
Dari Setetes Darah untuk Ribuan Harapan: Hendra Pebrizal Menumbuhkan Budaya Kemanusiaan di Lingkungan Perumda AM Kota Padang
D'On, Padang - Di balik tugas besar memastikan air bersih mengalir ke ribuan rumah warga Kota Padang setiap hari, Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumda AM) Kota Padang ternyata juga sedang mengalirkan sesuatu yang jauh lebih berharga: harapan hidup bagi sesama manusia.
Rabu (24/6/2026) pagi, suasana di halaman parkir Kantor Perumda AM Kota Padang tampak berbeda. Tidak ada sekat jabatan, tidak ada perbedaan status antara pimpinan dan pegawai. Yang terlihat justru semangat kebersamaan yang berpadu dengan nilai kemanusiaan.
Satu per satu karyawan duduk di kursi donor, mengulurkan lengannya dengan penuh kesadaran bahwa darah yang mereka berikan hari itu akan menjadi harapan bagi seseorang yang sedang berjuang melawan penyakit, menjalani operasi, ataupun bertahan hidup di ruang perawatan rumah sakit.
Bagi sebagian orang, donor darah mungkin hanya berlangsung sekitar 15 menit. Namun bagi orang yang membutuhkan, waktu singkat tersebut bisa menjadi penentu antara harapan dan keputusasaan.
Direktur Utama Perumda AM Kota Padang, Hendra Pebrizal, memandang kegiatan tersebut bukan sekadar agenda rutin perusahaan, melainkan sebuah gerakan sosial yang harus terus ditumbuhkan sebagai budaya bersama.
Menurutnya, perusahaan yang sehat bukan hanya diukur dari pencapaian kinerja, laba, ataupun kualitas pelayanan publik yang diberikan, tetapi juga dari seberapa besar kepeduliannya terhadap kehidupan manusia.
"Selama ini masyarakat mengenal Perumda AM sebagai perusahaan yang mengalirkan air bersih. Namun lebih dari itu, kami ingin menghadirkan budaya kepedulian. Sebab pada akhirnya, perusahaan hadir bukan hanya untuk melayani kebutuhan masyarakat, tetapi juga untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan tetap hidup," ujar Hendra.
Ia mengajak seluruh karyawan yang memiliki kondisi tubuh sehat untuk menjadikan donor darah sebagai bagian dari gaya hidup dan bentuk tanggung jawab sosial.
Sebab, menurutnya, stok darah di Palang Merah Indonesia (PMI) tidak pernah benar-benar aman jika hanya mengandalkan donor ketika ada kondisi darurat.
"Sering kali orang baru mencari darah ketika musibah datang. Padahal kebutuhan darah di rumah sakit tidak pernah berhenti. Ada ibu melahirkan, pasien kecelakaan, penderita talasemia, pasien operasi, hingga penderita kanker yang setiap hari membutuhkan bantuan kita. Karena itu, donor darah harus menjadi budaya, bukan sekadar kegiatan seremonial," katanya.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan cenderung individualistis, Hendra menilai donor darah menjadi pengingat bahwa manusia tetap saling bergantung satu sama lain.
Ia menyampaikan sebuah pesan sederhana namun sangat mendalam.
"Teknologi sudah berkembang sangat pesat, tetapi sampai hari ini belum ada mesin yang bisa menciptakan darah manusia. Artinya, kehidupan seseorang masih sangat bergantung pada kepedulian manusia lainnya. Inilah yang membuat donor darah menjadi sangat istimewa."
Baginya, mendonorkan darah merupakan bentuk sedekah yang paling universal. Tidak memandang suku, agama, jabatan, maupun status sosial.
"Ketika darah itu mengalir ke tubuh pasien, kita tidak pernah tahu siapa yang menerimanya. Bisa jadi seorang ibu, seorang anak, seorang ayah, bahkan seseorang yang belum pernah kita kenal seumur hidup. Tetapi di situlah letak keindahan kemanusiaan. Kita membantu tanpa syarat dan tanpa pamrih."
Selain menjadi investasi sosial, donor darah juga menjadi investasi kesehatan bagi para pendonor.
Hendra menjelaskan, donor darah yang dilakukan secara rutin dan sesuai prosedur medis dapat membantu menjaga kesehatan jantung, melancarkan sirkulasi darah, mengontrol kadar zat besi dalam tubuh, merangsang pembentukan sel darah merah baru, sekaligus menjadi sarana deteksi dini terhadap sejumlah penyakit menular.
Namun, menurutnya, manfaat terbesar bukan hanya terletak pada aspek fisik, melainkan pada ketenangan batin yang dirasakan setelah membantu sesama.
"Ada kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang ketika kita mengetahui bahwa sebagian dari diri kita mampu menyelamatkan kehidupan orang lain. Perasaan itulah yang menjadi energi positif bagi kesehatan mental seseorang."
Di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini, Hendra berharap gerakan donor darah dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk memperkuat solidaritas dan empati sosial.
Ia ingin semangat berbagi terus tumbuh, tidak hanya di lingkungan Perumda AM Kota Padang, tetapi juga menginspirasi berbagai instansi pemerintah, perusahaan, komunitas, dan masyarakat luas.
"Jangan menunggu kaya untuk membantu sesama. Jangan menunggu menjadi tokoh besar untuk berbuat baik. Ketika tubuh kita sehat, sesungguhnya kita sudah memiliki modal yang sangat berharga untuk menyelamatkan kehidupan orang lain."
Di akhir pesannya, Hendra menyampaikan satu kalimat yang menjadi refleksi mendalam bagi semua orang.
"Air bersih yang kami distribusikan menghidupi kota ini setiap hari. Tetapi darah yang kita donorkan hari ini, mungkin sedang menghidupkan masa depan seseorang. Karena sejatinya, peradaban yang maju bukan hanya tentang pembangunan fisik, melainkan tentang seberapa besar kepedulian manusia terhadap manusia lainnya."
Dari halaman parkir sederhana itu, lahirlah sebuah pesan besar. Bahwa kemanusiaan tidak selalu hadir dalam tindakan yang rumit dan megah.
Kadang, kemanusiaan hanya dimulai dari keberanian seseorang untuk menggulung lengan bajunya, mengulurkan tangan, dan membiarkan setetes darahnya mengalir menjadi kehidupan bagi orang lain.
(Mond)
#PerumdaAirMinum #Daerah #Padang