D'On, Iran - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memuncak. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Teheran tidak lagi membuka ruang dialog dengan Washington setelah rangkaian serangan militer yang terjadi sejak akhir Februari.
Dalam wawancara dengan PBS News, Araghchi menyampaikan bahwa Iran merasa berkali-kali dikhianati setiap kali mencoba menempuh jalur diplomasi dengan Amerika. Ia menyebut ironi besar terjadi ketika pembicaraan disebut mengalami kemajuan, justru aksi militer muncul sebagai jawabannya.
Menurutnya, kepercayaan Iran terhadap Washington kini nyaris habis.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran juga memperingatkan bahwa serangan balasan akan terus dilanjutkan terhadap pihak yang mereka anggap sebagai agresor, termasuk Israel. Pemerintah Iran menegaskan bahwa Teheran sendiri yang akan menentukan kapan konflik ini berakhir.
Di dalam negeri, gelombang dukungan publik juga terlihat menguat. Warga Iran dilaporkan turun ke jalan memberikan dukungan terhadap kepemimpinan Mojtaba Khamenei serta menuntut pembalasan atas korban yang mereka sebut sebagai martir.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, bahkan menegaskan bahwa Teheran tidak sedang mencari gencatan senjata.
Menurutnya, Iran justru sedang mempersiapkan balasan keras terhadap apa yang mereka tuduhkan sebagai agresi dari Amerika dan Israel.
Di tengah memanasnya situasi tersebut, sebuah kalimat simbolik yang viral di media sosial Iran menggambarkan kemarahan publik yang sedang memuncak:
“Selama bulan Ramadhan, kami tidak berbicara dengan setan.”
Ungkapan itu menjadi simbol kuat dari sikap sebagian masyarakat Iran yang menilai konflik ini bukan sekadar persoalan geopolitik, tetapi juga menyangkut harga diri, keyakinan, dan perlawanan terhadap tekanan dari Barat.
(*)
#Internasional #Iran
