-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

KNKT: ATR 42-500 Kebablasan Jalur Saat Hendak Mendarat, Berujung Tabrak Gunung Bulusaraung

21 January 2026 | January 21, 2026 WIB Last Updated 2026-01-21T15:28:31Z

Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono

D'On, Makassar
— Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan pesawat ATR 42-500 milik PT Indonesia Air Transport (IAT) dengan nomor registrasi PK-THT mengalami penyimpangan jalur penerbangan (kebablasan) saat fase pendekatan pendaratan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan. Penyimpangan tersebut membuat pesawat keluar dari rute seharusnya hingga akhirnya menabrak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.


Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan, pesawat seharusnya mendarat di runway 21 dengan mengikuti Standard Terminal Arrival Route (STAR) yang telah ditetapkan.


“STAR untuk runway 21 itu harus dimulai dari titik Araja. Namun pesawat ini terlewat dari Araja,” kata Soerjanto dalam rapat bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (21/1/2026).


Menyimpang Sejak Titik Awal Pendekatan


Menurut Soerjanto, prosedur standar pendaratan di runway 21 mengharuskan pesawat melewati tiga titik navigasi utama, yakni Araja, Openg, dan Kabip. Ketiga titik ini berfungsi mengarahkan pesawat agar tetap berada di jalur aman sebelum memasuki fase pendekatan akhir menggunakan Instrument Landing System (ILS).


Namun dalam kejadian ini, pesawat ATR 42-500 tidak mengikuti jalur tersebut. Setelah melewati titik Araja, petugas Air Traffic Control (ATC) kemudian menginstruksikan pilot untuk menuju titik Openg sebagai upaya koreksi jalur.


“Diminta ke Openg, tetapi pesawat juga tidak menuju ke Openg. Sampai saat ini kami belum bisa menyampaikan apa penyebabnya,” ujar Soerjanto.


Karena pesawat terus berada di luar jalur seharusnya dan mendekati kawasan pegunungan, ATC kemudian memberikan instruksi terakhir agar pesawat berbelok ke kanan dengan heading 245 derajat.


Instruksi tersebut bertujuan agar pesawat dapat memotong jalur ILS sehingga sistem pemandu pendaratan otomatis dapat bekerja membantu proses landing.


“Diharapkan heading 245 itu bisa memotong ILS sehingga alat bantu pendaratan otomatisnya bisa bekerja. Namun di saat itu, pesawat sudah keburu mengalami kecelakaan,” jelasnya.


Pesawat akhirnya jatuh dan menabrak lereng Gunung Bulusaraung, kawasan pegunungan dengan medan terjal di wilayah Kabupaten Pangkep.


Black Box Ditemukan dan Diserahkan ke KNKT


Di sisi lain, tim SAR gabungan berhasil menemukan dua unit kotak hitam (black box) pesawat ATR 42-500 tersebut. Kotak hitam itu terdiri dari Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).


Kepala Kantor Basarnas Makassar Muhammad Arif Anwar mengatakan, black box segera diamankan dan diserahkan kepada KNKT untuk kepentingan investigasi lanjutan.


“Setelah ditemukan, black box langsung kami amankan dan diserahkan kepada KNKT yang berwenang melakukan investigasi sesuai prosedur yang berlaku,” kata Arif, Rabu (21/1/2026).


Kedua perangkat tersebut ditemukan di sekitar badan pesawat saat tim SAR melakukan penyisiran lanjutan di lokasi jatuhnya pesawat di kawasan pegunungan Bulusaraung.


Peran Penting FDR dan CVR


Arif menjelaskan, FDR berfungsi merekam berbagai parameter penerbangan, mulai dari ketinggian, kecepatan, arah, posisi pesawat, hingga kinerja mesin. Data tersebut sangat penting untuk merekonstruksi kronologi penerbangan sebelum kecelakaan terjadi.


Sementara CVR merekam percakapan di dalam kokpit, termasuk komunikasi antarawak pesawat serta komunikasi dengan ATC.


“Secara umum FDR dan CVR ditempatkan di bagian ekor pesawat karena bagian ini dinilai paling tahan terhadap benturan, sehingga peluang penyelamatan data lebih besar,” jelasnya.


Ditemukan di Area Ekor Pesawat


Sebelumnya, tim SAR gabungan berhasil menemukan black box di bagian belakang atau ekor pesawat setelah membentuk tim khusus untuk menyisir area tersebut.


Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin Kolonel Inf Dody Triyo Hadi mengonfirmasi penemuan tersebut.


“Alhamdulillahirrahmanirrahim, pada pukul 11.00 Wita kami berhasil menemukan yang diduga black box,” ujarnya melalui keterangan video yang diterima di Makassar.


Setelah ditemukan, kotak hitam tersebut dievakuasi ke Posko SAR AJU Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, sebelum akhirnya diserahkan kepada KNKT.


Investigasi Masih Berlangsung


Dengan ditemukannya FDR dan CVR, KNKT kini memasuki tahap penting investigasi untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan pesawat ATR 42-500 tersebut. Analisis data dari kotak hitam diharapkan dapat memberikan gambaran lengkap terkait kondisi pesawat, keputusan awak, komunikasi dengan ATC, serta faktor teknis dan operasional lainnya.


Sementara itu, tim SAR gabungan masih melanjutkan tugas sesuai mandat, dengan fokus pada pencarian dan evakuasi korban serta pengamanan lokasi kecelakaan di medan pegunungan yang sulit dijangkau.

(L6)

#KNKT #Peristiwa #PesawatHilangKontak

×
Berita Terbaru Update