Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pelatihan Membatik PKW 2026 Ditutup, Peserta Didorong Jadi Wirausaha dan Buka Lapangan Kerja

21 August 2026 | August 21, 2026 WIB Last Updated 2026-08-21T09:22:04Z

Pelatihan Membatik PKW 2026 Ditutup, Peserta Didorong Jadi Wirausaha dan Buka Lapangan Kerja



D'On, Padang — Pelatihan Membatik Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Tahun 2026 resmi berakhir. Namun, penutupan pelatihan yang digelar di Sekretariat Dekranasda Kota Padang, Kamis (20/8/2026), bukan menjadi akhir dari proses belajar para peserta.


Sebaliknya, momen tersebut menjadi titik awal bagi peserta untuk membawa keterampilan yang telah diperoleh selama pelatihan ke dunia usaha, dunia kerja, sekaligus membuka peluang ekonomi baru.


Ketua Dekranasda Kota Padang, dr. Dian Puspita Fadly Amran, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak cukup hanya diukur dari terselesaikannya rangkaian pelatihan maupun diterimanya sertifikat oleh peserta.


Menurut Dian, tujuan yang lebih besar adalah bagaimana keterampilan membatik yang telah dipelajari dapat benar-benar menjadi bekal untuk membangun kemandirian ekonomi.


“Adik-adik telah mengikuti proses belajar mulai dari mengenal bahan dan peralatan, membuat pola, mencanting, melakukan pewarnaan hingga menghasilkan karya-karya terbaik. Keterampilan tersebut tentu menjadi bekal yang sangat berharga dan harus terus dikembangkan untuk meningkatkan keterampilan, membangun kepercayaan diri, serta menciptakan masa depan yang lebih mandiri,” ujar Dian.


Ia mengapresiasi seluruh panitia, instruktur, narasumber, serta pihak-pihak yang telah mendampingi peserta sejak awal hingga pelatihan berakhir.


Bagi Dian, proses panjang yang dijalani peserta bukan sekadar pembelajaran teknis membuat batik. Di dalamnya terdapat proses membangun ketelitian, kesabaran, kreativitas, kedisiplinan, hingga keberanian untuk menghasilkan sebuah karya yang memiliki nilai ekonomi.


Karena itu, ia meminta peserta tidak berhenti setelah pelatihan selesai.


“Jangan berhenti hanya sampai mendapatkan sertifikat atau menghasilkan produk selama pelatihan. Kalian dikatakan berhasil apabila keterampilan yang diperoleh ini dapat menghasilkan sumber penghasilan dan bahkan membuka lapangan kerja,” tegasnya.


Dian mendorong para peserta untuk terus berlatih, menjaga kualitas, melakukan inovasi, serta mulai memanfaatkan berbagai saluran pemasaran, termasuk media sosial.


Menurutnya, perkembangan teknologi digital memberikan peluang besar bagi pelaku usaha baru untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pemasaran konvensional.


Peserta juga didorong membangun jejaring dan kerja sama, baik antarpeserta maupun dengan pelaku usaha, pemerintah, komunitas, serta berbagai pihak lainnya.


“Teruslah berlatih, tingkatkan kualitas, bangun usaha dengan sungguh-sungguh, manfaatkan media sosial untuk promosi, dan bangun kerja sama antarpeserta maupun dengan berbagai pihak,” pesannya.


Jangan Takut Memulai dari Nol


Dian juga memberikan dorongan khusus kepada peserta yang mungkin masih merasa ragu untuk memulai usaha.


Menurutnya, setiap pelaku usaha besar selalu melewati proses panjang dan tidak ada usaha yang langsung tumbuh besar sejak langkah pertama.


“Jangan merasa kecil karena baru memulai usaha. Setiap usaha besar selalu dimulai dari langkah pertama. Yang menentukan keberhasilan bukan hanya besarnya modal, tetapi kemauan untuk belajar, ketekunan menjaga kualitas, dan keberanian untuk terus mencoba,” katanya.


Ia menilai keterampilan membatik memiliki peluang untuk terus dikembangkan, terutama jika peserta mampu memadukan kreativitas dengan identitas budaya lokal.


Batik, kata Dian, bukan hanya persoalan menghasilkan kain bermotif. Di balik setiap prosesnya terdapat ketelitian dan ketekunan, sekaligus nilai budaya yang dapat menjadi kekuatan produk ketika dipasarkan.


Karena itu, inovasi tetap diperlukan, tetapi tidak boleh membuat produk kehilangan karakter budaya Minangkabau.


Dekranasda Kota Padang, lanjutnya, akan terus mendorong pengembangan kerajinan melalui pembinaan, promosi, hingga perluasan akses pemasaran.


Dukungan tersebut diharapkan dapat menjadi ekosistem yang membuat para perajin baru tidak berjalan sendirian setelah menyelesaikan pelatihan.


31 Kali Pertemuan, Peserta Ditempa Menjadi Calon Wirausaha


Sementara itu, Kepala Disnakerin Kota Padang sekaligus Ketua Harian Dekranasda Kota Padang, Ferri Erviyan Rinaldy, mengungkapkan pelatihan membatik PKW 2026 telah berlangsung sebanyak 31 kali pertemuan.


Setiap pertemuan berlangsung selama delapan jam. Dengan intensitas tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga menjalani proses praktik secara langsung hingga mampu menghasilkan karya.


Penutupan kegiatan ditandai dengan melihat hasil karya yang dibuat peserta selama mengikuti pelatihan.


Ferri mengatakan, pelatihan tersebut dirancang tidak sekadar memberikan keterampilan baru, tetapi juga menjadi salah satu instrumen untuk mendorong lahirnya sumber penghasilan baru di tengah masyarakat.


“Dengan pelatihan ini, kita tentu berharap tidak berhenti di sini saja. Peserta perlu mengembangkan model dan produknya setelah pelatihan. Kami berharap mereka dapat mandiri, baik dengan berwirausaha maupun bekerja di tempat usaha membatik. Namun, saya pribadi berharap mereka bisa menjadi wirausaha dan membuka lapangan kerja,” ujar Ferri.


Ia menilai kemampuan teknis yang telah dimiliki peserta harus terus diasah melalui inovasi. Sebab, dunia usaha menuntut produk yang tidak hanya memiliki keterampilan pengerjaan, tetapi juga mempunyai daya tarik, kualitas, serta kemampuan mengikuti kebutuhan pasar.


Pelatihan Mulai Membuka Pintu Dunia Kerja


Menariknya, dampak pelatihan tersebut mulai terlihat bahkan sebelum para peserta benar-benar melangkah jauh dari ruang pelatihan.


Ferri mengungkapkan, sejumlah tempat usaha batik telah meminta peserta pelatihan untuk bergabung.


“Alhamdulillah, ada beberapa tempat usaha batik yang sudah meminta para peserta pelatihan kita. Jadi, pelatihan ini tidak hanya sebatas pelatihan, tetapi juga mulai menghasilkan wirausaha-wirausaha baru,” katanya.


Hal tersebut menjadi sinyal positif bahwa keterampilan yang diberikan dalam program PKW mulai memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan dunia usaha.


Bagi peserta, peluang tersebut juga dapat menjadi pintu masuk untuk mendapatkan pengalaman lebih luas sebelum nantinya membangun usaha secara mandiri.


Ferri berharap kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik. Peserta diminta tidak cepat puas dengan kemampuan yang telah dimiliki, melainkan terus belajar dan meningkatkan kualitas.


“Inovasi dan kemauan untuk terus belajar menjadi bagian penting agar keterampilan yang sudah diperoleh tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berkembang menjadi kemampuan yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.


Peserta Mendapat Dukungan Transportasi


Selain mendapatkan pelatihan keterampilan, peserta PKW Tahun 2026 juga memperoleh dukungan biaya transportasi sebesar Rp2.635.000 per peserta.


Bantuan tersebut bersumber dari APBD Kota Padang Tahun 2026 dan diberikan sebagai bentuk dukungan agar peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian pelatihan tanpa terbebani persoalan biaya transportasi.


Dengan dukungan tersebut, pemerintah berharap peserta dapat mengikuti proses pelatihan secara optimal dan menyelesaikan seluruh tahapan yang telah ditetapkan.


Kini, setelah 31 kali pertemuan dilalui, peserta menghadapi tantangan yang sesungguhnya: bagaimana mengubah keterampilan menjadi karya yang konsisten, produk yang diminati pasar, serta penghasilan yang berkelanjutan.


Dari Canting Menuju Kemandirian Ekonomi


Pelatihan membatik PKW 2026 pada akhirnya bukan sekadar tentang bagaimana membuat batik.


Lebih jauh, program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun keberanian masyarakat untuk menciptakan peluang ekonomi dari keterampilan yang dimiliki.


Dari mengenal bahan dan peralatan, membuat pola, mencanting, memberi warna, hingga menghasilkan karya, peserta telah melewati tahapan yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.


Kini, pekerjaan rumah berada di tangan peserta sendiri.


Keterampilan tersebut harus terus dikembangkan menjadi produk bernilai jual, dipromosikan secara kreatif, serta dipertahankan kualitasnya.


Di saat yang sama, identitas budaya Minangkabau diharapkan tetap menjadi ruh dalam pengembangan motif dan produk batik yang dihasilkan.


Jika seluruh proses tersebut dapat dijalankan secara konsisten, maka pelatihan yang telah selesai bukan sekadar meninggalkan sertifikat bagi peserta.


Lebih dari itu, pelatihan diharapkan meninggalkan keahlian, keberanian memulai usaha, peluang kerja, dan lahirnya pelaku-pelaku usaha baru yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekaligus memperkuat wajah kerajinan Kota Padang.


Dengan demikian, penutupan pelatihan membatik PKW 2026 bukanlah garis akhir.


Justru dari sinilah perjalanan peserta untuk mengubah canting menjadi karya, karya menjadi produk, dan produk menjadi sumber penghasilan mulai benar-benar diuji.


(Mond)


#Dekrasnada #Padang #Daerah

×
Berita Terbaru Update