Permintaan Terakhir Praka Satria Sebelum Gugur Ditembak KKB: Ingin Menikah pada Juni 2026

Pemakaman anggota Satgas Pamtas Mobile Yonif 100/Prajurit Setia Kodam I/Bukit Barisan, asal NTT, Praka Satria Tino Taopan, gugur saat kontak senjata dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua
D'On, Kupang — Duka mendalam menyelimuti keluarga Praka Satria Tino Taopan, prajurit Satgas Pamtas Mobile Yonif 100/Prajurit Setia Kodam I/Bukit Barisan, yang gugur saat kontak senjata dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua Pegunungan. Prajurit asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Dharma Loka, Kota Kupang, Sabtu (10/1/2026).
Di balik gugurnya sang prajurit, tersisa satu kenangan terakhir yang terus terpatri dalam ingatan kedua orang tuanya, Dominggus Taopan dan sang ibu. Kenangan itu datang pada Hari Raya Natal, 25 Desember 2025, saat Praka Satria menelepon dari medan tugas di Papua. Dalam percakapan yang sarat kehangatan itu, Satria menyampaikan niat mulianya: menikah pada tahun 2026.
“Setelah keluar gereja, bapak dan mama harus ketemu orang tua calon istri. Rencana nikah bulan Juni 2026,” tutur Satria, sebagaimana dikenang ayahnya.
Bagi keluarga, permintaan tersebut menjadi tanda kedewasaan sang anak yang sedang menata masa depan. Tidak ada firasat buruk sedikit pun. Dominggus meyakini, sang putra hanya ingin menuntaskan tugas negara sebelum memasuki babak baru kehidupan berumah tangga.
Namun, kebahagiaan itu hanya menjadi rencana. Dua pekan setelah percakapan tersebut, kabar duka datang dari Kampung Yomugaru, Papua Pegunungan. Pada Kamis (8/1/2026), Praka Satria gugur dalam kontak tembak dengan KKB. Ia tertembak di bagian leher saat menjalankan tugas.
Kabar Duka yang Menggetarkan Hati Keluarga
Dominggus mengakui, awalnya ia menolak percaya. Hari itu terasa janggal: pesan ibunya kepada Satria tidak juga dibalas. Menjelang pagi, desas-desus kematian mulai terdengar, namun masih coba ditepis dengan harapan sang putra hanya sibuk bertugas.
Keyakinannya runtuh ketika telepon dari anak bungsu berdering.
“Dia telepon sambil menangis, bilang: kakak gugur dalam pertempuran. Bapak dan mama harus kuat,” cerita Dominggus dengan suara bergetar.
Tak lama berselang, rekan satu batalyon mendiang ikut menghubungi Dominggus yang tengah bekerja di Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Provinsi NTT. Tangisan di ujung telepon menguatkan kabar pahit itu.
Evakuasi Penuh Tantangan
Proses evakuasi jenazah Praka Satria tidak mudah. Cuaca buruk dan kondisi keamanan membuat tim harus memikul jenazah berjalan kaki sejauh kurang lebih lima kilometer menuju pos terdekat. Dari sana, jenazah diterbangkan ke Timika, dilanjutkan ke Makassar, Surabaya, hingga akhirnya tiba di Kupang pada Jumat (9/1/2026).
Pemakaman militer digelar dengan penuh khidmat. Isak tangis keluarga, kerabat, dan rekan sesama prajurit mewarnai prosesi penghormatan terakhir.
Rekam Jejak Pengabdian: Dari Papua hingga Kongo
Satria dikenal sebagai prajurit berprestasi dan berdedikasi. Setelah lulus sebagai anggota TNI AD, ia ditempatkan di Batalyon 121/Macan Kumbang di bawah Kodam I/Bukit Barisan. Tahun 2019, ia ditugaskan dalam Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI–Papua Nugini.
Pengabdiannya tak berhenti di situ. Satria mengikuti seleksi pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dinyatakan lulus bersama sekitar 900 prajurit lain. Ia pun dikirim bertugas di Kongo selama 13 bulan.
Dominggus masih mengingat jelas momen saat sang anak menyampaikan kabar penugasan internasional tersebut.
“Sekitar jam 3 subuh dia telepon, bilang surat perintah sudah keluar ke Kongo. Kami langsung menangis dan berdoa,” kenangnya.
Usai tugas di Kongo, Satria sempat cuti selama tiga pekan di Kupang. Tak lama setelah kembali bertugas, ia kembali ditunjuk mengikuti Satgas Pamtas Mobile Yonif 100/Prajurit Setia di Papua Pegunungan karena kekurangan personel.
“Ada 12 orang yang dipilih. Tanggal 24 Januari 2026 genap satu tahun dia tugas di sana,” ujar Dominggus.
Mimpi yang Tertunda, Pengabdian yang Abadi
Rencana pernikahan pada Juni 2026 kini tinggal kenangan. Namun bagi keluarga, Satria telah menunaikan pengabdian terbaiknya kepada bangsa. Ia bukan hanya anak yang penuh bakti, tetapi juga prajurit yang menutup tugas dengan kehormatan.
Di rumah duka, foto Satria berseragam TNI berdiri berdampingan dengan karangan bunga dan doa yang tak henti dipanjatkan. Orang tua dan keluarga besar berusaha tegar, memeluk kenangan sebagai kekuatan.
Praka Satria Tino Taopan kini bersemayam di Taman Makam Pahlawan Dharma Loka, tetapi kisah hidupnya terus hidup: tentang cinta kepada keluarga, kesetiaan pada negara, dan keinginan sederhana untuk membangun rumah tangga yang tidak sempat terwujud.
(L6)
#TNI #Militer #KKB #Peristiwa