Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Indonesia Mengamuk 9-2, Garuda Terbang ke Final FIFA ASEAN Cup 2026

01 October 2026 | October 01, 2026 WIB Last Updated 2026-10-01T15:41:58Z

Indonesia Mengamuk 9-2, Garuda Terbang ke Final FIFA ASEAN Cup 2026



D'On, Jakarta - Malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Kamis (1/10/2026), berubah menjadi panggung pesta gol Timnas Indonesia.


Bukan sekadar kemenangan. Bukan pula sekadar penutup fase grup.


Garuda menutup perjalanan di Grup A Premier Division FIFA ASEAN Cup 2026 dengan cara yang nyaris sempurna: menghantam Bangladesh 9-2 sekaligus memastikan tiket ke final.


Sembilan gol Indonesia menjadi gambaran betapa agresifnya permainan yang diperagakan anak asuh John Herdman. Namun, di balik pesta gol tersebut, ada satu drama besar yang membuat laga pamungkas Grup A terasa jauh lebih menegangkan.


Indonesia harus bersaing dengan Malaysia hingga pertandingan terakhir.


Kedua tim sama-sama mengoleksi tujuh poin dan sama-sama memiliki selisih gol +9. Bedanya, Indonesia memiliki produktivitas lebih tinggi.


Dan produktivitas itulah yang akhirnya mengantar Garuda finis di posisi teratas.


GBK Langsung Bergemuruh


Sejak menit pertama, Indonesia tampil dengan satu pesan yang jelas: menang dan mencetak sebanyak mungkin gol.


Tekanan dibangun dari kedua sisi lapangan.


Kevin Diks menjadi motor serangan dari kanan, sementara Calvin Verdonk aktif membuka ruang dari sektor kiri. Di belakang Mitchell Baker yang menjadi ujung tombak, Ole Romeny bergerak bebas mencari celah di antara lini tengah dan pertahanan Bangladesh.


Indonesia tidak selalu mampu menembus pertahanan Bangladesh melalui kombinasi umpan pendek di tengah. Karena itu, bola-bola dari sisi lapangan menjadi senjata yang terus digunakan.


Diks bahkan sempat melepaskan tembakan jarak jauh yang memaksa Mahedi Hasan bekerja keras. Di sisi lain, Emil Audero juga harus sigap ketika Bangladesh mencoba membalas melalui Shahriar Emon.


Tekanan Indonesia akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-10.


Umpan silang Romeny menemukan Baker. Tanpa membuang waktu, penyerang tersebut melepaskan penyelesaian mendatar ke tiang jauh.


Gol! Indonesia 1-0 Bangladesh.


GBK bergemuruh.


Sembilan menit berselang, Baker kembali membuat pertahanan Bangladesh berantakan.


Berawal dari tembakan Ragnar Oratmangoen, bola memantul dan menciptakan kemelut di depan gawang. Baker menjadi pemain yang paling sigap membaca situasi.


Ia menyambar bola dan menggandakannya.

2-0.


Bangladesh belum sempat benar-benar bangkit ketika Indonesia kembali memukul.


Menit ke-32, Oratmangoen mengirimkan umpan silang berbahaya ke dalam kotak penalti. Rizky Ridho muncul dari lini belakang dan menyambutnya dengan penyelesaian yang mengarah ke pojok gawang.


3-0.


Pertandingan seolah berjalan satu arah.


Namun Bangladesh sempat memberikan peringatan pada menit ke-37. Emon memenangkan duel udara dan menanduk bola melewati jangkauan Audero.


Indonesia 3-1 Bangladesh.


Gol tersebut belum cukup mengubah wajah pertandingan.


Hanya dua menit kemudian, Baker kembali menjadi mimpi buruk Bangladesh.


Hattrick.


Indonesia 4-1.


Enam Gol Sebelum Turun Minum


Indonesia benar-benar tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk bernapas.


Empat menit sebelum babak pertama berakhir, Justin Hubner mengirimkan umpan jauh yang diarahkan ke depan. Baker kembali memenangkan duel dan menuntaskannya dengan sundulan tajam.


5-1.


Jika pertandingan berhenti di angka tersebut, babak pertama saja sudah menjadi salah satu penampilan paling produktif Indonesia.


Tetapi Garuda belum selesai.


Pada masa injury time, Indonesia memperoleh kesempatan melalui skema sepak pojok. Hubner ikut naik ke kotak penalti.


Bola datang.


Sundulan Hubner meluncur ke gawang Bangladesh.


6-1.


Peluit panjang babak pertama berbunyi.


Enam gol Indonesia sudah tercipta hanya dalam 45 menit.


Namun, pertandingan belum sekadar tentang pesta gol.


Di tengah kemeriahan GBK, terdapat momen penuh penghormatan sebelum pertandingan dimulai. Stadion menggelar hening cipta untuk mengenang empat tahun Tragedi Kanjuruhan, sebuah momen yang juga dibagikan melalui rekaman video.


Setelah itu, pertandingan berubah menjadi pertunjukan sepak bola dengan tempo tinggi.


Bangladesh Mencoba Bangkit, Indonesia Tak Mengendur


Memasuki babak kedua, Herdman tidak membiarkan timnya kehilangan konsentrasi.


Indonesia tetap menekan.


Bangladesh sesekali mampu keluar dari tekanan dan memperoleh sepak pojok melalui serangan balik. Namun pertahanan Indonesia masih mampu mengantisipasi ancaman tersebut.


Ada pula momen yang sempat membuat publik GBK menahan napas ketika Diks terjatuh di dalam kotak penalti.


Peluang hadiah penalti sempat terbuka.


Namun setelah peninjauan VAR, wasit memutuskan tidak terjadi pelanggaran.


Permainan kembali berlanjut.


Herdman kemudian melakukan penyegaran dengan memasukkan Luke Vickery menggantikan Rizky Ridho.


Pada menit ke-62, Indonesia kembali memperlihatkan kecepatan transisi.


Oratmangoen, Baker, dan Romeny melakukan kombinasi cepat yang membuka ruang di pertahanan Bangladesh. Serangan tersebut akhirnya hanya menghasilkan sepak pojok setelah upaya terakhir Indonesia membentur barisan belakang lawan.


Pergantian pemain kembali dilakukan.


Dean James masuk menggantikan Ivar Jenner, sementara Egy Maulana Vikri mengambil tempat Ragnar Oratmangoen.


Indonesia tetap mencari gol berikutnya.


Menit ke-75, Elkan Baggott hampir membuat papan skor kembali berubah. Sundulannya sudah mengarah ke gawang, tetapi Mahedi Hasan melakukan penyelamatan penting.


Beberapa saat kemudian, giliran Egy menguji kiper Bangladesh melalui sepakan kaki kiri dari luar kotak penalti.


Mahedi kembali menjadi penyelamat.


Drama Menjelang Peluit Panjang


Indonesia sebenarnya sempat mencetak gol melalui Romeny pada menit ke-84.


Namun kegembiraan hanya berlangsung sesaat.


Gol tersebut dianulir karena Romeny berada dalam posisi offside.


Garuda belum menyerah.


Menjelang masa injury time, Vickery akhirnya mencatatkan namanya di papan skor.


Romeny menjadi kreator serangan sebelum Vickery menyelesaikan peluang tersebut.

7-1.


Bangladesh kembali memberikan respons.


Pada masa tambahan waktu, Farhaan Ali Wahid mencetak gol melalui sundulan.


7-2.


Tetapi pertandingan belum selesai.


Diks kemudian ikut masuk dalam daftar pencetak gol setelah menyundul bola untuk memperlebar keunggulan Indonesia.


8-2.


Dan ketika pertandingan tampaknya tinggal menunggu detik terakhir, Baker kembali muncul.


Umpan silang Romeny disambar Baker.


Gol.

9-2.


Peluit panjang akhirnya berbunyi.


Sembilan gol Indonesia.


Dua gol Bangladesh.


GBK berpesta.


Baker menjadi salah satu pusat perhatian setelah memborong lima gol dalam pertandingan tersebut. Produktivitasnya menjadi bagian penting dari kemenangan besar yang membawa Indonesia ke final.


Bukan Sekadar Menang, Indonesia Harus Menghitung Gol


Drama Grup A belum benar-benar selesai hanya dengan kemenangan Indonesia.


Di stadion lain, Malaysia juga memainkan laga pamungkas menghadapi Singapura.


Malaysia menang telak 6-0.


Bergson membuka keunggulan melalui penalti pada menit ke-9. Stuart Wilkin kemudian menggandakan skor pada menit ke-26.


Babak pertama berakhir 2-0.


Malaysia kembali menggila selepas jeda.


Bergson mencetak gol keduanya pada menit ke-63 setelah menerima umpan Arif Aiman. Paulo Josue kemudian membuat skor menjadi 4-0 pada menit ke-76, kembali melalui kreasi Arif Aiman.


Syahir Bashah menambah gol kelima pada menit ke-87.


Pada masa injury time, Bergson melengkapi hattrick sekaligus mengunci kemenangan Malaysia 6-0.


Hasil itu membuat persaingan puncak Grup A menjadi sangat ketat.


Indonesia dan Malaysia sama-sama mengoleksi tujuh poin.


Keduanya juga sama-sama memiliki selisih gol +9.


Namun Indonesia mencetak 11 gol, sedangkan Malaysia mengoleksi sembilan gol.


Produktivitas itulah yang menjadi pembeda.


Indonesia finis di puncak Grup A. Malaysia harus puas berada di bawahnya.


Sembilan Gol yang Mengantar Garuda ke Final


Kemenangan 9-2 atas Bangladesh akhirnya memiliki arti lebih besar daripada sekadar tiga poin.


Indonesia menutup fase grup sebagai pemuncak klasemen dan memastikan tempat di final FIFA ASEAN Cup 2026.


Pertandingan di GBK memperlihatkan dua wajah Garuda: agresif ketika menyerang dan tetap berusaha menjaga kendali ketika lawan mencoba memberikan perlawanan.


Sembilan gol juga menunjukkan betapa pentingnya produktivitas pada laga terakhir.


Sebab malam itu, Indonesia bukan hanya berlomba mengalahkan Bangladesh.


Garuda juga berpacu dengan Malaysia.


Dan ketika dua pertandingan berakhir, dua tim memiliki jumlah poin yang sama serta selisih gol yang sama.


Yang membedakan hanyalah jumlah gol yang berhasil diciptakan.


Indonesia punya satu gol lebih banyak.


Satu angka yang akhirnya menjadi pembeda antara posisi pertama dan kedua.


Garuda terbang ke final.


Dengan sembilan gol di GBK, Indonesia menutup fase grup dengan cara yang sulit dilupakan.


(Mond)


#Olahraga #Sepakbola #TimnasIndonesia

×
Berita Terbaru Update