Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dari Surat Kartini untuk Perempuan Indonesia Masa Kini

21 April 2026 | April 21, 2026 WIB Last Updated 2026-04-21T07:51:05Z

Penulis: Siska Primadona Piliang 



Dirgantaraonline - Setiap 21 April, warna-warni kebaya dan kain batik menghiasi ruang-ruang publik. Anak-anak sekolah berbaris rapi, perempuan tersenyum anggun, dan nama Kartini kembali disebut dengan penuh hormat.

Namun, di balik perayaan itu, sebuah pertanyaan sederhana menggema:
apakah Kartini hanya sebatas simbol, atau ia adalah nyala yang masih hidup hingga hari ini?


Surat-Surat yang Menyalakan Zaman


Nama Raden Ajeng Kartini tidak lahir dari kemewahan kebebasan. Ia tumbuh di Jepara, 1879, dalam ruang budaya yang membatasi langkah perempuan. Sekolah tinggi bukan untuknya. Mimpi pun seolah punya pagar.


Namun Kartini tidak tinggal diam.


Di balik sunyi, ia menulis. Surat demi surat ia kirimkan kepada sahabatnya di Belanda. Dari balik tinta, lahirlah gagasan yang melampaui zamannya tentang pendidikan, kesetaraan, dan hak perempuan untuk menentukan masa depan.


Kartini tidak berteriak di jalanan. Ia berbicara melalui kata-kata.
Dan justru dari sanalah, gema itu menjadi abadi.


Bukan Melawan, Tapi Menerangi


Kartini tidak ingin perempuan menjadi sesuatu yang lain. Ia ingin perempuan menjadi lebih utuh.


Bukan melawan kodrat, melainkan melampaui batas yang mengekang.
Bukan untuk menyaingi, tetapi untuk berdiri sejajar.


Dalam salah satu ungkapannya, ia menulis tentang harapan yang sederhana namun dalam bahwa perempuan adalah “ranting yang suatu hari akan mekar menjadi bunga yang harum.”


Sebuah metafora yang hari ini terasa nyata.


Perempuan Hari Ini: Mimpi yang Berjalan


Waktu bergerak, dan mimpi Kartini tumbuh menjadi kenyataan.


Perempuan Indonesia kini hadir di berbagai lini kehidupan. Mereka adalah guru, pemimpin, dokter, penulis, bahkan penjelajah ruang angkasa. Mereka mengambil peran, membuat keputusan, dan mengubah arah zaman.


Namun, perjalanan itu belum selesai.


Di sudut-sudut tertentu, masih ada suara yang belum terdengar.
Masih ada perempuan yang berjuang untuk aman di ruangnya sendiri.
Masih ada mimpi yang tertahan oleh batas yang tak terlihat.


Kartini mungkin telah membuka pintu,
tetapi langkah untuk melewatinya adalah perjuangan generasi hari ini.


Menyalakan Kartini di Dalam Diri


Hari Kartini bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengingat.


Bahwa keberanian untuk bermimpi adalah warisan.


Bahwa pendidikan adalah cahaya.
Dan bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk tumbuh, memilih, dan bermakna.


Kartini tidak lagi hanya milik sejarah.
Ia hidup dalam setiap perempuan yang berani melangkah, meski dunia belum sepenuhnya ramah.


Dan mungkin, tanpa kita sadari,
Kartini itu… ada di sekitar kita.
Bahkan, ada dalam diri kita sendiri.


Selamat Hari Kartini.
Teruslah bersinar, perempuan Indonesia.


(*)


#HariKartini 

×
Berita Terbaru Update