Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menjaga Api Perjuangan " Singa Betina" Mandeh Siti Manggopoh dari Tanah Rantau

15 June 2026 | June 15, 2026 WIB Last Updated 2026-06-15T13:28:09Z

Menjaga Api Perjuangan " Singa Betina" Mandeh Siti Manggopoh dari Tanah Rantau



D'On, Padang - Di tengah riuhnya kehidupan Kota Padang, sekelompok perantau asal Nagari Manggopoh berkumpul bukan sekadar untuk melepas rindu dan bersalam-salaman. Mereka datang membawa satu tujuan yang lebih besar: merawat ingatan sejarah agar tidak hilang ditelan zaman.


Itulah semangat yang mewarnai kegiatan Halalbihalal yang digelar Ikatan Keluarga Besar Manggopoh (IKBM) Kota Padang, Senin (15/6/2026). Sebuah agenda tahunan yang tak hanya menjadi ruang mempererat silaturahmi, tetapi juga momentum menyalakan kembali semangat perjuangan para pendahulu.


Bertempat di sebuah kafe di kawasan GOR Haji Agus Salim Kota Padang, puluhan warga Manggopoh yang menetap di perantauan hadir dengan satu kesadaran yang sama: sejauh apa pun melangkah, akar sejarah tak boleh ditinggalkan.


Kegiatan ini terasa begitu istimewa karena diawali dengan ziarah ke makam pahlawan perempuan kebanggaan Ranah Minang, Mandeh Siti Manggopoh, sosok legendaris yang memimpin Perang Manggopoh pada 1908 melawan kebijakan pajak (belasting) kolonial Belanda yang dikenal dengan julukan "Singa Betina Ranah Minang".


Sebelum duduk bersama dalam suasana kekeluargaan, rombongan terlebih dahulu mendatangi Taman Makam Pahlawan (TMP) Kuda Putih, Lolong, Kota Padang. Di sanalah Mandeh Siti Manggopoh beristirahat untuk selamanya setelah wafat pada Agustus 1965.


Tabur bunga dan lantunan doa menjadi bahasa penghormatan yang sederhana, namun sarat makna. Di hadapan pusara sang pejuang, para perantau seakan diingatkan kembali bahwa kemerdekaan dan harga diri bangsa lahir dari keberanian orang-orang yang tak pernah gentar menghadapi penjajahan.


Ketua IKBM Kota Padang, Jufri Nur, SE, MM, mengatakan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan upaya menjaga warisan nilai yang telah ditinggalkan oleh para pendahulu.


“Ziarah ini bukan sekadar rutinitas, melainkan refleksi batin bagi kita para perantau. Di makam ini bersemayam raga seorang ibu, seorang pejuang yang spiritnya tidak boleh padam di hati anak cucu Manggopoh, terutama yang sedang berjuang di rantau orang,” ujarnya.


Bagi masyarakat Manggopoh, Mandeh Siti Manggopoh bukan hanya tokoh sejarah yang namanya tertulis di buku pelajaran. Ia adalah simbol keberanian, keteguhan prinsip, dan pengorbanan yang harus terus hidup dalam kehidupan sehari-hari.


Nilai-nilai itulah yang ingin diwariskan kepada generasi penerus. Mulai dari keberanian menghadapi tantangan hidup di perantauan, membangun kepedulian sosial melalui semangat saciok bak ayam, sadanciang bak basi, hingga tetap berkontribusi bagi pembangunan kampung halaman.


Di tengah derasnya arus modernisasi, tantangan terbesar justru terletak pada menjaga identitas generasi muda yang lahir dan tumbuh di rantau. Sebab, tanpa upaya mengenalkan sejarah, bukan tidak mungkin mereka akan kehilangan jejak asal-usulnya sendiri.


Karena itu, kisah heroik Perang Manggopoh dan perjuangan Mandeh Siti Manggopoh menjadi bagian penting yang harus terus diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Menjelang akhir acara, suasana pun kembali menghangat. Warga duduk bersila menikmati hidangan khas kampung halaman, diselingi canda, tawa, dan cerita tentang kampung yang selalu dirindukan.


Satu per satu tangan saling berjabat, menghapus sekat dan mempererat persaudaraan.


Halalbihalal IKBM Kota Padang pada akhirnya bukan hanya tentang pertemuan tahunan. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa sebuah komunitas akan tetap kuat selama ingatannya terhadap sejarah tetap terjaga.


Sebab, di balik nama besar Manggopoh, ada jejak perjuangan yang tidak boleh dilupakan. Dan di tangan para perantau hari ini, api perjuangan itu terus dijaga agar tetap menyala sepanjang masa.


(Mond)


#IKBM #SitiManggopoh #Tokoh

×
Berita Terbaru Update