Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bidik UNESCO Creative Cities Network 2027, Padang Perkuat Kolaborasi Pelaku Usaha Gastronomi

09 October 2026 | October 09, 2026 WIB Last Updated 2026-10-09T13:36:45Z

Bidik UNESCO Creative Cities Network 2027, Padang Perkuat Kolaborasi Pelaku Usaha Gastronomi



D'On, Padang - Pemerintah Kota Padang terus memperkuat langkah menjadikan sektor gastronomi sebagai salah satu motor penggerak perekonomian daerah sekaligus pintu masuk untuk memperkenalkan kekayaan kuliner Minangkabau ke panggung dunia. Upaya tersebut diwujudkan melalui temu ramah Wali Kota Padang, Fadly Amran, bersama para pelaku usaha sektor gastronomi di Pangeran Beach Hotel, Jumat (9/10/2026).


Pertemuan yang dihadiri Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Padang Fauzan Ibnovi, Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang Yenni Yuliza, Ketua BPD PHRI Sumatera Barat Rina Pangeran, serta pimpinan organisasi dan asosiasi usaha itu menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan dunia usaha.


Sejumlah unsur yang hadir meliputi pelaku usaha gastronomi, organisasi travel umrah dan haji, APINDO, HIPMI, ASITA, KADIN, serta berbagai pemangku kepentingan yang memiliki keterkaitan dengan pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Padang.


Agenda ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang untuk membangun kesamaan visi mengenai masa depan gastronomi Padang. Pemerintah kota ingin memastikan bahwa potensi kuliner, perhotelan, pariwisata, dan sektor jasa lainnya dapat dikelola secara terintegrasi sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.


Wali Kota Padang Fadly Amran menegaskan, komunikasi dan kolaborasi antara pemerintah dengan pelaku usaha merupakan faktor penting dalam mempercepat pertumbuhan sektor gastronomi. Menurutnya, potensi yang dimiliki Kota Padang harus diikuti dengan langkah konkret, mulai dari penguatan ekosistem usaha hingga peningkatan daya saing produk kuliner lokal.


“Pertemuan ini menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan kerja sama antara Pemerintah Kota Padang dengan para pelaku usaha, dalam mengembangkan sektor gastronomi sebagai salah satu penggerak perekonomian,” ujarnya.


20.791 Usaha Kuliner Jadi Kekuatan Ekonomi Padang


Besarnya potensi gastronomi Padang terlihat dari jumlah pelaku usaha kuliner yang telah berkembang di berbagai wilayah kota. Kepala Dinas PMPTSP Kota Padang Fauzan Ibnovi mengungkapkan, berdasarkan data yang dimiliki pemerintah daerah, terdapat sekitar 20.791 pelaku usaha kuliner aktif di Kota Padang.


Jumlah tersebut mencakup beragam skala usaha, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah hingga usaha berskala besar. Keberadaan ribuan pelaku usaha ini menunjukkan bahwa kuliner bukan sekadar bagian dari identitas budaya masyarakat Minangkabau, melainkan juga sektor ekonomi yang melibatkan banyak pelaku dan membuka peluang kerja.


Dengan basis usaha yang besar, gastronomi memiliki ruang untuk dikembangkan melalui peningkatan kualitas produk, penguatan standar pelayanan, inovasi penyajian, promosi, hingga perluasan akses pasar. Pengembangan tersebut juga berpotensi mendorong pertumbuhan usaha pendukung, seperti pemasok bahan pangan, jasa distribusi, penginapan, transportasi, dan penyelenggara kegiatan pariwisata.


Bagi Kota Padang, tantangannya bukan hanya mempertahankan popularitas kuliner khas seperti rendang dan berbagai hidangan Minangkabau lainnya, tetapi juga memastikan potensi tersebut menghasilkan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan.


Karena itu, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, dan sektor pariwisata menjadi penting agar kekuatan kuliner Padang dapat berkembang menjadi ekosistem gastronomi yang kompetitif.


Omzet Perhotelan, Restoran, dan Hiburan Tembus Rp1,7 Triliun


Potensi ekonomi gastronomi juga tercermin dari aktivitas sektor perhotelan, restoran, dan hiburan yang berkaitan erat dengan pergerakan wisatawan serta konsumsi masyarakat.


Fauzan Ibnovi menyampaikan, berdasarkan data realisasi pajak, ketiga sektor tersebut menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dari tahun ke tahun. Pada 2025, total omzet yang tercatat dari sektor perhotelan, restoran, dan hiburan mencapai sekitar Rp1,7 triliun.


Angka tersebut menggambarkan besarnya aktivitas ekonomi yang berputar melalui sektor-sektor yang berkaitan dengan pariwisata dan gastronomi. Perhotelan menyediakan akomodasi bagi pengunjung, restoran menghadirkan pengalaman kuliner, sementara sektor hiburan turut melengkapi aktivitas wisata dan konsumsi di Kota Padang.


Perkembangan ketiga sektor tersebut juga memperlihatkan bahwa penguatan gastronomi tidak dapat dilakukan secara terpisah. Pengalaman wisata yang baik membutuhkan keterhubungan antara makanan, penginapan, akses transportasi, atraksi, serta pelayanan yang berkualitas.


Fauzan mengungkapkan, hingga September 2026, omzet yang tercatat telah mencapai sekitar Rp1,3 triliun. Dengan masih tersisanya tiga bulan pada tahun berjalan, pemerintah melihat adanya peluang bagi capaian 2026 untuk melampaui realisasi tahun sebelumnya.


“Alhamdulillah, hingga September 2026, omzet yang tercatat telah mencapai sekitar Rp1,3 triliun. Dengan demikian, terdapat potensi bahwa capaian pada 2026 akan melampaui angka 2025, mengingat masih ada tiga bulan tersisa dan periode akhir tahun biasanya menjadi masa yang optimal bagi sektor-sektor tersebut,” kata Fauzan.


Meski demikian, capaian akhir tahun tetap bergantung pada perkembangan aktivitas usaha selama Oktober hingga Desember. Angka tersebut menjadi indikator potensi pertumbuhan sekaligus pengingat pentingnya menjaga iklim usaha agar tetap kondusif.


Peningkatan aktivitas ekonomi diharapkan tidak hanya tercermin dalam omzet dan penerimaan pajak, tetapi juga memberikan manfaat nyata berupa perluasan kesempatan kerja, meningkatnya pendapatan pelaku UMKM, serta tumbuhnya usaha-usaha baru.


Potensi 40 Ribu Jemaah Umrah Belum Tergarap Optimal


Selain mengandalkan wisata kuliner dan kunjungan wisatawan, Padang juga memiliki peluang ekonomi yang berkaitan dengan perjalanan ibadah umrah.


Fauzan Ibnovi menyebutkan, sekitar 40 ribu jemaah umrah setiap tahun berangkat melalui Bandara Internasional Minangkabau. Menurutnya, jumlah tersebut merupakan potensi ekonomi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan di Kota Padang.


Arus perjalanan jemaah umrah membuka peluang bagi berbagai sektor usaha, mulai dari kuliner, hotel, transportasi, jasa perjalanan, hingga penyedia kebutuhan sebelum keberangkatan. Jika dikelola melalui kerja sama yang terencana, aktivitas tersebut dapat menciptakan perputaran ekonomi tambahan bagi pelaku usaha lokal.


Padang berpeluang memperkuat posisinya sebagai kota persinggahan bagi jemaah yang membutuhkan akomodasi, konsumsi, dan layanan pendukung perjalanan. Pengembangan paket layanan yang terintegrasi dengan pengalaman gastronomi lokal juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan belanja dan lama kunjungan di kota ini.


Namun, peluang tersebut memerlukan pemetaan kebutuhan pasar, koordinasi dengan penyelenggara perjalanan, peningkatan kualitas layanan, serta promosi yang tepat sasaran.


Keterlibatan organisasi travel umrah dan haji dalam pertemuan bersama pemerintah kota menjadi relevan untuk membuka komunikasi mengenai peluang kerja sama tersebut. Dengan demikian, aktivitas perjalanan ibadah tidak hanya menjadi arus mobilitas masyarakat, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.


Padang Bidik Nominasi UNESCO Creative Cities Network 2027


Salah satu agenda strategis yang menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut adalah upaya Kota Padang mengikuti seleksi nasional tahap II untuk diusulkan sebagai nominasi anggota UNESCO Creative Cities Network (UCCN) tahun 2027 di bidang gastronomi.


Fadly Amran menyampaikan bahwa dukungan dan keterlibatan pelaku usaha sangat dibutuhkan agar upaya tersebut dapat berjalan dengan baik. Menurutnya, pengembangan gastronomi harus melibatkan banyak pihak karena kekuatan kuliner sebuah kota tidak hanya terletak pada makanan, tetapi juga pada tradisi, kreativitas, pengetahuan, dan ekosistem yang menopangnya.


“Saat ini, Kota Padang sedang mengikuti seleksi nasional tahap II untuk diusulkan sebagai nominasi anggota UNESCO Creative Cities Network (UCCN) tahun 2027 di bidang gastronomi. Kami mengharapkan kolaborasi para pelaku usaha agar cita-cita ini dapat terwujud,” ujar Fadly.


UNESCO Creative Cities Network merupakan jaringan kota-kota kreatif dunia yang mendorong kerja sama antarkota melalui pengembangan industri kreatif dan kebudayaan. Gastronomi menjadi salah satu bidang yang diakui dalam jaringan tersebut.


Bagi Padang, upaya menuju UCCN menjadi kesempatan untuk memperkuat posisi kuliner Minangkabau sebagai kekayaan budaya sekaligus sumber daya ekonomi. Identitas gastronomi yang kuat dapat menjadi modal untuk memperluas promosi, memperkenalkan tradisi kuliner, mendorong inovasi, serta membuka ruang kolaborasi dengan kota-kota lain.


Meski demikian, proses menuju nominasi dan keanggotaan jaringan tersebut memerlukan kesiapan yang menyeluruh. Potensi kuliner perlu didukung oleh dokumentasi budaya, pengembangan ekosistem usaha, keterlibatan masyarakat, program yang berkelanjutan, serta bukti nyata kontribusi gastronomi terhadap pembangunan kota.


Karena itu, dukungan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem yang mampu menunjukkan bahwa gastronomi Padang bukan hanya terkenal, tetapi juga berkembang secara inovatif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.


Dari Kuliner Lokal Menuju Pasar Internasional


Fadly Amran menegaskan, pengembangan gastronomi harus diarahkan untuk memperluas jangkauan kuliner Padang, sehingga tidak berhenti pada popularitas di tingkat nasional.


“Kita ingin Kota Padang mampu memanfaatkan peluang tersebut melalui pengembangan gastronomi. Kita ingin kuliner Kota Padang tidak hanya terkenal di Indonesia, tetapi juga dikenal secara global dan mampu menembus pasar internasional,” katanya.


Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya mengubah kekuatan kuliner lokal menjadi produk dan pengalaman yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.


Kuliner Minangkabau memiliki modal kuat berupa kekhasan cita rasa, sejarah, tradisi, serta keragaman hidangan. Namun, untuk memperluas jangkauan ke pasar internasional, potensi itu perlu didukung dengan peningkatan konsistensi kualitas, kebersihan dan keamanan pangan, inovasi produk, penguatan merek, serta strategi pemasaran yang sesuai dengan karakter pasar sasaran.


Di sisi lain, pengembangan gastronomi juga dapat dilakukan melalui festival kuliner, promosi budaya, pengalaman wisata berbasis makanan, serta kolaborasi antara restoran, hotel, pelaku UMKM, dan industri perjalanan.


Dengan pendekatan tersebut, kuliner tidak hanya menjadi produk yang dikonsumsi, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata yang membuat pengunjung mengenal lebih jauh budaya dan kehidupan masyarakat Minangkabau.


Fadly berharap, apabila Padang berhasil masuk dalam jaringan kota kreatif dunia, peluang untuk mengembangkan kegiatan berskala internasional akan semakin terbuka.


“Apabila kita sudah masuk dalam jaringan kota kreatif dunia, kita akan memiliki kesempatan mengembangkan berbagai kegiatan berskala internasional. Kita bisa dorong agar pameran gastronomi dapat diselenggarakan di Kota Padang, dan berbagai event internasional,” ungkapnya.


Penyelenggaraan kegiatan internasional berpotensi mendatangkan pengunjung, memperluas jejaring bisnis, serta membuka kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk dan layanan mereka kepada pasar yang lebih luas.


Namun, manfaat tersebut akan lebih optimal apabila kegiatan internasional diikuti dengan kesiapan destinasi, aksesibilitas, fasilitas, kualitas layanan, dan keterlibatan pelaku usaha lokal secara langsung.


Dengan demikian, agenda gastronomi diharapkan tidak berhenti pada penyelenggaraan acara, tetapi menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun reputasi Padang sebagai kota kuliner yang memiliki daya saing.


Pemerintah Siapkan Iklim Usaha dan Investasi yang Kondusif


Di tengah besarnya peluang tersebut, Fadly Amran menegaskan komitmen Pemerintah Kota Padang untuk menciptakan iklim usaha yang sehat dan mendukung pertumbuhan sektor gastronomi.


Komitmen itu diwujudkan melalui upaya memberikan kemudahan berusaha dan investasi, meningkatkan kualitas pelayanan perizinan, serta melakukan pembenahan lingkungan dan pembangunan infrastruktur.


Kemudahan perizinan menjadi salah satu aspek penting bagi pelaku usaha yang ingin mengembangkan bisnis maupun bagi investor yang hendak menanamkan modal. Pelayanan yang lebih efektif dan kepastian proses administrasi dapat membantu menciptakan lingkungan usaha yang lebih menarik.


Sementara itu, pembenahan lingkungan dan infrastruktur turut menentukan kenyamanan masyarakat serta pengalaman wisatawan. Kawasan usaha kuliner yang tertata, lingkungan yang bersih, akses yang memadai, dan fasilitas publik yang baik dapat meningkatkan daya tarik destinasi sekaligus mendukung keberlangsungan kegiatan ekonomi.


Fadly menilai, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam mengembangkan sektor ini. Pelaku usaha perlu mengambil peran melalui inovasi, peningkatan kualitas produk, penguatan pelayanan, dan kemauan untuk berkolaborasi.


Sebaliknya, pemerintah berkewajiban menghadirkan kebijakan dan pelayanan yang mampu menjawab kebutuhan dunia usaha tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat serta keberlanjutan lingkungan.


Keseimbangan tersebut diperlukan agar pertumbuhan gastronomi tidak hanya menguntungkan pelaku usaha besar, tetapi juga membuka kesempatan bagi UMKM, usaha keluarga, dan pelaku kuliner tradisional untuk berkembang.


Kolaborasi Menjadi Kunci Daya Saing Gastronomi Padang


Melalui pertemuan tersebut, Pemerintah Kota Padang mendorong agar komunikasi antara pemerintah dan pelaku usaha dapat berlanjut menjadi kerja sama yang konkret.


Fauzan Ibnovi berharap, kolaborasi lintas sektor mampu memperluas peluang investasi, meningkatkan daya saing kuliner lokal, serta memperkuat posisi Padang di tingkat nasional maupun internasional.


“Melalui kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha, kami berharap sektor gastronomi dapat terus berkembang, memperluas peluang investasi, meningkatkan daya saing kuliner lokal, serta memperkuat posisi Kota Padang di tingkat nasional maupun internasional,” tuturnya.


Harapan tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk membangun ekosistem gastronomi yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, pengusaha kuliner, hotel, restoran, agen perjalanan, komunitas kreatif, hingga masyarakat sebagai penjaga tradisi kuliner.


Kolaborasi dapat diarahkan pada promosi bersama, penyelenggaraan festival, peningkatan kapasitas pelaku UMKM, pengembangan paket wisata gastronomi, serta perluasan jejaring pemasaran. Upaya tersebut juga dapat membantu menghubungkan pelaku usaha kecil dengan pasar wisatawan dan peluang investasi yang lebih besar.


Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan gastronomi tidak hanya diukur dari jumlah usaha, besarnya omzet, atau ramainya agenda promosi. Ukuran lainnya adalah sejauh mana pertumbuhan tersebut meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat identitas budaya, menciptakan kesempatan kerja, dan memberikan ruang bagi usaha lokal untuk tumbuh secara berkelanjutan.


Dengan sekitar 20.791 pelaku usaha kuliner aktif, omzet sektor perhotelan, restoran, dan hiburan yang mencapai sekitar Rp1,7 triliun pada 2025, serta peluang dari puluhan ribu jemaah umrah setiap tahun, Padang memiliki modal ekonomi yang patut diperhitungkan.


Kini, tantangannya adalah mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan yang terorganisasi, inovatif, dan mampu bersaing di pasar global.


Melalui sinergi pemerintah dan dunia usaha, Padang berupaya menjadikan gastronomi bukan sekadar kebanggaan kuliner, melainkan juga instrumen pembangunan ekonomi, penguatan kebudayaan, dan jalan untuk membawa nama Kota Padang semakin dikenal di tingkat internasional.


(Mond)


#Padang #Daerah #Gastronomi

×
Berita Terbaru Update