Relawan Pembawa Bantuan untuk Aceh Tamiang Diduga Jadi Korban Pungli Dishub Palembang: “Perjalanan Masih Jauh, Mau Aman Nggak?”

Tampang Pelaku Pungli di Palembang
D'On, Palembang — Di saat masyarakat Sumatera masih berupaya bangkit dari dampak bencana, insiden memilukan justru terjadi dalam perjalanan misi kemanusiaan. Rombongan relawan gabungan dari Fesbuk Banten News, Forum Potensi SAR Banten, Aksi Semangat Peduli, dan Petualang Rescue diduga menjadi korban pungutan liar (pungli) disertai intimidasi oleh oknum petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang, Sumatera Selatan.
Insiden itu terjadi pada Rabu (7/1/2026), ketika kendaraan minibus Elf yang membawa bantuan kemanusiaan menuju Aceh Tamiang dihentikan mendadak di depan Terminal Karya Jaya, Kecamatan Kertapati, Palembang.
Misi kemanusiaan yang justru dihadang
Rombongan relawan berangkat sehari sebelumnya dari Kota Serang, Banten, membawa bantuan untuk penyintas bencana Aceh Tamiang. Bantuan itu bukan sedikit:
- 1.250 Al-Qur’an dan Iqro
- 1.000 mukena
- 1.000 sajadah
- 1.000 peci
- 1.000 baju koko
- 100 meter karpet
Selain itu, mereka juga merencanakan kegiatan bersih-bersih masjid dan musala, serta trauma healing bagi anak-anak terdampak bencana.
Namun niat baik itu terhenti seketika ketika para relawan dihentikan dan dikelilingi sejumlah oknum petugas.
Pemeriksaan yang berubah jadi tekanan
Pengemudi minibus, Rizki Nur Habibi, menuturkan bahwa petugas Dishub meminta kelengkapan dokumen kendaraan. SIM dan STNK berhasil ditunjukkan, namun dokumen KIR fisik tertinggal.
Rizki sudah menjelaskan secara terbuka bahwa kendaraan tersebut sedang membawa bantuan kemanusiaan.
“Kami sudah jelaskan tujuan ke Aceh dan membawa bantuan. Dokumen kendaraan ada, tapi tetap dipersulit,” ujarnya.
Menurut penuturan Rizki, suasana berubah menekan ketika salah satu petugas mengeluarkan kalimat bernada ancaman:
“Dia bilang, ‘perjalanan masih jauh, mau aman nggak?’”
Kalimat tersebut dipahami relawan sebagai bentuk intimidasi. Beberapa relawan lain bahkan mengaku sempat dikerumuni, membuat suasana semakin tidak nyaman.
Uang “keselamatan” Rp100 ribu
Perjalanan kemanusiaan pun terpaksa “ditebus”. Rombongan akhirnya menyerahkan uang Rp100 ribu demi menghindari keributan dan agar bantuan dapat segera sampai ke lokasi yang membutuhkan.
“Awalnya diminta Rp150 ribu. Kami hanya mampu Rp50 ribu, tapi ditolak. Akhirnya kami mengalah demi keselamatan dan kelancaran misi,” kata Rizki.
Ia menegaskan, yang menyakitkan bukan sekadar uangnya, melainkan perlakuan yang tidak sepatutnya dialami relawan kemanusiaan.
“Ini bukan soal uang, tapi soal kemanusiaan,” tegasnya.
Ironi di tengah bencana
Fakta bahwa pungutan diduga dilakukan kepada rombongan pembawa Al-Qur’an, mukena, sajadah, dan perlengkapan ibadah menambah ironi peristiwa ini. Di saat masyarakat Aceh Tamiang membutuhkan uluran tangan, relawan justru harus berhadapan dengan tindakan yang dinilai sebagai “pemerasan berkedok penertiban”.
Sorotan untuk Dishub Palembang
Peristiwa ini memantik pertanyaan serius:
- Mengapa relawan kemanusiaan justru dipersulit?
- Mengapa muncul kalimat intimidatif seperti “mau aman atau tidak”?
- Mengapa nominal uang menjadi solusi di tengah prosedur pemeriksaan?
Tindakan tersebut, jika benar terjadi, tidak hanya mencederai rasa kemanusiaan, tetapi juga mencoreng citra pelayanan publik.
Kasus ini juga menguatkan desakan agar aparat pengawas internal pemerintah daerah serta aparat penegak hukum menindaklanjuti dugaan pungli dan intimidasi oleh oknum petugas Dishub Palembang. Penegakan aturan harus dilakukan, namun tanpa pemerasan, tanpa ancaman, dan tanpa menjadikan relawan kemanusiaan sebagai “ladang uang”.
Menunggu respons resmi
Hingga berita ini diturunkan, keterangan resmi dari Dinas Perhubungan Kota Palembang terkait dugaan pungli dan intimidasi tersebut masih dinantikan. Publik berharap klarifikasi, investigasi transparan, dan sanksi tegas bila terbukti ada pelanggaran oleh oknum petugas.
Sebab, di tengah duka bencana, yang seharusnya hadir adalah tangan yang membantu bukan tangan yang menadahkan “setoran”.
(*)
#Peristiwa #Pungli #Daerah #Palembang #DishubPalembang