Air Mengalir, Kerja Tak Pernah Berhenti: Cerita di Balik Koneksi Pipa DN 600 di Gunung Pangilun

Direktur Teknik Perumda Air Minum Kota Padang Andri Satria Tinjau Langsung Pekerjaan Koneksi PiPA di Gunung Pangilun
D'On, Padang - Di balik kepadatan arus kendaraan di Jalan Gajah Mada, Gunung Pangilun, Sabtu (10/1/2026) siang itu, ada cerita sunyi yang tak terlihat pengendara: deru alat berat, tanah basah yang tak pernah kering, dan pekerja yang nyaris tak sempat mengusap peluhnya.
Pekerjaan penggalian koneksi pipa DN 600 GI 200 HDPE masih terus berlangsung. Letaknya jauh di bawah permukaan jalan, dan air yang terus mengalir tanpa henti membuat galian seperti kolam sementara. Tanah yang longsor, dinding galian yang rapuh, dan jarum jam yang seolah berlari, menjadi tantangan nyata di lapangan.
Namun satu hal tidak berubah: kerja terus berjalan.
Direktur Teknik Perumda Air Minum Kota Padang, Andri Satria, hadir langsung di tepi galian. Sepatu botnya berlumpur, namun suaranya mantap.
“Air tidak mengenal hari libur, maka kami juga tidak boleh berhenti bekerja,” ujarnya lugas.
Ia tidak hanya melihat dari jauh. Ia berdiri dekat bibir galian, ikut melihat aliran air yang masuk, memberi arahan, dan sesekali menepuk bahu petugas lapangan yang tak berhenti berkoordinasi.
Menurutnya, persoalan utama bukan hanya teknis.
“Pipa berada cukup dalam, air terus masuk, dan ruang gerak alat terbatas. Secara teknik, ini bukan pekerjaan ringan. Tapi sulit bukan berarti mustahil,” katanya tenang, dengan nada optimistis.
Lokasi pekerjaan berada di ruas jalan padat. Klakson, rem mendadak, dan antrean kendaraan jadi pemandangan yang tak terelakkan. Andri sadar, ketidaknyamanan itu nyata.
“Saya memahami, ini mengganggu perjalanan. Kami mohon maaf sebesar-besarnya,” ucapnya, “tapi kami sedang memperbaiki sesuatu yang lebih mendasar: hak warga untuk mendapatkan air bersih yang layak.”
Ia menegaskan, proyek ini bukan sekadar mengganti pipa.
“Ini bukan hanya menggali tanah. Ini tentang memastikan air kembali mengalir dengan baik ke rumah-rumah. Air itu kehidupan. Kalau distribusi terganggu, kehidupan ikut terganggu,” tuturnya bernas.
Di bawah terik matahari dan semburan air, tim lapangan bekerja tanpa banyak bicara. Tali pengaman terpasang, rambu peringatan berdiri, dan arus lalu lintas diatur dengan sabar.
“Kami tidak meminta tepuk tangan. Kami hanya mohon doa dan pengertian,” katanya, “biarkan kami selesaikan tugas ini, agar air kembali hadir di setiap keran rumah warga.”
Di balik kerumunan kendaraan dan tanah yang terbuka, ada harapan sederhana: aliran air yang kembali normal. Dan di balik harapan itu, ada kerja keras yang mungkin tak sempat diceritakan, tetapi terus bergerak diam- diam, pasti.
(Mond)
#PerumdaAirMinum #Padang