-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jejak Pituah yang Tak Pernah Padam: Selamat Jalan Angku Yus Dt. Parpatiah Guguak

28 March 2026 | March 28, 2026 WIB Last Updated 2026-03-28T11:24:42Z


Angku Yus Datuak Parpatiah Guguak telah berpulang.



D'On, Sumatera Barat - Kabar duka itu datang menjelang senja, saat langit Ranah Minang perlahan meredup, Sabtu (28/3/2026). Di sebuah rumah tua yang sarat sejarah dan nilai adat Rumah Tuo Suku Sikumbang di Sungai Batang seorang penjaga warisan budaya mengembuskan napas terakhirnya.


Angku Yus Datuak Parpatiah Guguak telah berpulang.


Namun, kepergiannya bukan sekadar kehilangan satu sosok. Ia adalah hilangnya satu suara yang selama puluhan tahun menuntun, menegur, dan memeluk hati orang Minangkabau baik yang tinggal di kampung halaman maupun yang merantau jauh.


Di Minangkabau, kata-kata bukan sekadar bunyi. Ia adalah marwah. Ia adalah arah.


Dan Angku Yus adalah salah satu penjaganya.


Lewat gurindam, petatah-petitih, mamangan, hingga pituah yang ia lantunkan, ia menghidupkan kembali nilai-nilai lama agar tetap relevan di tengah dunia yang terus berubah. Suaranya, yang terekam dalam ratusan kaset sejak akhir 1970-an, menjelma menjadi teman perjalanan diputar di rumah gadang, di warung kopi, hingga di kamar sempit para perantau yang rindu kampung halaman.


Bagi banyak orang, mendengar suaranya serasa pulang.


Ada nasihat yang lembut, ada teguran yang dalam, ada pula pengingat tentang siapa diri orang Minangkabau sebenarnya.


Lahir di Maninjau, 7 April 1939, dengan nama Yusbir, perjalanan hidupnya tidak pernah jauh dari adat. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai-nilai tradisi. Namun, seperti banyak orang Minang lainnya, hidupnya juga ditempa oleh rantau.


Dari Sumatera Barat ke Sumatera Utara, lalu ke Palembang, hingga akhirnya menetap di Jakarta pada 1976 rantau menjadi ruang belajar, sekaligus ladang pengabdian.


Di sanalah ia mulai merangkai satu hal yang kelak menjadi warisan besarnya: menjadikan adat sebagai sesuatu yang bisa didengar, dipahami, dan dirasakan oleh siapa saja.


Pada tahun 1965, ia dinobatkan sebagai Datuak Rajo Mangkuto, sebuah posisi penting dalam struktur adat. Hingga kemudian ia mengemban amanah sebagai Panghulu suku Caniago di Sungai Batang.


Namun, bagi Angku Yus, gelar bukanlah tujuan. Ia adalah tanggung jawab.


Sejak 1978 hingga 1995, ia menghasilkan sekitar 130 episode rekaman sebuah capaian luar biasa di masanya. Di tengah keterbatasan teknologi, ia memilih kaset sebagai medium. Bukan tanpa alasan.


Ia ingin adat bisa sampai ke telinga, bukan hanya tertulis di buku.


Dan benar saja, karyanya menembus batas. Dari ranah hingga rantau, bahkan hingga mancanegara, suara Angku Yus menjadi pengikat identitas.


Bagi generasi muda, ia adalah guru.
Bagi ninik mamak, ia adalah pengingat.
Bagi perantau, ia adalah kampung halaman itu sendiri.


Di masa tuanya, ia kembali ke Sungai Batang. Pulang, bukan untuk beristirahat, melainkan untuk mengajar.


Rumahnya terbuka bagi siapa saja. Anak muda datang untuk belajar adat, ninik mamak berdiskusi memperdalam pemahaman, dan masyarakat umum mencari jawaban atas kegelisahan mereka tentang jati diri.


Di sanalah falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” tidak hanya diucapkan, tetapi dihidupkan.


Ia tidak sekadar menyampaikan adat. Ia menjadikannya napas kehidupan.


Selain rekaman, ia juga mulai menulis. Buku “Menyikap Wajah Minangkabau” menjadi salah satu upayanya merawat warisan dalam bentuk yang lebih abadi. Ia bahkan merancang karya lanjutan tentang sejarah Sungai Batang dan pendidikan adat berbasis surau sebuah konsep yang ingin ia hidupkan kembali di tengah modernitas.


Namun, tak semua rencana sempat selesai.


Waktu berkata lain.


Kini, suara itu telah berhenti.


Namun gema pituahnya tidak.


Ia tetap hidup di setiap kalimat nasihat yang diingat, di setiap gurindam yang diulang, di setiap anak muda yang mulai bertanya tentang adatnya sendiri.


Kepergian Angku Yus adalah kehilangan besar. Tapi juga pengingat: bahwa warisan sejati tidak pernah benar-benar pergi.


Ia tinggal di hati, di ingatan, dan dalam setiap langkah orang Minangkabau yang berusaha tetap tegak di tengah perubahan zaman.


Selamat jalan, Angku.


Pituahmu akan terus menjadi pelita.


(Mond)


#SumateraBarat #Padang

×
Berita Terbaru Update