tujuan dengan pelayanan dasar yang berkualitas melalui pembenahan sanitasi, air bersih, kebersihan lingkungan, serta standar kebersihan usaha dan produk makanan. Penilaian ini menjadi momentum untuk memperkuat pengelolaan sanitasi demi mewujudkan Kota Padang yang bersih, sehat, nyaman, dan berdaya saing,” kata Fadly.


Menurutnya, sanitasi memiliki keterkaitan erat dengan berbagai aspek pembangunan kota. Lingkungan yang bersih dan sehat mendukung kualitas hidup masyarakat, sedangkan pengelolaan limbah yang baik berperan dalam menjaga kualitas lingkungan serta menciptakan kawasan perkotaan yang lebih nyaman.


Standar kebersihan tempat usaha dan produk makanan juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan pengunjung.


Dengan demikian, pembenahan sanitasi tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan teknis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun citra kota yang layak huni dan memiliki daya saing.


Fadly berharap, berbagai langkah yang telah dirintis dapat terus diperkuat melalui koordinasi antarorganisasi perangkat daerah, dukungan pemerintah pusat, serta partisipasi aktif masyarakat.


Tantangan Berikutnya: Memastikan Program Berjalan Konsisten


Keberhasilan Padang masuk tiga besar kota terbaik nasional dalam penilaian pengelolaan sanitasi 2026 merupakan capaian penting. Namun, ukuran keberhasilan sesungguhnya tetap terletak pada kemampuan pemerintah memastikan bahwa kebijakan tersebut berjalan secara konsisten dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.


Penguatan LPS dan dukungan sekitar 600 bentor perlu diikuti dengan pelayanan pengangkutan yang tertata. Program pemilahan sampah membutuhkan edukasi berkelanjutan, sementara bank sampah dan pengomposan memerlukan dukungan sarana serta sistem pemanfaatan hasil yang jelas.


Demikian pula rencana pengelolaan air limbah domestik membutuhkan perencanaan yang matang, tahapan pembangunan yang realistis, dan pengelolaan jangka panjang agar infrastruktur yang dikembangkan dapat berfungsi secara optimal.


Kunjungan Tim Penilai Kabupaten/Kota Terbaik dalam Penyelenggaraan Sistem Pengelolaan Sanitasi Tahun 2026 pun menjadi momentum bagi Pemko Padang untuk menunjukkan bahwa capaian yang diraih tidak semata-mata menjadi kebanggaan administratif, tetapi juga menjadi dorongan untuk memperbaiki kualitas layanan dasar.


Dengan komitmen anggaran, penguatan kelembagaan, keterlibatan masyarakat, dan perencanaan pengolahan air limbah yang berkelanjutan, Padang berupaya membangun sistem sanitasi yang semakin kuat.


Pada akhirnya, prestasi tersebut akan memiliki arti paling besar ketika masyarakat merasakan lingkungan yang lebih bersih, saluran air yang lebih terjaga, pengelolaan sampah yang lebih tertib, serta kualitas hidup yang semakin baik.


Masuk tiga besar nasional menjadi langkah penting. Tantangan selanjutnya adalah memastikan bahwa prestasi itu berkelanjutan dan benar-benar tercermin dalam kehidupan sehari-hari warga Kota Padang.


(Mond)


#Padang #Sanitasi #Daerah

×
Berita Terbaru Update