Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Peduli Anak Panti, Direktur CV Anugrah Prima Energindo Beri Bantuan 4 Kipas Angin


D'On, Padang
- Di sebuah bangunan sederhana di Padang, Sabtu pagi itu terasa berbeda. Anak-anak Panti Asuhan Alfath Tauhid menyambut tamu yang sudah tak asing lagi bagi mereka: Redi Ismed, Direktur CV Anugrah Prima Energindo. Bukan sekadar kunjungan seremonial, kedatangan Redi membawa kehangatan bukan hanya secara emosional, tetapi juga secara harfiah: empat buah kipas angin baru untuk panti asuhan itu.

Di ruangan yang biasanya terasa pengap saat siang hari, kipas angin bukan sekadar benda elektronik. Ia adalah simbol perhatian. Simbol bahwa ada yang melihat mereka, peduli, dan datang lagi tidak hanya sekali.

Redi Ismed tidak datang sebagai pejabat atau pengusaha yang menjaga jarak. Ia duduk di antara anak-anak panti, berbincang, menepuk pundak mereka, dan menyampaikan harapan sederhana namun dalam maknanya.

“Semoga kipas angin ini bisa dipakai dan dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujarnya dengan senyum.
“Insyaallah, kalau Allah izinkan dan memberikan rezeki, saya akan kembali datang ke panti ini.”

Di hadapan anak-anak yang sebagian besar jauh dari keluarga kandung, kalimat itu menjadi semacam janji moral. Sebuah isyarat bahwa pertemuan hari ini bukan akhir, melainkan bagian dari rangkaian perhatian yang berkelanjutan.

Redi juga menyampaikan pesan yang jarang absen setiap kali orang dewasa berbicara pada generasi muda, namun terasa lebih tulus karena lahir dari pertemuan langsung.

“Rajin-rajin belajar ya. Semoga nanti adinda semuanya menjadi orang yang sukses, punya solidaritas, dan berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.”

Di sudut lain, Rahmadoni S.Pd.I—sesepuh Yayasan Bina Nusantara Isafat yang menaungi Panti Asuhan Alfath Tauhid, MTs.S Dhu’afa Nusantara Padang, dan SMK Dhu’afa—memerhatikan suasana itu dengan mata yang tampak berkaca-kaca. Baginya, setiap bantuan bukan hanya angka dan barang, tetapi napas baru bagi keberlangsungan lembaga pendidikan dan pengasuhan yang ia perjuangkan bertahun-tahun.

Ia menyampaikan terima kasih tanpa basa-basi.

“Terima kasih kepada Bapak Redi Ismed atas sumbangan kipas anginnya. Semoga menjadi berkah,” ujarnya.

Namun di balik rasa syukur itu, tersimpan juga kenyataan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar. Fasilitas pendidikan dan pengasuhan di bawah yayasan tersebut masih jauh dari kata ideal. Mushalla madrasah, pagar, gedung belajar, hingga sarana penunjang proses mengajar—semuanya masih membutuhkan dukungan.

Karena itu, Rahmadoni menyampaikan harapan terbuka, bukan hanya kepada Redi, tetapi kepada siapa pun yang tergerak.

Ia berharap Redi suatu hari bukan hanya datang sebagai donatur sesekali, tetapi mungkin sebagai donatur tetap.
“MTs.S Dhu’afa Nusantara Padang masih membutuhkan uluran tangan dermawan untuk pembangunan mushalla, pagar, gedung madrasah, serta sarana prasarana lainnya,” katanya.

Baginya, setiap rupiah dari para dermawan, setiap sentuhan kebijakan dari APBD maupun APBN, bukan sekadar pos anggaran. Itu adalah investasi pada masa depan anak-anak yang saat ini sedang belajar memaknai hidup lewat buku sederhana, doa malam, dan disiplin belajar.

Empat kipas angin itu mungkin terlihat kecil dibandingkan kebutuhan pembangunan gedung. Tapi di ruang-ruang asrama dimana anak-anak tertidur berdampingan, di kelas kecil tempat huruf-huruf hijaiyah dieja perlahan, putaran kipas itu membawa sesuatu yang lebih besar: rasa diperhatikan, rasa tak sendirian.

Dan mungkin, di antara desir angin yang berputar pelan, ada doa yang turut berputar naik ke langit doa anak-anak yang berharap kelak dapat menjadi pribadi yang sukses, lalu kembali datang seperti hari ini: memberi, bukan hanya menerima.

(Mond/Buya)

#Padang