Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bukan Sekadar Ganti Nama, Pemkab Padang Pariaman Dorong BIM Jadi Bandara Internasional Syekh Burhanuddin

23 September 2026 | September 23, 2026 WIB Last Updated 2026-09-23T04:17:37Z

Bukan Sekadar Ganti Nama, Pemkab Padang Pariaman Dorong BIM Jadi Bandara Internasional Syekh Burhanuddin (Dok: Zoe)



D'On, Padang Pariaman -  Nama Bandara Internasional Minangkabau (BIM) berpotensi berganti. Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman tengah mendorong agar salah satu pintu gerbang utama Sumatera Barat itu menyandang nama Syekh Burhanuddin, ulama besar yang memiliki jejak sejarah kuat dalam perkembangan Islam di Ranah Minang.


Gagasan tersebut kini mulai dibawa ke tingkat pemerintah pusat. Pemkab Padang Pariaman mengaku telah menyampaikan usulan pergantian nama BIM kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.


Bagi pemerintah daerah, rencana tersebut bukan sekadar mengganti nama sebuah bandara. Ada sejarah, identitas, dan penghormatan terhadap tokoh besar Minangkabau yang ingin dihadirkan melalui nama tersebut.


Bupati Padang Pariaman John Kenedy Aziz mengatakan, usulan itu lahir setelah pihaknya melihat banyak bandara di berbagai daerah di Indonesia menggunakan nama tokoh yang memiliki jasa besar bagi daerah maupun bangsa.


Mulai dari nama pejuang kemerdekaan, tokoh daerah, hingga tokoh agama, telah digunakan sebagai identitas sejumlah bandara di Indonesia.


Kami sudah mengajukannya kepada Kementerian Perhubungan melalui Dirjen Perhubungan Udara. Karena kita menimbang, bandara-bandara pada umumnya di Indonesia adalah nama pejuang. Baik pejuang kemerdekaan maupun pejuang agama,” ujar John Kenedy Aziz usai meresmikan pergantian nama RSUD Padang Pariaman menjadi RSUD Muslim Kasim, Senin (21/9).


Menurutnya, penamaan fasilitas publik dengan nama tokoh bukan sesuatu yang asing. Sejumlah bandara di Indonesia telah menggunakan nama tokoh yang dianggap memiliki jasa dan pengaruh besar dalam sejarah daerahnya.


Di antaranya Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, Bandara Hang Nadim di Batam, Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali, Bandara Sultan Iskandar Muda di Aceh, serta Bandara Sultan Syarif Kasim II di Riau.


Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan Pemkab Padang Pariaman untuk mengusulkan nama tokoh yang memiliki akar sejarah kuat dengan Sumatera Barat.


Dan nama yang kemudian mengemuka adalah Syekh Burhanuddin.


Mengapa Syekh Burhanuddin?


Pemilihan nama Syekh Burhanuddin bukan keputusan tanpa alasan.


Bagi Pemkab Padang Pariaman, sosok Syekh Burhanuddin memiliki kedudukan penting dalam perjalanan sejarah keislaman di Minangkabau. Kiprah dan pengaruhnya sebagai ulama besar telah melekat kuat dalam kehidupan keagamaan masyarakat Sumatera Barat.


Jejak sejarah Syekh Burhanuddin bahkan tidak hanya dipandang sebagai bagian dari sejarah Padang Pariaman, tetapi juga menjadi bagian penting dari perjalanan Islam di Minangkabau.


Karena itu, pemerintah daerah melihat penamaan bandara internasional dengan nama Syekh Burhanuddin dapat menjadi bentuk penghormatan terhadap jasa dan warisan sejarah ulama tersebut.


Bagaimana kiprah ulama besar Syekh Burhanuddin, tentu kita semua sudah tahu. Untuk itu kami sedang melakukan lobi-lobi, mudah-mudahan Bandara Internasional Minangkabau bisa juga kita ubah menjadi Bandara Internasional Syekh Burhanuddin,” kata John.


Usulan itu sekaligus diharapkan dapat memperkenalkan nama Syekh Burhanuddin kepada masyarakat yang lebih luas.


Sebab, setiap hari BIM menjadi salah satu gerbang yang menghubungkan Sumatera Barat dengan berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, melalui penerbangan internasional, nama yang terpampang di bandara juga berpotensi menjadi bagian dari identitas Sumatera Barat yang dikenal oleh masyarakat dari luar negeri.


Dengan demikian, apabila perubahan nama tersebut terealisasi, nama Syekh Burhanuddin tidak hanya hadir dalam ruang sejarah dan keagamaan, tetapi juga melekat pada salah satu infrastruktur transportasi paling strategis di Ranah Minang.


Pemkab Ingin Secepatnya


Meski usulan telah disampaikan ke Kementerian Perhubungan, Pemkab Padang Pariaman masih harus menempuh sejumlah tahapan dan membangun dukungan dari berbagai pihak.


John Kenedy Aziz menyebut pemerintah daerah akan segera melakukan komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan DPRD Sumbar.


Audiensi tersebut dinilai penting untuk menyampaikan secara langsung gagasan perubahan nama BIM sekaligus membangun dukungan bersama sebelum proses lebih lanjut dilakukan di tingkat pemerintah pusat.


Untuk target, secepatnya. Kami akan audiensi dulu dengan Gubernur Sumbar dan DPRD Sumbar. Namun hasrat kami tentunya sudah ada, dengan mempertimbangkan bandara-bandara yang ada di Indonesia ini kebanyakan adalah nama-nama pejuang di daerah setempat,” ujar mantan Anggota DPR RI tersebut.


Dengan langkah itu, Pemkab Padang Pariaman ingin memastikan usulan perubahan nama BIM tidak berhenti sebagai gagasan pemerintah kabupaten, tetapi menjadi pembahasan yang melibatkan pemerintah provinsi dan pemangku kepentingan terkait.


Dari Minangkabau ke Syekh Burhanuddin


Nama Bandara Internasional Minangkabau selama ini telah menjadi identitas yang melekat dengan Sumatera Barat. Karena itu, wacana perubahan nama tentu menjadi isu yang memiliki dimensi lebih luas dibandingkan sekadar perubahan administratif.


Di satu sisi, nama Minangkabau merepresentasikan identitas kultural yang sangat luas. Di sisi lain, Pemkab Padang Pariaman ingin menghadirkan sosok Syekh Burhanuddin sebagai representasi sejarah dan perjuangan keagamaan yang memiliki akar kuat di wilayah tersebut.


Di titik inilah usulan tersebut menjadi menarik.


Perubahan nama BIM nantinya bukan hanya soal apa yang tertulis di papan nama bandara. Lebih jauh, nama yang dipilih akan menjadi simbol yang dibawa oleh setiap orang yang datang dan pergi melalui gerbang udara Sumatera Barat.


Bagi Pemkab Padang Pariaman, Syekh Burhanuddin dianggap memiliki jejak sejarah yang layak ditempatkan dalam ruang publik strategis tersebut.


Kini, bola berada dalam proses pembahasan dan mekanisme pemerintah yang berwenang.


Pemkab Padang Pariaman memastikan akan terus melakukan komunikasi dan lobi agar usulan tersebut dapat diproses. Audiensi dengan Gubernur Sumbar dan DPRD Sumbar menjadi langkah berikutnya yang akan ditempuh.


Apakah Bandara Internasional Minangkabau nantinya benar-benar berubah menjadi Bandara Internasional Syekh Burhanuddin, masih menunggu proses dan keputusan sesuai ketentuan yang berlaku.


Namun satu hal sudah dimulai: gagasan mengganti nama salah satu gerbang utama Sumatera Barat itu kini telah dibawa ke meja pemerintah pusat.


(Mond)


#SumateraBarat #BandaraInternasionalMinangkabau

×
Berita Terbaru Update