
PLN Pastikan 100 Persen Listrik Sumbar kembali Normal Usai Lumpuh Total, PLN Akui Defisit Daya 240 MW Jadi Pemicu Blackout Massal
D'On, Padang - Pemadaman listrik massal (blackout) yang melanda hampir seluruh wilayah Sumatera Barat sejak Jumat malam (22/5/2026) akhirnya berhasil dipulihkan sepenuhnya. Namun di balik normalisasi tersebut, terungkap fakta serius mengenai krisis pasokan daya yang membayangi sistem kelistrikan Sumbar.
PT PLN (Persero) memastikan sistem kelistrikan Sumatera Barat kembali pulih 100 persen pada Minggu pagi (24/5/2026) pukul 05.11 WIB, setelah proses pemulihan berlangsung selama lebih dari satu hari penuh.
General Manager PLN UID Sumbar, Arjun Karim, mengatakan proses recovery dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian untuk mencegah gangguan susulan yang berpotensi memperparah kondisi jaringan listrik.
“Alhamdulillah sistem kelistrikan di Sumbar pagi tadi sudah bisa menyala 100 persen,” ujar Arjun dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).
Defisit Daya Jadi Biang Kerok
Di balik blackout besar tersebut, PLN mengungkap penyebab utama gangguan berasal dari ketidakseimbangan antara kebutuhan listrik masyarakat dengan kapasitas daya yang tersedia.
Saat beban puncak listrik masyarakat Sumbar mencapai sekitar 680 megawatt (MW), pasokan daya pembangkit yang tersedia hanya sekitar 440 MW. Artinya, sistem kelistrikan Sumbar mengalami defisit daya hingga 240 MW.
Kondisi itu membuat sistem kelistrikan berada dalam tekanan berat dan akhirnya memicu pemadaman besar-besaran di berbagai daerah.
“Yang terjadi itu kekurangan pasokan daya pembangkit. Sistem Sumbar kurang 240 MW, beban puncak 680 MW sedangkan daya tersedia hanya 440 MW,” jelas Arjun.
Defisit tersebut memaksa PLN menerapkan pemadaman bergilir sebagai langkah darurat guna menjaga stabilitas sistem dan mencegah kerusakan jaringan yang lebih luas.
Pemulihan Tidak Bisa Instan
PLN menegaskan pemulihan pasca-blackout bukan sekadar menyalakan listrik kembali, melainkan proses teknis kompleks yang harus dilakukan secara bertahap.
Setiap gardu, jaringan transmisi, hingga pembangkit harus disinkronkan kembali agar frekuensi sistem tetap stabil. Kesalahan kecil dalam proses penyalaan dapat memicu blackout ulang yang lebih besar.
Menurut PLN, pembangkit berbasis hidro dan gas menjadi tulang punggung pemulihan awal karena mampu beroperasi lebih cepat. Sementara pembangkit thermal seperti PLTU membutuhkan waktu lebih panjang sebelum dapat kembali menyuplai daya penuh ke sistem.
Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, mengungkapkan gangguan mulai terjadi pada Jumat malam sekitar pukul 18.44 WIB.
Berdasarkan indikasi awal, cuaca buruk diduga memicu gangguan pada sistem transmisi utama di Sumatera yang kemudian berkembang menjadi gangguan berantai.
“Gangguan pada ruas transmisi berdampak meluas pada sebagian sistem transmisi Sumatra, mengakibatkan penurunan frekuensi akibat beban berat pembangkit dan memicu efek domino gangguan di sejumlah wilayah,” kata Darmawan.
PLN menyebut jaringan transmisi utama berhasil dipulihkan dalam waktu sekitar dua jam. Namun tantangan terbesar justru berada pada proses penyalaan ulang pembangkit dan sinkronisasi sistem secara keseluruhan.
13,1 Juta Pelanggan Terdampak
Blackout ini tidak hanya berdampak di Sumatera Barat, tetapi meluas ke sejumlah provinsi lain di Pulau Sumatera.
Data PLN mencatat sekitar 13,1 juta pelanggan terdampak gangguan listrik massal tersebut. Hingga Sabtu pagi (23/5/2026), sekitar 8,3 juta pelanggan telah berhasil dipulihkan, sementara sisanya dilakukan secara bertahap.
Wilayah terdampak meliputi Sumatera Barat, Jambi, Riau, Sumatera Utara hingga Aceh.
Dalam proses pemulihan, PLN menerjunkan ratusan personel yang bekerja selama 24 jam tanpa henti di berbagai titik jaringan dan pembangkit.
Petugas melakukan pengamanan sistem, pengecekan transmisi, hingga pengoperasian bertahap pembangkit agar pasokan listrik kembali normal.
Sumbar Dinilai Butuh Pembangkit Baru
Di tengah pulihnya sistem kelistrikan, PLN juga mengungkap persoalan mendasar yang kini menjadi ancaman serius bagi ketahanan energi Sumatera Barat.
Arjun Karim menilai Sumbar membutuhkan tambahan pembangkit listrik baru untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari sistem Sumatra Bagian Selatan (Sumbagsel).
Saat ini, ketergantungan terhadap interkoneksi Sumbagsel dinilai cukup tinggi, sementara sejumlah pembangkit di wilayah tersebut juga sedang menjalani pemeliharaan rutin.
Akibatnya, ketika terjadi gangguan atau pengurangan pasokan dari luar daerah, sistem Sumbar menjadi rentan mengalami defisit daya.
“Kalau tidak, Sumbar akan terus bergantung pada pasokan listrik dari sistem Sumatra Bagian Selatan yang saat ini juga banyak menjalani pemeliharaan,” katanya.
PLN menyebut kebutuhan tambahan pembangkit tersebut telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 sebagai bagian dari penguatan sistem kelistrikan jangka panjang di Sumatera Barat.
Aktivitas Masyarakat Berangsur Normal
Setelah pasokan listrik pulih total, aktivitas masyarakat di berbagai daerah di Sumbar kini mulai kembali berjalan normal.
Sebelumnya, blackout sempat mengganggu aktivitas rumah tangga, layanan publik, jaringan komunikasi, hingga operasional usaha dan pusat perbelanjaan di sejumlah kota.
PLN memastikan pemantauan sistem kelistrikan terus dilakukan secara intensif untuk menjaga kestabilan pasokan dan mengantisipasi kemungkinan gangguan serupa di masa mendatang.
Peristiwa blackout besar ini sekaligus menjadi peringatan keras bahwa kebutuhan listrik di Sumatera Barat terus meningkat, sementara kapasitas pembangkit yang tersedia belum sepenuhnya mampu mengimbangi lonjakan konsumsi masyarakat.
(Mond)
#PLN #SumateraBarat #Blackout