
Lautan Manusia di Jantung Dharmasraya: Ketika UMKM, Musik, dan Harapan Menyatu dalam Satu Malam
D'On, DHARMASRAYA — Senja baru saja turun di langit Dharmasraya, namun kawasan Kantor Bupati justru semakin hidup. Lampu-lampu mulai menyala, aroma makanan menyeruak di udara, dan alunan musik perlahan mengisi ruang. Malam itu, Sabtu (18/04/2026), bukan malam biasa. Ribuan orang tumpah ruah, menyatu dalam satu perayaan: Bazaar UMKM dan Live Music yang menjelma menjadi magnet kebahagiaan warga.
Di antara riuh tawa dan langkah kaki yang tak putus, stan-stan UMKM berdiri berjejer. Dari makanan tradisional hingga minuman kekinian, semua tersaji menggoda. Para pelaku usaha tampak sibuk melayani pembeli yang silih berganti, seakan waktu berjalan lebih cepat dari biasanya.
Di tengah keramaian itu, Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani hadir bersama Wakil Bupati Leli Arni dan sejumlah pejabat daerah. Namun malam itu, jabatan seolah melebur. Mereka tak hanya menjadi pemimpin, tetapi juga bagian dari masyarakat yang larut dalam suasana hangat penuh kebersamaan.
“Ini bukan sekadar hiburan,” ujar Annisa, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh musik dan sorak pengunjung. “Ini adalah ruang bagi UMKM kita untuk tumbuh, untuk dikenal, dan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.”
Apa yang disampaikan Annisa bukan tanpa alasan. Malam itu menjadi bukti nyata bagaimana geliat ekonomi bisa tumbuh dari ruang-ruang sederhana. Doni (35), seorang pedagang makanan dan minuman, bahkan nyaris tak percaya dengan hasil yang ia peroleh.
“Biasanya paling ratusan ribu. Ini bisa lebih dari tiga juta rupiah,” katanya sambil tersenyum lebar, sesekali melayani pembeli yang terus berdatangan. Baginya, bazaar ini bukan sekadar acara, melainkan peluang yang selama ini dinanti.
Namun Dharmasraya malam itu bukan hanya soal jual beli. Panggung hiburan menjadi pusat perhatian berikutnya. Ketika artis Minang Andri Dharma naik ke atas panggung, suasana berubah menjadi lautan energi. Lagu “Tabola Bele” menggema, mengajak penonton bergoyang, bernyanyi, dan melupakan sejenak rutinitas harian.
Tak hanya musik modern, sentuhan budaya juga terasa kental. Denting gamelan dari kelompok Karawitan Mugi Rahayu berpadu dengan gerak luwes tari Minang kontemporer dari Sanggar Pulau Jaya. Perpaduan ini menghadirkan harmoni unik antara tradisi dan kekinian yang jarang ditemukan dalam satu panggung.
Di sudut lain, Yuni (38) terlihat duduk santai bersama keluarganya. Anak-anaknya berlarian, sementara ia dan suaminya menikmati makanan sambil sesekali menoleh ke arah panggung.
“Ini yang kita butuhkan,” ujarnya. “Tempat hiburan keluarga yang nyaman. Kami bisa makan, menikmati musik, dan anak-anak juga senang.”
Malam semakin larut, namun keramaian belum juga surut. Justru, semangat yang terasa semakin menguat. Pemerintah daerah pun menangkap sinyal itu. Bazaar ini bukan sekadar acara sesaat, melainkan awal dari sesuatu yang lebih besar.
Rencananya, salah satu sudut taman di kawasan Kantor Bupati akan disulap menjadi lokasi tetap bazaar UMKM. Sebuah ruang yang kelak tak hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga titik temu kebahagiaan masyarakat. Bahkan, gaungnya direncanakan akan menjalar ke kecamatan-kecamatan lain, membawa semangat yang sama ke lebih banyak tempat.
Di Dharmasraya malam itu, orang-orang tidak hanya datang untuk membeli atau menonton. Mereka datang untuk merasakan bahwa di tengah kesibukan dan tantangan hidup, masih ada ruang untuk berkumpul, tertawa, dan berharap.
Dan dari riuh bazaar itu, satu hal menjadi jelas: ketika UMKM diberi panggung, budaya diberi ruang, dan masyarakat diberi alasan untuk berkumpul, maka yang lahir bukan sekadar acara melainkan denyut kehidupan yang nyata.
(Papa Juan)
#Daerah #KabupatenDharmasraya #UMKM