D'On, Israel - Seorang warga negara Indonesia (WNI) bernama Hendro mengaku mengalami penyiksaan brutal saat ditahan tentara Israel usai mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Gaza.
Pengakuan mengejutkan itu disampaikan Hendro kepada Koordinator Global Peace Convoy Indonesia sekaligus Steering Committee Global Sumud Flotilla, Maimon Herawati, setelah dirinya dibebaskan dan tiba di Istanbul, Turki.
Dalam video yang diunggah Global Peace Convoy pada Jumat (22/5/2026), Hendro memperlihatkan kondisi matanya yang memar akibat diduga dipukul aparat Israel selama penahanan.
“Mata saya ditonjok sampai memar,” ujar Hendro.
Tak hanya itu, Hendro juga mengaku mengalami kekerasan fisik lain berupa penyetruman dan tendangan dari aparat militer Israel.
“Saya disetrum dua kali, ditendang dua kali,” ungkapnya.
Hendro merupakan satu dari sembilan WNI yang sempat ditahan militer Israel setelah armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla dicegat di perairan internasional ketika sedang berlayar menuju Gaza membawa misi solidaritas kemanusiaan.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri memastikan seluruh WNI dalam rombongan tersebut kini telah dibebaskan dan meninggalkan wilayah Israel untuk transit di Istanbul sebelum dipulangkan ke Tanah Air.
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, sebelumnya juga mengecam tindakan terhadap para relawan kemanusiaan yang ditahan Israel. Pemerintah Indonesia menilai perlakuan tersebut bertentangan dengan prinsip kemanusiaan dan hukum humaniter internasional.
Kasus penahanan relawan Global Sumud Flotilla kini memicu kecaman internasional setelah berbagai kesaksian dan video dugaan kekerasan aparat Israel terhadap aktivis sipil dari sejumlah negara mulai bermunculan.
Hingga kini, pihak Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan penyiksaan yang disampaikan Hendro.
(L6)
#Internasional #Peristiwa #Kekerasan
