![]() |
| Walikota Padang Tinjau Lokasi Gunung Nago |
D'On, Padang – Pemerintah Kota (Pemko) Padang bergerak cepat dan terukur dalam merespons krisis kekeringan yang melanda sejumlah wilayah, khususnya Kecamatan Pauh dan Kuranji. Salah satu langkah krusial yang kini dikebut adalah pemulihan fungsi saluran Irigasi Gunung Nago, yang dinilai memiliki peran strategis sebagai penyangga utama ketersediaan air tanah bagi ribuan warga.
Pemulihan irigasi ini tidak hanya ditujukan untuk kepentingan pertanian, tetapi juga menjadi solusi darurat untuk mengatasi mengeringnya sumur-sumur warga akibat anjloknya permukaan air tanah dalam beberapa pekan terakhir. Target utamanya jelas: mengalirkan kembali air ke jaringan irigasi agar tanah kembali jenuh dan cadangan air bawah tanah pulih secara bertahap.
Keseriusan penanganan terlihat dari kehadiran langsung Wali Kota Padang, Fadly Amran, yang pada Senin (26/1/2026) turun ke lokasi Irigasi Gunung Nago bersama jajaran teknis lintas instansi. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan proses normalisasi saluran irigasi sayap kanan dan kiri berjalan sesuai rencana serta tidak terkendala secara teknis di lapangan.
“Irigasi Gunung Nago ini bukan sekadar saluran air. Ia berfungsi sebagai ‘urat nadi’ yang menopang keseimbangan air tanah di kawasan pemukiman sekitarnya. Karena itu, penanganannya harus cepat, tepat, dan terkoordinasi,” tegas Fadly Amran di sela-sela peninjauan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Padang, Tri Hadiyanto, mengungkapkan bahwa kekeringan yang terjadi telah menyebabkan penurunan muka air tanah secara signifikan. Kondisi ini berdampak langsung pada sumur-sumur dangkal milik warga yang tak lagi mampu mengeluarkan air.
“Prinsipnya, air yang kita alirkan kembali ke saluran irigasi akan meresap ke dalam tanah, mengisi pori-pori dan rongga tanah. Dari situ, muka air tanah akan naik dan perlahan-lahan menghidupkan kembali sumur-sumur masyarakat,” jelas Tri saat memberikan keterangan di lokasi pengerjaan.
Namun demikian, penanganan Irigasi Gunung Nago memiliki tantangan tersendiri. Meski secara geografis berada di wilayah Kota Padang, Daerah Irigasi (DI) Gunung Nago dengan luas sekitar 2.800 hektare berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Situasi ini menuntut adanya koordinasi lintas pemerintahan agar upaya pemulihan tidak tersendat oleh persoalan administratif.
“Ini bukan kerja satu pihak. Ada Pemko Padang, Pemerintah Provinsi, dan Balai Wilayah Sungai (BWS) yang terlibat. Kolaborasi ini mutlak agar penanganan teknis di lapangan bisa berjalan cepat dan efektif,” ujar Tri menegaskan.
Untuk mempercepat hasil, Dinas PUPR Padang menerapkan dua metode teknis berbeda pada masing-masing saluran irigasi.
Pada saluran Irigasi Kanan, digunakan dua unit pompa berkapasitas besar milik Balai Wilayah Sungai (BWS). Pompa tersebut mampu menyedot air langsung dari sungai dengan total debit mencapai 500 liter per detik, kemudian dialirkan ke saluran irigasi guna mempercepat distribusi air.
Sementara itu, pada saluran Irigasi Kiri, fokus pekerjaan diarahkan pada pembersihan sedimen dan pengerukan material lumpur yang selama ini menghambat aliran air, terutama di area pintu masuk (intake). Upaya ini dinilai penting untuk mengembalikan kapasitas aliran secara alami tanpa ketergantungan pompa.
“Begitu pengerukan sedimen dan perbaikan intake selesai, air bisa langsung mengalir. Target kita, insyaallah dalam satu hingga dua hari ke depan, air sudah sampai ke kawasan pemukiman warga,” ungkap Tri dengan optimisme.
Pemko Padang berharap langkah cepat dan kolaboratif ini dapat segera meredakan dampak kekeringan yang dirasakan masyarakat, sekaligus menjadi solusi jangka menengah dalam menjaga keseimbangan sumber daya air di tengah perubahan iklim yang kian ekstrem.
(Mond)
#Padang #Infrastruktur
