Fidel Castro: Pemimpin yang “Tak Tergoyahkan” dan 638 Upaya Pembunuhan yang Gagal

Tokoh revolusi komunis Kuba Fidel Castro merokok cerutu selama pertemuan Majelis Nasional di Havana, di file foto 2 Desember 1976 ini. (REUTERS/Prensa Latina File Photo)
Dirgantaraonline - Dalam sejarah politik modern, sedikit sekali tokoh yang memadukan karisma, kontroversi, dan daya tahan politik seperti Fidel Alejandro Castro Ruz. Selama lebih dari lima dekade, ia memimpin Kuba baik secara langsung maupun melalui pengaruhnya seraya bertahan dari ratusan upaya pembunuhan. Angka yang sering dikutip oleh mantan kepala intelijen Kuba, Fabian Escalante, bahkan mencapai 638 rencana pembunuhan yang gagal.
Castro akhirnya wafat pada 2016 di usia 90 tahun. Bukan karena peluru, racun, atau ledakan, melainkan karena usia. Kepergiannya mengukuhkan reputasinya sebagai salah satu pemimpin paling sulit “disingkirkan” dalam sejarah.
Dari Pengacara Muda menjadi Ikon Revolusi
Fidel Castro lahir pada 13 Agustus 1926 di Oriente, Kuba, dari keluarga pemilik perkebunan tebu. Ia menempuh pendidikan hukum di Universitas Havana, tempat ia menyaksikan korupsi politik dan campur tangan perusahaan serta pemerintah asing khususnya Amerika Serikat dalam perekonomian Kuba.
Ketidakpuasan itu membawanya ke oposisi bersenjata terhadap diktator Fulgencio Batista, penguasa yang dekat dengan kepentingan bisnis Amerika.
Beberapa tonggak penting perjalanan revolusinya:
- 1953: serangan gagal ke Barak Moncada — Castro dipenjara
- 1955: dibebaskan melalui amnesti — lalu mengasingkan diri ke Meksiko
- 1956: kembali ke Kuba bersama Che Guevara dan pejuang Gerilyawan dengan kapal Granma
- 1956–1958: perang gerilya di Pegunungan Sierra Maestra
- 1 Januari 1959: Batista melarikan diri — Havana jatuh ke tangan kaum revolusioner
Dengan kemenangan itu, Castro bertransformasi dari gerilyawan menjadi kepala pemerintahan.
Mengapa Fidel Castro Menjadi Target Berulang?
Tak lama setelah berkuasa, Castro mengambil langkah radikal:
- menasionalisasi perusahaan-perusahaan Amerika
- melakukan reformasi agraria
- membawa Kuba ke jalur sosialisme
- bersekutu erat dengan Uni Soviet
Dalam lanskap Perang Dingin, langkah-langkah itu merupakan “alarm merah” bagi Washington. Kuba bukan hanya negara kecil di Karibia, melainkan negara sosialis yang berdiri tepat di depan pintu Amerika Serikat.
Ketegangan memuncak dalam Krisis Rudal Kuba tahun 1962, saat dunia berada di ambang perang nuklir. Sejak itu, Castro tidak lagi dipandang sekadar pemimpin regional, tetapi simbol perlawanan terhadap hegemoni Amerika.
Tak mengherankan jika ia menjadi target:
- operasi intelijen
- kampanye destabilisasi
- upaya pembunuhan berulang
Sebagian besar upaya tersebut dikaitkan dengan badan intelijen Amerika Serikat, sering kali bekerja sama dengan kelompok anti-Castro di pengasingan.
Rencana Pembunuhan: Antara Serius dan Absurd
Banyak rencana pembunuhan terhadap Castro terdengar seperti fiksi, tetapi dirujuk dalam kesaksian pejabat intelijen dan dokumen yang kemudian dideklasifikasi.
Di antaranya:
- cerutu beracun dan cerutu yang dirancang meledak
- pakaian selam yang dilapisi racun
- pil racun yang hendak dimasukkan ke makanan dan minuman
- sepatu yang diolesi zat kimia untuk membuat jenggotnya rontok—tujuannya merusak citranya
- upaya penembakan langsung hingga sabotase perjalanan
Beberapa rencana melibatkan organisasi mafia yang kehilangan pengaruh bisnis mereka di Kuba pascarevolusi. Ironisnya, banyak dari upaya tersebut gagal bukan karena teknologi tinggi, melainkan:
- kebocoran informasi
- kelalaian agen
- perubahan jadwal Castro yang mendadak
- atau sekadar keberuntungan
Castro sendiri, dengan gaya khasnya, pernah berkata:
“Kalau bertahan dari percobaan pembunuhan termasuk olahraga Olimpiade, aku sudah meraih medali emas.”
Mengapa Ia Begitu Sulit “Dijangkau”?
Ketahanan Castro bukan hanya soal keberuntungan. Ada faktor-faktor sistematis:
1. Sistem keamanan berlapis
Pasukan pengamanan elit Kuba terutama Divisi Pengamanan Pribadi terlatih dalam kontra-intelijen dan proteksi jarak dekat.
2. Mobilitas dan ketidakterdugaan
Castro sering:
- mengganti kendaraan
- mengubah rute perjalanan
- tinggal di lokasi berbeda tanpa pemberitahuan Ia jarang mengumumkan jadwal jauh hari.
3. Intelijen dalam negeri yang efektif
Aparat keamanan Kuba sangat aktif memantau aktivitas kelompok kontra-revolusi, baik di dalam maupun luar negeri.
4. Dukungan rakyat
Meskipun kebijakannya kontroversial, banyak warga Kuba memandang Castro sebagai simbol kedaulatan nasional. Dukungan ini mempersulit infiltrasi langsung.
Dari Pahlawan hingga Diktator—Warisan yang Diperdebatkan
Bagi pendukungnya, Castro:
- memutus ketergantungan terhadap Amerika
- menyediakan pendidikan dan layanan kesehatan luas
- mengangkat Kuba dari ketidakadilan sosial era Batista
Bagi para pengkritiknya, ia:
- membungkam oposisi politik
- membatasi kebebasan pers
- menyebabkan eksodus jutaan warga Kuba
Keduanya benar dalam konteksnya. Castro adalah sosok kompleks—revolusioner yang membebaskan, sekaligus penguasa yang keras.
Akhir yang Tenang dari Hidup yang Penuh Badai
Castro secara bertahap menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, Raúl Castro, setelah sakit pada 2006. Ia resmi mundur sebagai presiden pada 2008, tetapi tetap menjadi figur ideologis.
Pada 25 November 2016, Castro wafat secara alami.
Ia tidak mati di medan perang, tidak tewas oleh bom atau racun—padahal ratusan percobaan pembunuhan telah dirancang untuknya. Ia meninggalkan jejak yang kuat:
- sebagai ikon revolusi Amerika Latin
- sebagai musuh abadi Amerika Serikat era Perang Dingin
- sebagai simbol ketahanan politik yang luar biasa
Fidel Castro bukan tokoh satu dimensi. Ia bukan hanya “orang yang sulit dibunuh”, tetapi juga representasi zaman ketika dunia terbelah dua kutub ideologi. Pergulatannya dengan Amerika Serikat, hubungan mesra dengan Uni Soviet, serta kisahnya bertahan dari 638 rencana pembunuhan menjadikannya figur legenda politik dunia.
Sejarah mungkin akan terus memperdebatkan apakah ia pahlawan atau tiran. Namun satu hal pasti: Castro adalah tokoh yang tidak mudah dilupakan.
(*)
#FidelCastro #Tokoh #Revolusi