Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

TRAGEDI PILU PMI ASAL ACEH DI MALAYSIA: Putri Hensy dan Bayinya Ditemukan Tewas, Dugaan Pembunuhan Bermotif Utang Piutang Menggemparkan Publik

22 June 2026 | June 22, 2026 WIB Last Updated 2026-06-22T12:50:06Z

Anggota DPD asal Aceh, H Sudirman atau Haji Uma



D'On, MALAYSIA Harapan untuk mengubah nasib keluarga di negeri orang justru berakhir menjadi tragedi yang memilukan. Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Aceh Tamiang, Putri Hensy Aprilda (22), ditemukan meninggal dunia secara mengenaskan di Sepang, Selangor, Malaysia, bersama bayi yang baru saja dilahirkannya.


Peristiwa yang diduga sebagai kasus pembunuhan ini mengguncang masyarakat Aceh dan memantik perhatian luas publik Indonesia. Di balik kematian tragis tersebut, tersimpan kisah perjuangan seorang anak yatim piatu yang merantau demi membantu keluarganya, tetapi justru pulang dalam balutan duka.


Berawal dari Upaya Mencari Ahli Waris


Terungkapnya identitas Putri bermula dari informasi yang diterima Tim Gabungan Aceh Bersatu (GAB) Malaysia dari Atase Kepolisian KBRI Kuala Lumpur.


Melalui proses identifikasi bersama Pusat Identifikasi (Pusident) Bareskrim Polri, pihak KBRI kemudian berupaya mencari keberadaan keluarga korban di Aceh.


Informasi itu lalu diteruskan kepada anggota DPD RI asal Aceh, H Sudirman atau Haji Uma, yang langsung bergerak melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.


Langkah cepat dilakukan untuk memastikan keluarga korban mendapatkan pendampingan sekaligus mempersiapkan proses pemulangan jenazah.


Bayi yang Baru Dilahirkan Ikut Menjadi Korban


Duka semakin mendalam karena Putri tidak ditemukan seorang diri.


Bayi yang diperkirakan baru berusia beberapa hari juga ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.


Warga setempat sempat membawa bayi tersebut ke Rumah Sakit Klang. Namun, nyawanya tidak dapat diselamatkan dan jenazah kini berada di Rumah Sakit Shah Alam, Malaysia.


Sementara jenazah Putri berada di Rumah Sakit Serdang, Selangor.


Kematian ibu dan bayi dalam satu peristiwa membuat kasus ini menjadi perhatian serius aparat penegak hukum Malaysia.


Pelaku Sudah Diamankan


Perkembangan penyelidikan menunjukkan aparat Malaysia telah mengamankan seorang perempuan warga negara Malaysia yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.


Pelaku ditangkap pada 19 Juni 2026 dan kini menjalani proses hukum.


"Dari informasi yang kami terima dari KBRI Kuala Lumpur, pelaku diduga seorang perempuan warga Malaysia dan saat ini sedang diproses hukum," kata Haji Uma, Senin (22/6/2026).


Dugaan Motif Utang Piutang


Polis Diraja Malaysia (PDRM) menduga kasus pembunuhan ini berkaitan dengan persoalan utang piutang.


Meski detailnya belum dipublikasikan secara lengkap, aparat mengaku telah mengantongi sejumlah bukti penting yang mengarah pada keterlibatan pelaku.


Penyidik masih mendalami hubungan antara korban dan tersangka, termasuk kemungkinan adanya motif lain yang ikut melatarbelakangi kejahatan tersebut.


Apabila terbukti bersalah, pelaku dapat menghadapi hukuman berat sesuai ketentuan hukum Malaysia, mulai dari penjara seumur hidup hingga hukuman mati.


Kisah Perjuangan yang Berakhir Menjadi Duka


Putri Hensy bukanlah sosok yang lahir dari keluarga berkecukupan.


Ia merupakan seorang yatim piatu yang selama ini tinggal bersama neneknya di Aceh Tamiang.


Dengan kondisi ekonomi yang sederhana, Putri memilih bekerja di Malaysia sejak sekitar tiga tahun lalu untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.


Seperti jutaan pekerja migran lainnya, ia pergi meninggalkan kampung halaman membawa mimpi besar untuk mengangkat derajat keluarganya.


Namun, takdir berkata lain. Impian itu kini berubah menjadi luka yang mendalam.


Sang Nenek Hancur Mendengar Kabar Tersebut


Suasana haru menyelimuti rumah keluarga korban di Aceh Tamiang.


Sang nenek yang selama ini menjadi tempat Putri bersandar dikabarkan mengalami syok berat saat menerima kabar duka tersebut.


"Saat kami menyampaikan informasi itu, nenek korban sangat terpukul dan terus menangis," ujar Haji Uma.


Tangis keluarga pecah, bukan hanya karena kehilangan Putri, tetapi juga kehilangan bayi yang baru saja lahir ke dunia.


Pemulangan Jenazah Terkendala Biaya


Di tengah suasana duka, keluarga juga dihadapkan pada persoalan biaya pemulangan jenazah yang diperkirakan mencapai Rp36 juta.


Haji Uma bersama Tim Gabungan Aceh Bersatu (GAB) Malaysia, jaringan Aceh Meutuah, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, serta perangkat gampong bergerak menggalang bantuan.


Tim di Malaysia juga telah ditugaskan mendampingi seluruh proses administrasi, pengurusan rumah sakit, dan koordinasi dengan KBRI Kuala Lumpur hingga jenazah tiba di tanah air.


Alarm Keras bagi Perlindungan PMI Indonesia


Tragedi Putri Hensy Aprilda bukan sekadar kasus kriminal biasa. Peristiwa ini kembali membuka mata tentang rentannya kehidupan sebagian pekerja migran Indonesia di luar negeri.


Di balik setiap PMI yang berangkat mencari nafkah, ada keluarga yang menunggu dengan penuh harapan.


Namun, tidak sedikit yang justru pulang dalam keadaan tak bernyawa.


Kasus ini menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia harus terus diperkuat, mulai dari pendampingan hukum, pengawasan, hingga sistem perlindungan sosial yang lebih maksimal.


Kini, satu harapan tersisa dari keluarga dan masyarakat Aceh: keadilan harus ditegakkan, pelaku harus dihukum setimpal, dan Putri Hensy bersama bayinya harus segera dipulangkan untuk dimakamkan dengan layak di tanah kelahirannya.


Ia berangkat untuk mengubah masa depan keluarga, tetapi justru pulang membawa duka yang akan sulit dilupakan sepanjang masa.


(B1)


#Kriminal #Pembunuhan #Internasional #Malaysia

×
Berita Terbaru Update