D'On, Inggris - Dunia kembali menahan napas. Di tengah memuncaknya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Keir Starmer mengambil langkah yang tak biasa.bahkan bisa disebut berani dengan menggalang 35 negara untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa melibatkan Donald Trump dan Amerika Serikat.
Langkah ini bukan sekadar diplomasi biasa. Ini adalah sinyal keras bahwa Inggris siap mengambil peran kepemimpinan global di tengah krisis yang berpotensi mengguncang ekonomi dunia.
Krisis di Nadi Energi Dunia
Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia serta sepertiga distribusi pupuk global melintas di perairan sempit ini. Namun kini, jalur vital tersebut lumpuh akibat blokade parsial oleh Iran sebagai respons atas serangan militer AS dan Israel.
Dampaknya brutal:
- Sekitar 1.000 kapal terjebak di kawasan
- Hanya 130 kapal yang berhasil melintas sejak konflik jumlah yang biasanya terjadi dalam satu hari
- Rantai pasok global terancam, termasuk pangan dunia
Dalam situasi seperti ini, setiap jam keterlambatan bukan sekadar angka tetapi ancaman nyata bagi stabilitas global.
Inggris Ambil Alih Kendali, AS Ditinggalkan
Dalam pernyataannya, Starmer menegaskan bahwa Inggris bersama Prancis akan memimpin fase baru upaya internasional melalui pertemuan tingkat tinggi yang digelar Kamis (2/4/2026).
Pertemuan ini akan dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, serta para pemimpin dari Eropa, Asia, hingga Timur Tengah.
Namun yang paling mencolok: Amerika Serikat tidak diundang.
Keputusan ini muncul setelah Trump secara terbuka menyatakan bahwa keamanan Selat Hormuz sebaiknya menjadi tanggung jawab negara lain jika AS menghentikan operasi militernya terhadap Teheran.
Bahkan, Trump melontarkan ancaman ekstrem:
“Kami akan meledakkan Iran hingga terlupakan… kembali ke Zaman Batu!”
Pernyataan ini memperkeruh suasana dan justru mendorong sekutu-sekutu Barat untuk mengambil jalur berbeda tanpa Washington.
Diplomasi atau Kekuatan Militer?
Starmer menegaskan bahwa solusi tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan. Ia mendorong kombinasi:
- Diplomasi intensif
- Kekuatan militer terkoordinasi
- Kemitraan dengan industri pelayaran dan energi
Menurutnya, tantangan utama bukan lagi soal biaya atau asuransi, melainkan keamanan nyata di lapangan.
“Ini bukan soal asuransi. Ini soal keselamatan kapal dan pelaut,” tegasnya.
Setelah pertemuan diplomatik, perencana militer Inggris akan langsung bergerak menyusun skenario pengamanan jalur termasuk kemungkinan pengawalan kapal tanker.
Iran Tegas: Selat Tetap Ditutup
Di sisi lain, Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengirim pesan tegas:
Selat Hormuz tidak akan dibuka bagi “musuh-musuh bangsa.”
Teheran menegaskan bahwa wilayah tersebut berada di bawah kendali penuh angkatan laut mereka, memperkecil peluang solusi cepat.
Taruhan Besar: Ekonomi Dunia
Langkah Inggris ini bukan tanpa risiko. Jika gagal:
- Harga energi global bisa melonjak drastis
- Distribusi pangan terganggu
- Ketegangan militer bisa meningkat ke konflik terbuka yang lebih luas
Namun jika berhasil, Inggris akan muncul sebagai kekuatan penyeimbang baru dalam geopolitik global mengisi ruang yang ditinggalkan oleh AS.
Jalan Panjang yang Penuh Risiko
Starmer sendiri tidak menutup-nutupi realitas pahit.
“Saya harus jujur ini tidak akan mudah.”
Membersihkan dan mengamankan jalur Selat Hormuz, bahkan setelah konflik mereda, diperkirakan akan memakan waktu lama. Ancaman ranjau laut, sabotase, hingga ketegangan militer masih membayangi.
Dunia kini menyaksikan babak baru dalam perebutan pengaruh global. Inggris bergerak cepat, menggalang kekuatan internasional tanpa Amerika Serikat, untuk membuka kembali salah satu jalur paling vital di planet ini.
Pertanyaannya:
Apakah ini awal dari kepemimpinan baru global atau justru pemicu konflik yang lebih besar?
(CNBC)
#Internasional #SelatHormuz #Inggris
