Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kelas Bahasa Isyarat #3 Perpustakaan Padang: Membangun Ruang Inklusi, Menembus Batas Komunikasi

21 August 2026 | August 21, 2026 WIB Last Updated 2026-08-21T08:37:56Z

Kelas Bahasa Isyarat #3 Perpustakaan Padang: Membangun Ruang Inklusi, Menembus Batas Komunikasi



D'On, Padang — Upaya menghadirkan perpustakaan sebagai ruang belajar yang terbuka dan ramah bagi seluruh lapisan masyarakat terus dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang. Salah satunya melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang kembali menghadirkan Kelas Bahasa Isyarat #3, Jumat (21/8/2026).


Kegiatan yang berlangsung di Studio Mini Perpustakaan Umum Daerah Kota Padang tersebut menghadirkan Rumah Inklusi Padang sebagai narasumber. Sebanyak 16 peserta mengikuti kelas yang menjadi kelanjutan dari rangkaian pembelajaran Bahasa Isyarat sebelumnya.


Kelas ketiga ini tidak sekadar menjadi kegiatan pembelajaran bahasa alternatif. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membangun kesadaran bahwa komunikasi merupakan hak setiap orang, termasuk masyarakat penyandang disabilitas tuli.


Melalui pengenalan Bahasa Isyarat, peserta diajak memahami cara berkomunikasi yang lebih inklusif, sekaligus membangun keberanian untuk berinteraksi secara setara dengan teman-teman tuli.


Kehadiran Rumah Inklusi Padang sebagai narasumber juga memberikan warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teori, tetapi diarahkan untuk memahami Bahasa Isyarat sebagai bagian dari kebutuhan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.


Program ini memperlihatkan bahwa perpustakaan tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat menyimpan dan membaca buku. Perpustakaan terus berkembang menjadi ruang publik yang mempertemukan masyarakat dengan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, sekaligus nilai-nilai kemanusiaan.


Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang, Heriza Syafani, menegaskan bahwa semangat inklusi harus diwujudkan melalui kegiatan nyata, bukan berhenti pada slogan.

 

“Perpustakaan harus menjadi ruang yang bisa diakses dan dirasakan manfaatnya oleh semua orang. Karena itu, inklusi bukan sekadar membuka pintu bagi masyarakat, tetapi juga memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkomunikasi, dan berkembang,” ujar Heriza.


Menurutnya, kelas Bahasa Isyarat menjadi salah satu bentuk konkret bagaimana perpustakaan dapat mengambil peran dalam membangun masyarakat yang lebih peka terhadap keberagaman.

 

“Belajar Bahasa Isyarat pada dasarnya bukan hanya belajar gerakan tangan. Kita sedang belajar memahami orang lain, belajar menghilangkan sekat komunikasi, dan belajar bahwa perbedaan cara berkomunikasi tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi seseorang dalam memperoleh pengetahuan maupun berinteraksi di tengah masyarakat,” katanya.


Heriza menambahkan, pelaksanaan kelas Bahasa Isyarat secara berkelanjutan menunjukkan adanya kebutuhan sekaligus antusiasme masyarakat terhadap ruang pembelajaran yang lebih inklusif.


Kelas yang telah memasuki pertemuan ketiga tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, pekerjaan maupun ruang pelayanan publik.

 

“Kami ingin peserta tidak hanya datang, belajar, lalu selesai. Harapannya, pengetahuan Bahasa Isyarat yang diperoleh dapat dibawa pulang dan dipraktikkan. Semakin banyak orang yang memahami Bahasa Isyarat, semakin kecil pula hambatan komunikasi yang dihadapi teman-teman tuli,” tutur Heriza.


Ia menilai, perpustakaan memiliki posisi strategis dalam membangun ekosistem pembelajaran tersebut karena perpustakaan merupakan ruang publik yang terbuka bagi siapa saja.

 

“Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial berarti mengubah cara pandang kita terhadap perpustakaan. Perpustakaan harus hadir menjawab kebutuhan masyarakat. Ketika masyarakat membutuhkan ruang untuk belajar Bahasa Isyarat, maka perpustakaan harus mampu menjadi salah satu ruang yang memfasilitasinya,” tegasnya.


Melalui TPBIS, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang terus mendorong agar keberadaan perpustakaan memberikan dampak sosial yang lebih luas. Kelas Bahasa Isyarat menjadi salah satu contoh bahwa pengetahuan dapat menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat.


Di tengah kehidupan sosial yang semakin beragam, kemampuan untuk memahami dan menghargai cara berkomunikasi orang lain menjadi bagian penting dari masyarakat inklusif.


Kelas Bahasa Isyarat #3 akhirnya bukan hanya tentang bagaimana menggerakkan tangan untuk menyampaikan pesan. Lebih dari itu, kegiatan ini mengajarkan satu hal mendasar: setiap manusia berhak didengar, dipahami, dan diberi ruang yang sama untuk terhubung dengan sesamanya.


Dari sebuah ruang kecil di Studio Mini Perpustakaan Umum Daerah Kota Padang, semangat inklusi itu terus dibangun pelan, konsisten, dan diharapkan mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas.


(Mond)


#Padang #Daerah #Disperpusip

×
Berita Terbaru Update