
Terputus di Atas Sungai: Warga Pelangai Gadang Bertaruh Nyawa Demi Sekolah dan Layanan Kesehatan
D'On, PESISIR SELATAN — Setiap pagi di Nagari Pelangai Gadang, Kecamatan Ranah Pesisir, suara arus sungai menjadi penanda dimulainya hari. Bagi sebagian orang, itu hanyalah bunyi alam. Namun bagi ratusan warga Kampung Bintungan dan Kampung Limau Sundai, suara itu adalah pengingat akan satu kenyataan pahit: jalan hidup mereka terputus.
Sejak jembatan gantung yang menghubungkan dua kampung tersebut tak lagi dapat digunakan, sungai berubah menjadi penghalang yang harus “ditaklukkan” setiap hari. Hingga Senin (9/2/2026), belum ada kejelasan kapan jembatan itu akan dibangun kembali. Sementara itu, sekitar 200 kepala keluarga yang tinggal di dekat bantaran sungai hanya punya satu pilihan menyeberang menggunakan perahu karet.
Perahu itu kecil. Ringkih. Bergoyang mengikuti arus. Namun di situlah anak-anak sekolah berdiri, menggenggam tas mereka erat-erat, menahan rasa takut yang belum mampu mereka ucapkan. Setiap kali perahu bergerak meninggalkan tepi sungai, ada doa yang terucap lirih agar sampai ke seberang dengan selamat.
“Kalau hujan semalaman, air sungai naik. Kami tetap harus menyeberang. Anak-anak tidak boleh terus bolos sekolah,” ujar seorang ibu dengan mata berkaca-kaca, sambil menatap arus yang kian deras.
Perahu karet tersebut disediakan oleh Wali Nagari Pelangai Gadang sebagai solusi darurat. Namun solusi itu jauh dari kata aman. Ketika cuaca memburuk, penyeberangan berubah menjadi pertaruhan nyawa. Tidak ada jembatan. Tidak ada jalan lain. Hanya keberanian dan kebiasaan yang dipaksakan oleh keadaan.
Di seberang sungai, sekitar 500 kepala keluarga Kampung Limau Sundai menghadapi kesulitan yang sama. Untuk sekadar mengurus administrasi ke kantor Wali Nagari atau membawa anggota keluarga berobat ke Pusat Kesehatan Nagari (Puskesri), mereka harus melewati sungai yang sama, dengan perahu yang sama.
Bayangkan seorang lansia yang sedang sakit, digotong naik ke perahu karet. Bayangkan seorang ibu hamil yang harus menahan cemas setiap kali perahu oleng diterpa arus. Semua itu menjadi pemandangan yang kini dianggap “biasa” oleh warga, meski sesungguhnya jauh dari kata wajar.
Dulu, jembatan gantung itu adalah nadi kehidupan. Anak-anak berlari bebas menyeberang, pedagang mendorong gerobaknya, dan warga saling berkunjung tanpa rasa takut. Kini, yang tersisa hanyalah tiang-tiang tua dan kenangan tentang kemudahan yang pernah ada.
Dampaknya perlahan terasa. Aktivitas ke pasar mulai berkurang, pendapatan warga menurun, dan akses pendidikan serta kesehatan menjadi semakin rapuh. Sungai yang dahulu menyatukan, kini memisahkan mimpi dan harapan.
Warga tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin kembali berjalan di atas jembatan, bukan bergantung pada perahu karet dan keberuntungan. Mereka ingin anak-anak pergi ke sekolah tanpa rasa takut, dan orang sakit bisa ditangani tanpa harus menunggu arus sungai bersahabat.
Hingga hari ini, perahu karet masih menjadi satu-satunya penghubung. Setiap kali dayung menyentuh air, harapan kembali disematkan agar sebelum ada korban, janji pembangunan jembatan benar-benar terwujud.
(KP)
#Peristiwa #JembatanPutus #Daerah #KabupatenPesisirSelatan