![]() |
| Ilustrasi Rokok |
D'On, Sumatera Barat – Di tengah upaya menekan angka kemiskinan, fakta mencolok muncul dari Sumatera Barat. Hingga Maret 2025, sebanyak 312,35 ribu jiwa atau 5,35 persen penduduk Sumbar masih hidup di bawah garis kemiskinan. Angka ini memang menurun dibandingkan periode sebelumnya, namun pola konsumsi rumah tangga miskin justru menyimpan ironi yang mengkhawatirkan.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar yang dirilis 27 Januari 2026 menunjukkan bahwa rokok menempati posisi kedua terbesar dalam struktur pengeluaran penduduk miskin, mengalahkan kebutuhan pangan bergizi seperti telur dan daging ayam.
Rokok Kalahkan Protein Hewani
Dalam komponen Garis Kemiskinan, rokok kretek filter tercatat sebagai salah satu komoditas dengan kontribusi paling besar.
- Perkotaan: rokok menyumbang 12,39 persen
- Perdesaan: kontribusinya bahkan melonjak hingga 14,29 persen
Angka ini jauh melampaui pengeluaran untuk sumber protein penting:
- Telur ayam ras:
- Perkotaan: 4,00 persen
- Perdesaan: 3,27 persen
- Daging ayam ras:
- Perkotaan: 3,34 persen
- Perdesaan: 3,12 persen
Bahkan jika pengeluaran telur dan daging ayam digabung, totalnya masih kalah dibandingkan belanja rokok. Fakta ini menegaskan bahwa bagi sebagian rumah tangga miskin, rokok telah bergeser dari barang konsumsi menjadi “kebutuhan utama”.
Ikan Pun Kalah dari Asap Rokok
Tak hanya telur dan daging ayam, komoditas ikan yang selama ini menjadi andalan protein masyarakat pesisir juga bernasib sama.
Ikan tongkol, tuna, dan cakalang hanya menyumbang:
- 3,58 persen di perkotaan
- 3,15 persen di perdesaan
Angka tersebut tetap berada di bawah kontribusi rokok, memperlihatkan betapa dominannya belanja tembakau dalam struktur konsumsi penduduk miskin Sumbar.
Beras Masih Raja, Rokok Menguntit Ketat
Di antara seluruh komoditas, beras masih menjadi pengeluaran terbesar:
- Perkotaan: 22,48 persen
- Perdesaan: 26,19 persen
Namun yang mencemaskan, rokok menempati posisi kedua, tepat di bawah beras, mengalahkan hampir seluruh sumber pangan bergizi lainnya.
Kemiskinan Bergeser ke Desa
Secara wilayah, terjadi pergeseran kantong kemiskinan:
- Perkotaan: jumlah penduduk miskin turun 6,24 ribu orang
- Perdesaan: justru naik 3,15 ribu orang
Persentasenya pun bergerak berlawanan:
- Perkotaan turun dari 4,16 persen → 3,91 persen
- Perdesaan naik dari 6,79 persen → 6,93 persen
Kondisi ini memperkuat gambaran bahwa kemiskinan di desa semakin dalam, sekaligus memengaruhi pola konsumsi yang makin rentan terhadap kebiasaan tidak produktif.
Garis Kemiskinan Naik, Beban Hidup Makin Berat
Pada Maret 2025, Garis Kemiskinan Sumatera Barat tercatat sebesar Rp729.806 per kapita per bulan, naik 2,07 persen dibandingkan September 2024.
- Perkotaan: naik 3,06 persen
- Perdesaan: naik 1,03 persen
Kenaikan ini mencerminkan tekanan harga dan perubahan pola konsumsi kebutuhan dasar, terutama pada komoditas makanan.
Makanan Dominan, Tapi Rokok Tak Tergeser
Komponen Garis Kemiskinan Makanan masih mendominasi:
- Total: 75,87 persen
- Perdesaan: 77,80 persen
- Perkotaan: 74,25 persen
Sementara itu, komponen non-makanan mencakup:
- Perumahan:
- Perkotaan: 7,10 persen
- Perdesaan: 6,51 persen
- Bensin: sekitar 3,4 persen
- Pendidikan, listrik, perlengkapan mandi, hingga pakaian anak-anak—semuanya masih kalah kontribusinya dibanding rokok.
Alarm Sosial yang Tak Bisa Diabaikan
Data ini bukan sekadar angka statistik. Ia adalah alarm keras bagi kebijakan pengentasan kemiskinan dan kesehatan masyarakat. Ketika rokok mengalahkan telur, daging, dan ikan dalam belanja rumah tangga miskin, maka kemiskinan tak lagi sekadar soal pendapatan, tetapi juga soal pola hidup dan ketergantungan.
Di tengah masih ratusan ribu warga Sumbar yang bertahan hidup di bawah garis kemiskinan, asap rokok terus menggerus peluang gizi, kesehatan, dan masa depan keluarga miskin.
(Mond)
#SumateraBarat
