
Peluncuran AR Smart Book “CariTopia” dan Gernasbaku 2026, Dorong Minat Baca Anak di Kota Padang
D'On, Padang - Upaya menumbuhkan budaya membaca di kalangan anak-anak terus dilakukan dengan berbagai pendekatan kreatif. Tidak lagi sekadar menghadirkan buku dalam bentuk konvensional, penguatan literasi kini mulai dipadukan dengan perkembangan teknologi agar membaca menjadi aktivitas yang lebih menarik, interaktif, dan dekat dengan dunia anak.
Semangat tersebut terlihat dalam peluncuran AR Smart Book “CariTopia” sekaligus peringatan Gerakan Nasional Budaya Literasi (Gernasbaku) 2026 yang digelar di Ruang Teater Mini Perpustakaan Umum Daerah Kota Padang, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Komunitas Kreasi Andalas Nusantara bekerja sama dengan Paud Terpadu Hauriyah Halum tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Literasi Nasional sekaligus Hari Kunjung Pustaka.
Peluncuran CariTopia menjadi salah satu momentum penting dalam mendorong transformasi literasi anak. Konsep buku pintar berbasis Augmented Reality (AR) menawarkan pengalaman membaca yang tidak hanya bertumpu pada teks dan gambar, tetapi juga memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif.
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat, Rahmat. Hadir pula perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, serta para siswa yang merupakan perwakilan dari lima sekolah dasar dan lima taman kanak-kanak di Kota Padang.
Para peserta datang didampingi orang tua dan tenaga pendidik. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa gerakan literasi tidak hanya membutuhkan peran sekolah dan pemerintah, tetapi juga keterlibatan keluarga serta lingkungan pendidikan.
Membawa Literasi ke Dunia Anak
Bagi anak-anak, tantangan literasi hari ini bukan semata-mata bagaimana mereka bisa membaca, tetapi bagaimana membaca dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan sehingga tumbuh menjadi kebiasaan.
Karena itu, inovasi seperti CariTopia memiliki relevansi tersendiri. Teknologi AR dapat menjadi jembatan antara buku sebagai sumber pengetahuan dengan dunia digital yang sudah akrab dengan generasi anak-anak.
Dengan pendekatan tersebut, buku tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang monoton. Anak-anak dapat diperkenalkan pada pengalaman literasi yang lebih visual, interaktif, dan kontekstual, tanpa meninggalkan substansi utama membaca dan memahami isi buku.
Kehadiran siswa dari berbagai jenjang pendidikan dalam kegiatan tersebut juga menjadi pesan bahwa budaya membaca perlu dibangun sejak usia dini.
Literasi yang kuat tidak lahir secara instan. Ia tumbuh melalui kebiasaan, lingkungan yang mendukung, ketersediaan bahan bacaan yang berkualitas, serta cara penyampaian yang sesuai dengan karakter anak.
27 Judul Legenda Minangkabau untuk Perpustakaan Kota Padang
Momentum peluncuran CariTopia juga diwarnai dengan penyerahan hibah buku untuk memperkaya koleksi Perpustakaan Umum Daerah Kota Padang.
Secara simbolis, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat Rahmat menyerahkan buku cerita legenda Minangkabau sebanyak 27 judul dengan total 54 eksemplar.
Hibah tersebut memiliki nilai penting bukan hanya dari sisi penambahan jumlah koleksi, tetapi juga dalam memperkuat bahan bacaan yang mengandung nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal.
Legenda Minangkabau yang dikemas dalam bahan bacaan anak dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk mengenalkan generasi muda terhadap akar budaya daerahnya. Anak-anak tidak hanya diajak membaca, tetapi sekaligus mengenal cerita, nilai, tokoh, serta pesan moral yang berkembang dalam tradisi masyarakat Minangkabau.
Dengan demikian, perpustakaan memiliki peran yang lebih luas: bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang untuk mempertemukan anak dengan pengetahuan, kebudayaan, kreativitas, dan pengalaman belajar.
Heriza: Literasi Harus Mengikuti Perubahan Zaman
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Heriza Syafani menilai pengembangan budaya baca harus mampu mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan substansi literasi itu sendiri.
Menurutnya, teknologi seharusnya tidak ditempatkan sebagai lawan dari buku. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai instrumen untuk membuat buku semakin menarik dan relevan bagi generasi muda.
“Literasi hari ini tidak cukup hanya mengajak anak membaca, tetapi bagaimana kita menghadirkan pengalaman membaca yang sesuai dengan perkembangan zaman. Teknologi dan buku tidak harus dipertentangkan. Keduanya justru bisa berjalan bersama untuk membangun budaya baca yang lebih menarik bagi anak,” ujar Heriza.
Ia menegaskan, kehadiran CariTopia menjadi contoh bahwa inovasi dapat digunakan untuk mendekatkan anak dengan dunia literasi.
Namun, menurutnya, teknologi tetap harus ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan utama.
“Teknologinya boleh berkembang, medianya boleh berubah, tetapi substansinya tetap sama, yakni membangun anak yang gemar membaca, mampu memahami informasi, berpikir kritis, dan memiliki wawasan yang luas. Jangan sampai teknologi justru membuat anak menjauh dari membaca. Kita ingin teknologi menjadi pintu masuk agar anak semakin mencintai buku dan pengetahuan,” katanya.
Heriza juga menyampaikan apresiasi terhadap berbagai pihak yang ikut mendorong penguatan ekosistem literasi di Kota Padang.
Menurutnya, gerakan literasi akan lebih kuat apabila dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, orang tua, komunitas, dunia pendidikan, serta masyarakat.
“Membangun budaya baca tidak bisa dilakukan oleh satu institusi saja. Pemerintah menyediakan ruang dan fasilitas, sekolah menguatkan pembelajaran, orang tua membangun kebiasaan di rumah, sementara komunitas dapat menghadirkan kreativitas dan inovasi. Kalau semua bergerak dalam arah yang sama, ekosistem literasi kita akan semakin kuat,” tutur Heriza.
Buku, Teknologi dan Kearifan Lokal
Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan literasi anak memang semakin kompleks. Anak-anak memiliki akses terhadap berbagai sumber informasi, tetapi kemampuan untuk memilah, memahami, dan menggunakan informasi secara tepat harus terus dibangun.
Karena itu, penguatan budaya baca sejak usia dini menjadi investasi jangka panjang.
Kehadiran koleksi legenda Minangkabau di Perpustakaan Umum Daerah Kota Padang juga memberikan dimensi lain dalam gerakan literasi. Anak-anak perlu diperkenalkan pada bacaan yang tidak hanya memperkaya pengetahuan umum, tetapi juga membangun kedekatan mereka dengan identitas dan budaya daerah.
Heriza menilai perpustakaan harus terus bertransformasi menjadi ruang publik yang ramah anak dan mampu menjawab kebutuhan generasi masa kini.
“Perpustakaan harus hadir sebagai ruang yang hidup. Anak datang bukan karena diwajibkan, tetapi karena merasa nyaman, tertarik, dan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan. Ketika perpustakaan mampu menghadirkan buku yang berkualitas, teknologi yang tepat, kegiatan yang kreatif, dan suasana yang ramah anak, maka minat baca akan tumbuh secara alami,” jelasnya.
Membangun Kebiasaan, Bukan Sekadar Seremoni
Peringatan Gernasbaku 2026 dan peluncuran CariTopia pada akhirnya bukan sekadar kegiatan seremonial. Lebih jauh, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa budaya literasi harus dibangun secara konsisten dan berkelanjutan.
Sebab, keberhasilan gerakan literasi tidak semata-mata diukur dari berapa banyak buku yang diluncurkan atau berapa banyak kegiatan membaca yang digelar. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana anak-anak mulai menjadikan membaca sebagai bagian dari keseharian mereka.
Dengan dukungan pemerintah daerah, satuan pendidikan, orang tua, komunitas, dan perpustakaan, Kota Padang memiliki ruang yang semakin besar untuk membangun ekosistem literasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus tetap berakar pada budaya lokal.
Peluncuran CariTopia dan penyerahan 27 judul buku legenda Minangkabau menjadi bagian dari ikhtiar tersebut.
Sebab, membangun generasi literat bukan hanya soal membuat anak mampu membaca kata demi kata. Lebih dari itu, literasi adalah upaya menumbuhkan generasi yang mampu memahami dunia, menyaring informasi, mengenali budayanya, berpikir kritis, serta memiliki rasa ingin tahu yang terus hidup.
Dan semua itu dapat dimulai dari satu hal sederhana: membuat anak jatuh cinta pada buku dan pengetahuan sejak usia dini.
(Mond)
#Padang #Daerah #Literasi