
Gempa Flores Makin Mematikan, Korban Tewas Tembus 100 Jiwa, 180 Ribu Warga Mengungsi
D'On, FLORES — Duka akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) belum berakhir. Jumlah korban meninggal dunia terus bertambah hingga mencapai 100 jiwa.
Bukan hanya korban jiwa, bencana tersebut juga menyebabkan 1.603 orang mengalami luka-luka dan memaksa sedikitnya 180.327 warga mengungsi dari rumah mereka.
Data terbaru itu disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto dalam konferensi pers daring, Senin (24/8/2026).
Menurut Suharyanto, angka korban meninggal yang kini mencapai 100 jiwa tidak seluruhnya merupakan korban yang meninggal saat gempa terjadi. Sebagian korban sebelumnya masih bertahan hidup, namun mengalami luka berat dan menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.
Namun, upaya medis tidak mampu menyelamatkan seluruh korban.
"Untuk jumlah korban meninggal, perlu kami tegaskan bahwa yang meninggal 100 ini adalah korban gempa yang semula luka berat dirawat di fasilitas kesehatan, namun tidak berhasil diselamatkan," ujar Suharyanto.
Dari 48 Menjadi 100 Korban Jiwa
Perubahan angka korban meninggal menunjukkan beratnya dampak bencana ini.
Pada hari pertama dan kedua setelah gempa, BNPB mencatat terdapat 48 korban meninggal dunia. Seiring berjalannya proses perawatan terhadap korban luka berat, angka tersebut kemudian meningkat hingga mencapai 100 jiwa.
"Sehingga yang semula di hari pertama dan hari kedua ada 48 yang meninggal dunia, angka per hari ini total menjadi 100 yang meninggal dunia," sambungnya.
Artinya, terdapat puluhan korban yang sebelumnya tercatat sebagai korban luka berat, tetapi kemudian meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan.
Manggarai Jadi Daerah dengan Korban Terbanyak
Dari tujuh kabupaten yang terdampak, Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal paling tinggi.
BNPB mencatat 38 orang meninggal dunia di Manggarai, disusul 34 orang di Manggarai Timur.
Sementara korban meninggal di wilayah lainnya masing-masing tercatat:
- Manggarai Barat: 1 jiwa
- Manggarai: 38 jiwa
- Manggarai Timur: 34 jiwa
- Ngada: 5 jiwa
- Nagekeo: 13 jiwa
- Ende: 3 jiwa
- Sikka: 6 jiwa
Besarnya jumlah korban di Manggarai dan Manggarai Timur membuat kedua daerah tersebut menjadi perhatian utama dalam penanganan pascabencana.
73 Ribu Rumah Rusak
Tragedi gempa juga meninggalkan kerusakan besar pada permukiman masyarakat.
Data sementara BNPB mencatat 73.818 unit rumah mengalami kerusakan.
Rinciannya, sebanyak 23.276 rumah rusak berat, 17.563 rumah rusak sedang, dan 32.979 rumah rusak ringan.
Puluhan ribu rumah yang rusak membuat persoalan pengungsian menjadi semakin kompleks. Warga yang rumahnya rusak berat tentu tidak bisa begitu saja kembali ke tempat tinggal mereka sebelum kondisi dinyatakan aman.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah harus memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, mulai dari tempat tinggal sementara, makanan, air bersih, layanan kesehatan hingga kebutuhan perlindungan kelompok rentan.
Sekolah hingga Tempat Ibadah Ikut Rusak
Dampak gempa juga menghantam berbagai fasilitas yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
BNPB mencatat sedikitnya 1.915 fasilitas umum mengalami kerusakan.
Fasilitas yang terdampak meliputi sekolah, tempat ibadah, kantor pemerintahan hingga berbagai infrastruktur lainnya.
Kerusakan fasilitas publik tidak hanya meninggalkan persoalan fisik. Aktivitas belajar, pelayanan pemerintahan, kegiatan keagamaan dan aktivitas masyarakat lainnya juga berpotensi terganggu.
180 Ribu Warga Masih Mengungsi
Di balik deretan angka tersebut, terdapat ratusan ribu warga yang kini harus menjalani kehidupan dalam kondisi tidak normal.
BNPB mencatat 180.327 jiwa masih mengungsi.
Bagi para pengungsi, bencana belum benar-benar berakhir. Mereka harus bertahan jauh dari rumah sembari menunggu kepastian mengenai kondisi tempat tinggal dan lingkungan mereka.
Jumlah pengungsi yang sangat besar juga menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan petugas di lapangan untuk memastikan kebutuhan dasar tetap tersedia.
BNPB: Data Masih Bisa Bertambah
BNPB menegaskan seluruh data tersebut masih bersifat sementara. Proses pendataan dan verifikasi masih terus dilakukan di lapangan.
Suharyanto menjelaskan, data dihimpun secara berjenjang dari tingkat paling bawah. Informasi dikumpulkan mulai dari kampung dan rukun tetangga, kemudian diteruskan ke desa, kecamatan, kabupaten hingga tingkat nasional.
"Data dikumpulkan secara berjenjang, bottom up dari mulai tingkat yang paling kecil, kampung, rukun tetangga, naik lagi ke atas sampai tingkat desa, camat, bupati, dan dihimpun di tingkat nasional," jelasnya.
Pendataan dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk BNPB dan BPS, untuk memastikan jumlah korban serta kerusakan yang tercatat benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.
Flores Menghadapi Masa Pemulihan Panjang
Gempa ini tidak hanya meninggalkan angka korban jiwa. Di balik 100 orang yang meninggal dunia, terdapat keluarga yang kehilangan orang tercinta. Di balik 73 ribu rumah yang rusak, terdapat ribuan keluarga yang kehilangan tempat tinggal yang aman.
Sementara itu, ribuan fasilitas publik yang rusak menjadi pekerjaan besar dalam proses pemulihan.
BNPB menyebut terdapat tujuh kabupaten yang terdampak gempa, dengan Manggarai dan Manggarai Timur menjadi wilayah yang mengalami dampak lebih parah dibandingkan daerah lainnya.
Kini, perhatian tidak hanya tertuju pada penyelamatan dan perawatan korban, tetapi juga bagaimana memastikan para pengungsi dapat bertahan, rumah-rumah yang rusak dapat dibangun kembali, fasilitas publik dipulihkan, serta kehidupan masyarakat Flores perlahan kembali normal.
Dengan 100 korban meninggal, 1.603 orang terluka, 180.327 warga mengungsi, 73.818 rumah rusak dan 1.915 fasilitas umum terdampak, gempa Flores meninggalkan pekerjaan kemanusiaan dan pemulihan yang sangat besar.
Dan di tengah proses pendataan yang masih berjalan, satu hal masih menjadi perhatian: angka tersebut belum menjadi angka final.
(L6)
#Peristiwa #GempaNTT