
ISI Padang Panjang di Persimpangan: Gedung Dibangun, Fasilitas Mahasiswa Dipertanyakan
D'On, Padang panjang - Mahasiswa Tak Menolak Pembangunan, Mereka Mempertanyakan Prioritas: Ketika Ruang Belajar Harus Dicari, Ruang Musik Dibatasi, Alat Praktik Tertinggal, dan Bangunan Belum Tuntas
Ada paradoks yang kini mengemuka di lingkungan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang.
Di satu sisi, pembangunan fisik terus menjadi bagian dari wajah kampus.
Di sisi lain, sejumlah mahasiswa masih berhadapan dengan persoalan yang sangat mendasar: ruang belajar yang terbatas, fasilitas praktik yang belum ideal, peralatan yang dinilai membutuhkan pembaruan, ruang latihan yang dibatasi, hingga kondisi sejumlah fasilitas gedung yang dikeluhkan.
Di titik inilah persoalannya menjadi lebih serius.
Ini bukan lagi sekadar cerita tentang mahasiswa yang mengeluhkan fasilitas.
Ini mulai menjadi pertanyaan tentang arah kebijakan dan skala prioritas pembangunan kampus.
Mahasiswa pun menegaskan, mereka tidak sedang memusuhi pembangunan.
Justru pembangunan tetap mereka dukung.
Yang mereka persoalkan adalah ketika pembangunan fisik berjalan, tetapi kebutuhan yang bersentuhan langsung dengan proses belajar, praktik dan penciptaan karya belum sepenuhnya terjawab.
Mereka tidak bertanya mengapa kampus membangun.
Mereka bertanya: apa yang lebih dulu seharusnya dibangun dan diselesaikan?
Ketika Gedung Menjadi Simbol, Fasilitas Menjadi Persoalan
Bagi mahasiswa, bangunan baru tentu bukan sesuatu yang harus ditolak.
Kampus membutuhkan ruang yang layak.
Infrastruktur harus berkembang.
Fasilitas harus ditingkatkan.
Tetapi pembangunan tidak seharusnya berhenti pada bangunan yang terlihat dari luar.
Sebab mahasiswa tidak belajar dari beton.
Mereka belajar dari ruang yang dapat digunakan, studio yang tersedia, peralatan yang berfungsi, teknologi yang relevan, ruang latihan yang dapat diakses, serta lingkungan akademik yang mendukung proses kreatif.
Apalagi ISI Padang Panjang merupakan perguruan tinggi seni.
Karakter pendidikan seni sangat bergantung pada praktik.
Mahasiswa tidak cukup hanya menerima teori.
Mereka harus mencoba, mengulang, bereksperimen, memproduksi karya dan berlatih sampai kemampuan mereka terbentuk.
Maka ketika fasilitas praktik tidak memadai, dampaknya tidak berhenti pada persoalan kenyamanan.
Yang dipertaruhkan adalah kualitas proses pendidikan itu sendiri.
Fotografi: Kampus Ada, Tetapi Ruang Belajar Harus Berburu
Keluhan mahasiswa Program Studi Fotografi menjadi salah satu gambaran paling jelas mengenai persoalan tersebut.
Mahasiswa mengaku tidak selalu memiliki ruang yang dapat digunakan secara konsisten untuk menjalankan kegiatan pembelajaran dan praktik.
Dalam kondisi tertentu, mereka harus mencari kelas yang sedang kosong.
Mereka menumpang.
Berpindah.
Menunggu ruang tersedia.
Situasi ini kemudian memunculkan pertanyaan yang sulit dihindari:
Jika mahasiswa harus mencari kelas kosong untuk belajar, di mana sebenarnya ruang belajar mereka?
“Di Fotografi kami sering menumpang dan mencari kelas kosong. Apakah itu namanya adil dan merata?” ujar seorang mahasiswa.
Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana.
Namun maknanya jauh lebih besar.
Ia menyentuh persoalan mengenai pemerataan fasilitas antarprogram studi.
Sebab pemerataan tidak bisa hanya diukur berdasarkan jumlah gedung atau ruangan yang dimiliki kampus.
Setiap disiplin seni memiliki kebutuhan berbeda.
Fotografi membutuhkan ruang yang memungkinkan mahasiswa melakukan praktik, mengembangkan teknik, mengolah karya dan menggunakan berbagai perangkat pendukung.
Jika ruang tersebut tidak tersedia secara konsisten, mahasiswa akhirnya harus menyesuaikan diri dengan ruang yang ada.
Pertanyaannya kemudian:
Apakah kebutuhan ruang masing-masing program studi sudah benar-benar dihitung berdasarkan karakter pendidikannya?
Atau pembangunan selama ini lebih banyak diukur dari apa yang tampak secara fisik?
Seni Musik: Ketika Waktu Belajar Bertabrakan dengan Jam Operasional
Persoalan lain muncul dari mahasiswa Program Studi Seni Musik.
Bagi mereka, kuliah tidak otomatis berakhir ketika dosen meninggalkan ruang kelas.
Ada latihan ansambel.
Ada latihan kelompok.
Ada persiapan ujian.
Ada persiapan pertunjukan.
Ada latihan orkestra.
Dan semua itu membutuhkan waktu.
Dalam banyak kondisi, malam hari justru menjadi waktu yang paling memungkinkan bagi mahasiswa untuk berkumpul dan berlatih.
Namun mahasiswa mengaku penggunaan ruang pada malam hari menghadapi pembatasan.
“Waktu yang bisa kami gunakan untuk latihan justru malam. Tetapi ketika kami latihan, kami diminta keluar,” ujar mahasiswa.
Di sini terdapat persoalan yang patut dijawab pengelola kampus.
Bagaimana menyelaraskan jam operasional fasilitas dengan karakter pendidikan seni?
Sebab ruang latihan musik bukan sekadar ruangan kosong.
Ruang tersebut merupakan bagian dari laboratorium akademik.
Di sana mahasiswa membangun kemampuan musikal.
Di sana mereka melakukan latihan berulang.
Di sana sebuah kelompok menyatukan permainan.
Di sana mereka mempersiapkan ujian dan pertunjukan.
Jika kebutuhan akademik mahasiswa berlangsung hingga malam, tetapi akses terhadap ruang justru dibatasi pada waktu tersebut, maka harus ada mekanisme yang mampu mempertemukan kedua kepentingan itu.
Aturan tentu diperlukan.
Keamanan tentu penting.
Tetapi kebijakan fasilitas juga harus mampu menjawab kebutuhan akademik.
Jangan sampai kampus memiliki ruang, tetapi mahasiswa tidak memiliki waktu untuk menggunakannya.
Televisi dan Film: Ketika Teknologi Kampus Dikejar Perkembangan Industri
Di Program Studi Televisi dan Film, persoalannya berbeda lagi.
Mahasiswa menyoroti kondisi sejumlah peralatan praktik yang dinilai sudah lama digunakan dan membutuhkan pembaruan.
Persoalan ini menjadi penting karena teknologi industri televisi dan film tidak pernah berhenti bergerak.
Kamera berkembang.
Perangkat audio berkembang.
Teknologi pencahayaan berkembang.
Sistem editing berkembang.
Teknik produksi berubah.
Industri bergerak cepat.
Pertanyaannya bukan sekadar apakah alat yang tersedia masih bisa menyala atau masih bisa digunakan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah mahasiswa sedang belajar dengan teknologi yang masih relevan dengan dunia industri yang akan mereka masuki?
Jika kampus menginginkan lulusan yang siap menghadapi industri kreatif, maka fasilitas praktik menjadi salah satu instrumen penting.
Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman dengan perangkat yang memungkinkan mereka memahami perkembangan teknologi produksi.
Sebab ada risiko yang tidak boleh diabaikan:
ketika industri berlari, tetapi fasilitas pendidikan berjalan terlalu lambat, mahasiswa yang akhirnya harus mengejar ketertinggalan.
Kebocoran, Tetesan Air dan Toilet: Persoalan Lama yang Tak Boleh Dianggap Sepele
Keluhan mahasiswa juga menyentuh kondisi sejumlah bangunan dan fasilitas pendukung.
Mulai dari kebocoran, lantai yang terkena tetesan air hingga fasilitas toilet yang dinilai belum memadai.
Sekilas, persoalan itu mungkin tampak kecil jika dibandingkan dengan pembangunan gedung bernilai besar.
Tetapi bagi mahasiswa yang menggunakannya setiap hari, persoalan kecil tersebut justru menjadi pengalaman nyata.
Di sinilah pentingnya pemeliharaan.
Membangun gedung dan merawat gedung adalah dua pekerjaan yang sama-sama penting.
Gedung baru tanpa pemeliharaan yang baik pada akhirnya juga akan menghadapi persoalan.
Begitu pula fasilitas lama yang terus digunakan tanpa pembaruan atau perbaikan yang memadai.
Karena itu, pembangunan semestinya tidak hanya berbicara tentang proyek baru.
Ada pertanyaan lain yang harus dijawab:
Bagaimana memastikan aset yang sudah dimiliki kampus tetap layak digunakan mahasiswa?
Pembangunan yang Belum Tuntas: Mengapa dan Sampai Kapan?
Yang juga menjadi sorotan adalah keberadaan sejumlah pembangunan fisik yang dinilai belum selesai.
Mahasiswa menyebut kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan.
Jika sebuah pembangunan memang dibutuhkan, tentu penyelesaiannya menjadi penting agar manfaatnya bisa segera dirasakan.
Namun ketika pembangunan berhenti atau belum memberikan manfaat sebagaimana diharapkan, publik berhak mengetahui:
Apa kendalanya?
Mengapa belum selesai?
Bagaimana status pekerjaannya?
Kapan ditargetkan rampung?
Dan yang paling penting:
Kapan mahasiswa dapat menggunakannya?
Pertanyaan tersebut bukan berarti mahasiswa menolak pembangunan.
Sebaliknya, mahasiswa justru meminta agar pembangunan yang telah direncanakan benar-benar memberikan manfaat.
Sebab bangunan yang belum dapat digunakan belum bisa disebut sebagai solusi.
Bukan Anti-Pembangunan, Tetapi Anti-Salah Prioritas
Di sinilah inti persoalannya.
Mahasiswa tidak sedang berdiri berhadapan dengan pembangunan.
Mereka justru sedang mempertanyakan urutan prioritas.
Sebuah kampus tentu membutuhkan pembangunan fisik.
Tetapi pada saat bersamaan, mahasiswa membutuhkan ruang belajar.
Mereka membutuhkan studio.
Mereka membutuhkan alat praktik.
Mereka membutuhkan ruang latihan.
Mereka membutuhkan fasilitas yang terawat.
Mereka membutuhkan teknologi yang tidak terlalu jauh tertinggal dari kebutuhan industri.
Dan mereka membutuhkan kepastian bahwa fasilitas tersebut benar-benar dapat digunakan ketika diperlukan.
Maka pembangunan idealnya tidak berjalan sendiri.
Gedung harus dibangun. Fasilitas harus dipenuhi. Peralatan harus diperbarui. Bangunan harus dirawat.
Semua harus berjalan beriringan.
Pertanyaan yang Kini Tak Bisa Dihindari
Rangkaian persoalan tersebut pada akhirnya membawa satu pertanyaan besar:
Apa sebenarnya desain besar pembangunan fasilitas ISI Padang Panjang?
Apakah seluruh pembangunan telah disusun berdasarkan pemetaan kebutuhan setiap program studi?
Bagaimana skala prioritasnya?
Mana yang dianggap paling mendesak?
Bagaimana kampus menentukan kebutuhan ruang?
Bagaimana pengadaan dan pembaruan peralatan praktik dilakukan?
Bagaimana pemeliharaan gedung direncanakan?
Bagaimana mahasiswa dapat menggunakan ruang latihan di luar jam perkuliahan?
Dan bagaimana memastikan fasilitas pendidikan seni tetap mengikuti perkembangan industri kreatif?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin penting karena mahasiswa merupakan kelompok yang paling langsung menggunakan fasilitas kampus.
Mereka bukan sekadar penerima kebijakan.
Mereka adalah pengguna utama.
Karena itu, suara mereka layak menjadi salah satu bahan evaluasi dalam menentukan arah pembangunan fasilitas.
Jangan Sampai Kampus Terlihat Maju, Tetapi Mahasiswa Masih Berjuang Mencari Ruang
Ada perbedaan antara kampus yang sedang dibangun dan kampus yang sedang memperbaiki kualitas pendidikan.
Keduanya memang bisa berjalan bersamaan.
Namun pembangunan fisik tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran kemajuan.
Sebab kemajuan kampus seharusnya terasa ketika mahasiswa masuk ke ruang kelas.
Terasa ketika mereka memasuki studio.
Terasa ketika mereka mengambil kamera.
Terasa ketika mereka memainkan alat musik.
Terasa ketika mereka melakukan produksi.
Terasa ketika mereka menyelesaikan sebuah karya.
Dan terasa ketika mereka tidak lagi harus bertanya:
“Ruang kosong ada di mana?”
“Kapan kami boleh latihan?”
“Mengapa alat ini belum diperbarui?”
“Kapan fasilitas ini diperbaiki?”
Jika pertanyaan-pertanyaan semacam itu masih terus muncul, maka pembangunan fasilitas perlu dievaluasi bukan hanya dari sisi apa yang dibangun, tetapi juga apa yang belum terselesaikan.
Bola Ada di Tangan Rektorat
Kini bola berada di tangan pengelola ISI Padang Panjang.
Mahasiswa sudah menyampaikan keresahan mereka.
Publik tinggal menunggu penjelasan dari pihak kampus.
Bukan sekadar pernyataan bahwa pembangunan sedang berjalan.
Bukan sekadar janji bahwa fasilitas akan diperbaiki.
Tetapi data, peta kebutuhan, skala prioritas, target penyelesaian dan langkah konkret.
Sebab transparansi dalam pembangunan kampus bukan ancaman.
Justru transparansi merupakan bagian dari upaya memastikan setiap pembangunan benar-benar memberi manfaat.
Pada akhirnya, pertanyaan mahasiswa sederhana:
Untuk apa membangun kampus jika fasilitas yang menjadi denyut kehidupan akademiknya masih dipersoalkan?
ISI Padang Panjang tidak hanya membutuhkan gedung yang berdiri.
Ia membutuhkan ruang yang hidup.
Membutuhkan studio yang bisa digunakan.
Membutuhkan alat yang relevan.
Membutuhkan ruang latihan yang dapat diakses.
Membutuhkan fasilitas yang terawat.
Dan yang paling penting, membutuhkan kebijakan pembangunan yang benar-benar berpihak pada kebutuhan akademik.
Karena kampus seni bukan museum bangunan.
Ia adalah tempat lahirnya karya.
Dan karya tidak lahir hanya dari beton dan dinding.
Karya lahir dari ruang, alat, waktu, kesempatan dan fasilitas yang memungkinkan mahasiswa terus berlatih dan mencipta.
Maka persoalan fasilitas di ISI Padang Panjang kini layak dilihat lebih jauh.
Bukan lagi sekadar:
“Ada fasilitas atau tidak?”
Melainkan:
“Apakah pembangunan yang dilakukan sudah benar-benar menjawab kebutuhan mahasiswa?”
Jika jawabannya belum, maka kritik mahasiswa bukan sekadar keluhan.
Ia adalah alarm agar arah pembangunan kampus tidak kehilangan tujuan utamanya: menghadirkan pendidikan yang layak, relevan dan mampu melahirkan seniman-seniman berkualitas.
(Mond/Che)
#Demonstrasi #ISIPadangPanjang #SumateraBarat