
Sebanyak 147 siswa dan 25 guru di SMAN 6 Bandar Lampung mengalami gejala keracunan usai menyantap menu MBG. ( Dok Ist)
D'On, Bandar Lampung — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi peningkatan gizi justru berubah menjadi mimpi buruk di SMAN 6 Bandar Lampung. Sebanyak 172 orang tumbang usai menyantap menu MBG pada Rabu (22/4/2026), terdiri dari 147 siswa dan 25 guru.
Peristiwa ini langsung memantik sorotan tajam terhadap standar keamanan pangan dalam program tersebut.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Provinsi Lampung, Achmad Hery Setiawan, memastikan langkah tegas telah diambil. Operasional dapur SPPG yang memasok makanan ke sekolah tersebut langsung dihentikan sementara.
“Untuk sementara kita lakukan suspend. Surat resmi juga segera kami kirimkan,” tegasnya, Sabtu (25/4/2026).
Dugaan awal mengarah pada makanan yang sudah melewati batas kelayakan konsumsi namun tetap disajikan. Tak hanya itu, kondisi dapur juga dinilai jauh dari standar layak.
Makanan tak layak, sanitasi buruk kombinasi yang seharusnya tak pernah terjadi dalam program sebesar MBG.
Pihak KPPG kini mendesak pengelola dapur untuk segera melengkapi sertifikasi serta memperbaiki sistem instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Tim pengawas dari berbagai tingkatan juga telah turun langsung melakukan inspeksi.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana, Herman, meluruskan jumlah korban yang sempat simpang siur.
“Jumlahnya 147 siswa, bukan 189. Ditambah 25 guru. Mayoritas mengalami sakit perut dan diare,” jelasnya.
Meski jumlah korban besar, kondisi mereka disebut masih dalam kategori ringan hingga sedang.
“Tidak ada yang sampai pingsan atau muntah hebat. Semua masih bisa ditangani,” tambahnya.
Sanitasi Dapur Amburadul, SOP Dipertanyakan
Fakta lebih mencengangkan diungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi A. Temenggung. Ia menegaskan kasus ini hanya terjadi di satu sekolah, namun temuan di lapangan menunjukkan masalah serius.
Dari total 812 penerima MBG, sekitar 26 persen terdampak angka yang tak bisa dianggap sepele.
Hasil inspeksi mengungkap sejumlah pelanggaran mendasar:
- Fasilitas cuci tangan tidak memadai (tanpa sabun dan pengering)
- Tempat sampah tidak layak
- Tidak ada pemisahan toilet pria dan wanita
- Limbah makanan dikelola di area dapur
- Potensi lalat dan bau tak sedap
- SOP sanitasi dan pengolahan makanan tidak jelas
“Standar pengolahan pangan dan keselamatan kerja belum terlihat diterapkan dengan baik. Ini sudah kami surati untuk segera diperbaiki,” tegasnya.
Alarm Keras untuk Program MBG
Kasus ini menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program MBG secara nasional. Program yang menyasar kesehatan justru berpotensi membahayakan jika pengawasan longgar dan standar diabaikan.
Kini publik menunggu:
apakah ini sekadar kelalaian teknis, atau tanda lemahnya sistem pengawasan?
Satu hal pasti keamanan pangan tidak boleh ditawar, terlebih ketika menyangkut ratusan siswa dan tenaga pendidik.
(L6)
#Peristiwa #KeracunanMBG #Nasional #MBG