
Geobag “Merekah”, Proyek Tanggul PT Nindya Karya Dipertanyakan: Diduga Salah Material dan Metode, Warga Terancam Bencana Susulan
D'On, PADANG — Harapan warga di bantaran sungai untuk terbebas dari ancaman banjir bandang justru berubah menjadi kecemasan baru. Proyek penanganan tebing sungai menggunakan geobag yang dikerjakan PT Nindya Karya perusahaan plat merah, diduga kuat menyimpang dari standar teknis konstruksi.
Alih-alih menjadi pelindung, sejumlah geobag di lokasi dari kawasan Jembatan Bypass hingga Kampung Kelawi dan Adzkia justru merekah, robek, dan kehilangan fungsi strukturalnya, bahkan sebelum proyek selesai sepenuhnya.
Warga pun mulai mempertanyakan: apakah ini benar solusi, atau sekadar proyek formalitas?
Indikasi Kesalahan Fatal: Geobag Diisi Batu Besar, Bukan Material Standar
Secara teknik, geobag adalah kantong berbahan geotekstil yang dirancang untuk diisi material granular seperti:
- pasir,
- tanah berbutir,
- atau kerikil halus.
Material ini dipilih karena:
- mampu mengisi ruang secara merata,
- menciptakan stabilitas massa,
- dan menjaga fleksibilitas struktur terhadap tekanan air.
Namun di lapangan, warga menemukan fakta berbeda.
Geobag justru diisi batu berukuran besar, yang secara teknis sangat tidak direkomendasikan.
Dampak teknis dari kesalahan ini sangat serius:
- Batu besar menciptakan tekanan titik (point load) pada kain geotekstil
- Geotekstil tidak didesain menahan beban tajam → mudah robek dari dalam
- Rongga antar batu membuat struktur tidak padat → mudah goyang dan bergeser
- Air dapat masuk dengan turbulensi tinggi → mempercepat kegagalan struktur
Inilah yang diduga kuat menjadi penyebab geobag merekah sebelum waktunya.
Kesalahan Metode Pemasangan: Tidak Interlock, Minim Penguncian
Selain material, dugaan kesalahan juga terlihat pada metode pemasangan:
Dalam standar teknik sipil, geobag harus:
- disusun berlapis dengan sistem interlocking (saling mengunci)
- dipadatkan agar tidak ada rongga
- ditempatkan mengikuti kontur tebing
- diperkuat dengan sistem penahan (toe protection)
Namun kondisi di lapangan menunjukkan:
- susunan tidak rapi dan tidak mengunci
- beberapa unit tampak longgar dan bergeser
- tidak ada indikasi pemadatan optimal
- posisi geobag terlihat acak dan tidak stabil
Akibatnya, struktur menjadi:
➡ mudah goyah
➡ tidak tahan arus
➡ berpotensi runtuh saat debit air meningkat
Fungsi Tanggul Dipertanyakan: Gagal Sebelum Diuji Banjir
Secara desain, geobag digunakan untuk:
- menahan erosi tebing
- meredam energi aliran air
- melindungi permukiman dari longsor dan banjir
Namun jika dalam kondisi normal saja sudah:
- robek
- bergeser
- dan tidak stabil
maka secara teknis:
struktur ini berpotensi gagal total saat banjir bandang terjadi.
Sorotan ke Pelaksana Proyek
Pekerjaan ini disebut dikerjakan oleh PT Nindya Karya, yang notabene merupakan perusahaan konstruksi milik negara.
Dengan kapasitas dan pengalaman perusahaan tersebut, muncul pertanyaan serius:
- Mengapa terjadi dugaan kesalahan material yang mendasar?
- Apakah ada pengawasan teknis di lapangan?
- Apakah spesifikasi proyek diabaikan?
Suara Warga: Trauma Belum Hilang, Proyek Sudah Goyah
Warga yang masih diliputi trauma bencana kini harus menghadapi kenyataan pahit:
proyek yang diharapkan menjadi pelindung, justru terlihat rapuh sejak awal.
“Kalau sekarang saja sudah robek dan goyang, bagaimana nanti kalau banjir besar datang lagi?” ujar Feri, warga setempat.
Dari temuan lapangan dan analisis teknik, terdapat indikasi kuat:
Kesalahan pemilihan material (batu besar dalam geobag)
Metode pemasangan tidak sesuai standar
Potensi kegagalan struktur sangat tinggi
Jika tidak segera diperbaiki, proyek ini bukan hanya berisiko gagal, tapi juga dapat:
memperparah dampak banjir
membahayakan keselamatan warga
menjadi pemborosan anggaran negara
(Mond)
#Infrastruktur #PTNindyaKarya #Padang #Geobag

