D'On, Inggris - Politikus Partai Buruh Inggris sekaligus pendiri organisasi VIVA Palestina, George Galloway, melontarkan tudingan keras terkait konflik yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat.
Dalam pernyataan yang disampaikannya melalui program Moats di kanal YouTube miliknya, Galloway menuduh pemerintah Israel bersama sejumlah media Barat melakukan sensor besar-besaran terhadap informasi mengenai kondisi sebenarnya di Tel Aviv.
Menurutnya, kerusakan yang terjadi di kota tersebut jauh lebih parah dari yang diberitakan secara internasional.
“Pemerintah Israel menerapkan aturan ketat terhadap penyebaran foto maupun video yang memperlihatkan kerusakan di Tel Aviv. Siapa pun yang menyebarkan dokumentasi tersebut berisiko menghadapi ancaman hukuman penjara,” kata Galloway, dikutip dari siaran YouTube, Minggu (9/3/2026).
Ia juga menuding media arus utama Barat seperti CNN, BBC, dan Sky News tidak menyiarkan secara luas kondisi kerusakan di lapangan.
Galloway bahkan mengklaim kondisi Tel Aviv saat ini disebut-sebut mengalami kerusakan parah hingga menyerupai situasi di Jalur Gaza.
“Bagaimana saya tahu? Karena saya punya teman-teman di Tel Aviv, di Jalan Sheinkin dekat Lapangan Dizengoff, dan mereka memberi tahu saya langsung bahwa Tel Aviv sekarang terlihat seperti Gaza,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menuding sistem pertahanan udara Israel di wilayah Tel Aviv tidak berfungsi optimal saat serangan terjadi. Menurut klaimnya, sekitar 50 rudal balistik Iran dilaporkan menghantam wilayah tersebut hanya dalam satu malam.
Tak hanya menyoroti Israel, Galloway juga mempertanyakan data resmi korban dari pihak Amerika Serikat. Ia menilai angka korban yang diumumkan pemerintah Washington terlalu kecil dibandingkan skala serangan terhadap berbagai fasilitas militer dan diplomatik Amerika di luar negeri.
“Bagaimana mungkin semua pangkalan CIA, semua kedutaan besar Amerika, dan pangkalan asing Amerika Serikat diserang tetapi hanya empat orang Amerika yang tewas? Saya berani bertaruh jumlah sebenarnya mendekati seribu orang, dan fakta itu tidak akan bisa disembunyikan selamanya,” kata Galloway.
Meski demikian, sejumlah klaim yang disampaikan Galloway tersebut hingga kini belum dapat diverifikasi secara independen oleh media internasional. Pemerintah Israel maupun Amerika Serikat juga belum memberikan tanggapan resmi terkait tudingan tersebut.
(B1)
#Internasional #Inggris
