Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

IMLF ke-4 dan Satu Abad Jam Gadang Resmi Bergulir, Bukittinggi Jadi Panggung Dunia bagi Budaya dan Literasi Minangkabau

04 June 2026 | June 04, 2026 WIB Last Updated 2026-06-04T06:29:24Z

IMLF ke-4 dan Satu Abad Jam Gadang Resmi Bergulir, Bukittinggi Jadi Panggung Dunia bagi Budaya dan Literasi Minangkabau



D'On, Bukittinggi – Kota Bukittinggi kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat kebudayaan dan sejarah terpenting di Indonesia. Rabu malam (3/6/2026), halaman Balai Kota Bukittinggi dipenuhi nuansa persahabatan internasional saat digelarnya Gala Dinner International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 yang dirangkaikan dengan pembukaan peringatan 100 Tahun Jam Gadang (1926-2026).


Kegiatan yang berlangsung meriah dan penuh warna budaya itu menjadi penanda dimulainya rangkaian agenda internasional yang akan berlangsung hingga 7 Juni 2026. Tak hanya menjadi perayaan satu abad ikon kebanggaan masyarakat Minangkabau, kegiatan ini juga menjadi ruang perjumpaan budaya dunia yang menghadirkan delegasi dari 38 negara.


Hadir dalam kesempatan tersebut Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Denny Abdi, Anggota DPR RI Shadiq Pasadigoe, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol Gatot Tri Suryanta, keluarga besar Presiden RI Prabowo Subianto, Dianti Ningsih dan Maryani, Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir, Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias bersama Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis, kepala daerah se-Sumatera Barat, unsur Forkopimda, tokoh adat, tokoh masyarakat, budayawan, sastrawan, seniman, hingga para duta besar dan delegasi negara sahabat.


Malam pembukaan berlangsung semarak dengan suguhan berbagai pertunjukan seni dan budaya. Tarian tradisional Minangkabau berpadu dengan pertunjukan musik, pembacaan karya sastra, serta penampilan seni dari berbagai negara peserta. Perpaduan budaya lokal dan internasional itu menciptakan suasana yang menunjukkan bahwa Bukittinggi bukan hanya kota wisata, tetapi juga ruang dialog peradaban yang terbuka bagi dunia.


Puncak acara ditandai dengan pembukaan resmi IMLF ke-4 dan Peringatan 100 Tahun Jam Gadang oleh Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah. Pembukaan dilakukan secara simbolis melalui pemukulan gong yang didampingi Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol Gatot Tri Suryanta.


Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan berskala internasional tersebut. Menurutnya, peringatan satu abad Jam Gadang dan pelaksanaan IMLF menjadi momentum penting untuk memperkenalkan budaya Minangkabau ke panggung dunia.


"Kami mengapresiasi terlaksananya kegiatan IMLF dan Peringatan 100 Tahun Jam Gadang ini. Peringatan ini menjadi pertanda bahwa Sumatera Barat khususnya Bukittinggi memiliki daya tarik budaya dan sejarah yang kuat di mata dunia, dan menjadi bagian tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia," ujar Maigus.


Ia menilai kehadiran delegasi dari puluhan negara menjadi kesempatan berharga untuk memperkuat hubungan antarbangsa melalui pendekatan budaya, literasi, dan seni.


"Dengan hadirnya delegasi dari 38 negara di kota ini, tentu menjadi sesuatu yang luar biasa. Momentum ini menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, bertukar pikiran, saling membantu, dan memperkuat literasi budaya untuk diwariskan kepada generasi mendatang," tambahnya.


Sementara itu, Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menegaskan bahwa peringatan Satu Abad Jam Gadang merupakan kegiatan bersejarah yang pertama kali dilaksanakan Pemerintah Kota Bukittinggi sejak monumen tersebut berdiri pada tahun 1926.


Menurut Ramlan, Jam Gadang bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol identitas masyarakat Bukittinggi yang telah menjadi saksi perjalanan zaman selama satu abad.


"Jam seperti ini hanya ada dua di dunia, satunya lagi berada di Big Ben, London. Walaupun Sumatera Barat rawan gempa, Jam Gadang tetap berdiri kokoh dan terpelihara hingga hari ini. Jam Gadang bukan hanya simbol sejarah dan budaya, tetapi juga menjadi detak jantung kehidupan masyarakat dan ekonomi Bukittinggi," katanya.


Ramlan menjelaskan bahwa Jam Gadang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina kepada Kota Bukittinggi. Keberadaannya kini telah menjadi ikon utama Sumatera Barat yang dikenal hingga mancanegara.


Lebih jauh, peringatan satu abad Jam Gadang tidak hanya berfokus pada seremoni, tetapi juga diisi dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat lokal dan peserta internasional. Sejumlah agenda yang telah disiapkan antara lain penanaman 1.000 pohon, Festival Randai dan pertunjukan kesenian tradisional, seminar kebudayaan, parade 1.000 perempuan berpakaian adat Minangkabau, parade 100 penyair dunia membaca puisi, diskusi pariwisata dan ekonomi kreatif, serta berbagai kegiatan literasi yang menghadirkan peserta dari berbagai negara.


Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat pelestarian budaya Minangkabau, tetapi juga memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan promosi daerah di tingkat internasional.


Kehadiran delegasi dari negara-negara seperti Australia, Brunei Darussalam, China, Kolombia, Kosta Rika, Denmark, Jerman, India, Iran, Italia, Jepang, Kazakhstan, Malaysia, Meksiko, Myanmar, Nepal, Palestina, Rusia, Singapura, Spanyol, Sudan, Thailand, Vietnam, Yaman, dan berbagai negara lainnya menunjukkan semakin luasnya perhatian dunia terhadap budaya Minangkabau.


Melalui International Minangkabau Literacy Festival dan peringatan Satu Abad Jam Gadang, Bukittinggi tidak hanya merayakan sejarah, tetapi juga mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa budaya, literasi, dan kearifan lokal merupakan jembatan yang mampu menyatukan berbagai bangsa. Dari kaki Gunung Marapi, semangat Minangkabau kembali bergema ke panggung internasional, menegaskan bahwa warisan budaya yang dijaga dengan baik akan selalu relevan di tengah arus globalisasi.


(Mond)


#JamGadang #Daerah #Bukittinggi

×
Berita Terbaru Update