
Balairung Digembok, Ketua KAN Ditumbangkan! Revolusi Adat Mengguncang Nagari Gurun, Purnawirawan Kombes Ditunjuk Selamatkan Situasi
D'On, Batusangkar — Konflik adat yang berlarut-larut di Nagari Gurun akhirnya meledak. Dalam sebuah Musyawarah Khusus Adat Salingka Nagari yang berlangsung panas di Hotel Emer One, Jumat (5/6/2026), para niniak mamak menjatuhkan keputusan paling drastis: mencopot Febby Dt Banso nan Putiah dari jabatan Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) beserta seluruh jajaran pengurusnya.
Keputusan tersebut bukan sekadar teguran atau evaluasi. Forum adat langsung membubarkan kepengurusan lama dan membekukan seluruh lembaga yang lahir melalui Surat Keputusan (SK) kepemimpinan sebelumnya.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, keputusan itu didukung mayoritas pemangku adat. Sebanyak 22 datuak menyatakan sikap, terdiri dari 12 orang yang hadir langsung dan 10 lainnya mengikuti musyawarah secara virtual melalui Zoom.
Akumulasi Kemarahan Niniak Mamak
Pemberhentian tersebut disebut sebagai puncak kekecewaan para pemegang sako dan pusako terhadap sejumlah kebijakan yang dinilai berjalan tanpa mekanisme musyawarah yang semestinya.
Salah satu persoalan yang menjadi sorotan keras adalah pelaksanaan agenda batagak gala yang dianggap mengabaikan tata cara dan kesepakatan adat yang berlaku. Selain itu, muncul berbagai persoalan lain yang disebut telah menimbulkan kegaduhan serta mengikis kepercayaan terhadap kepemimpinan KAN sebelumnya.
Situasi semakin memanas setelah muncul insiden penggembokan dan pemalangan Balairung lantai atas, yang selama ini menjadi simbol ruang musyawarah masyarakat adat. Aksi tersebut memicu kemarahan banyak pihak karena dinilai mencederai marwah lembaga adat dan memperuncing perpecahan di tengah masyarakat.
"Balairung adalah rumah bersama masyarakat adat. Ketika ruang musyawarah itu dipalang dan digembok, yang terluka bukan hanya bangunannya, tetapi marwah adat itu sendiri," ungkap salah seorang tokoh adat yang mengikuti musyawarah.
Kepengurusan Lama Dibubarkan Total
Tidak berhenti pada pencopotan ketua, forum adat mengambil langkah yang lebih tegas dengan membubarkan seluruh struktur kepengurusan lama. Semua lembaga yang dibentuk melalui SK ketua sebelumnya dinyatakan tidak lagi memiliki legitimasi kelembagaan.
Keputusan ini sekaligus menandai berakhirnya seluruh aktivitas organisasi yang berada di bawah kendali pengurus lama hingga terbentuk kepengurusan baru yang mendapat persetujuan penuh dari para niniak mamak dan masyarakat Nagari Gurun.
Purnawirawan Kombes Turun Gunung
Untuk mencegah kekosongan kepemimpinan dan meredam potensi konflik yang lebih luas, musyawarah menunjuk Kombes Pol (Purn) Hindra S.Sos Datuak Putiah sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Ketua KAN Nagari Gurun.
Penunjukan sosok purnawirawan perwira menengah Polri itu dipandang sebagai langkah strategis untuk mengembalikan stabilitas, menegakkan aturan adat, dan menjembatani berbagai kelompok yang selama ini berseteru.
Pjs Ketua KAN diberi mandat untuk segera menyusun kepengurusan baru yang lebih terbuka, kolektif, dan merepresentasikan seluruh unsur masyarakat dari setiap jorong di Nagari Gurun.
Selain itu, ia juga dibebani tugas berat untuk mengembalikan marwah lembaga adat, memulihkan persatuan masyarakat, serta memastikan seluruh keputusan penting ke depan hanya dapat diambil melalui mekanisme musyawarah mufakat.
Seluruh Agenda Adat Dihentikan
Dampak dari keputusan besar ini, seluruh agenda adat yang dirancang oleh kepengurusan lama resmi dihentikan sementara. Termasuk di antaranya rencana pengangkatan penghulu baru yang harus ditunda hingga terbentuk kepengurusan KAN definitif yang memiliki legitimasi penuh.
Keputusan tersebut menjadi penanda bahwa Nagari Gurun kini memasuki fase transisi penting. Di tengah gejolak yang terjadi, masyarakat berharap konflik segera berakhir dan lembaga adat kembali menjadi perekat persatuan, bukan sumber perpecahan.
(BS)
#Peristiwa #Daerah #KabupatenTanahDatar
Kini, pertaruhan terbesar bukan lagi soal siapa yang memimpin KAN, melainkan bagaimana mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap marwah adat yang sempat terguncang oleh konflik internal yang belum pernah terjadi sebesar ini dalam beberapa tahun terakhir.